Gubernur: Tawuran Pelajar Bukti Sentuhan Guru Kurang!

Gubernur Soekarwo saat resmikan lembaga pendidikan di Ujung Pangkah.

Gresik, (DOC)- Gubernur Jatim Soekarwo menegaskan, banyaknya aksi tawuran pelajar, merupakan bukti kurangnya sentuhan yang diberikan para pendidik pada anak didiknya. Salah satu kelemahan model pembelajaran berbasis teknologi yang selama ini dipogramkan justru mencetak generasi yang individual.

Menurut  Pakde Karwo –panggilan Soekarwo–, dengan sapaan dan sentuhan dari guru dan kiai, maka kekerasan pada murid tidak  akan terjadi. Karena dengan adanya sentuhan ini akan terjalin kedekatan antara guru dan muridnya.

“Jangan menyerahkan pendidikan pada teknologi sepenuhnya. Karena dengan di sapa, di tepuk-tepuk punggungnya, murid bisa merasakan kedekatan. Dari sinilah muncul spirit untuk maju,”ujar Pakde Karwo  saat meresmikan lembaga pendidikan SDIT, SMK, TKJ dan Keperawatan, TPQ  dan Madin di  Yayasan Ponpes Roudlotul Hikmah Ujung Pangkah Gresik, kemarin.

Kegiatan yang dihadiri sekitar 1.200 wali santri ini, Pakde Karwo berharap sekolah Islam di Gresik tidak meninggalkan budaya ngaji sorogan kitab kuning. Karena merupakan budaya ulama salafiyah dalam membangun kedekatan dan karakter diantara santrinya. Tetapi muatan pelajaran umum dan teknologi juga jangan ditinggalkan.

Lebih lanjut Gubernur mengatakan, untuk menghilangkan diskriminasi antara pendidikan formal dan keagamaan, Pemprop Jatim mulai 2010 telah mengucurkan dana Bosda untuk Pendidikan Madarasah, Diniyah dan Pondok Pesantren.

“Untuk program itu sendiri sebanyak Rp 3 Triliun dana pendidikan dari APBD propinsi tahun 2010  diambil sebanyak Rp 950 miliar untuk menuntaskan program tersebut. Untuk Ula (SD) 15 ribu, untuk Wustho (SMP)  sebesar Rp 25 ribu,

Ustadnya Rp 300 ribu per bulan,”beber Gubernur.

Program tersebut dilakukan untuk menyeimbangkan pendidikan agar tidak terjadi tumpang tindih dengan program pendidikan dari pusat. Karena selama ini Bos dari pemerintah pusat belum menyentuh pendidikan diniyah yang sama-sama bertujuan membangun dan meningkatkan sumberdaya manusia (SDM)

Bupati Gresik Dr  Sambari dalam sambutannya mengatakan,  pendidikan bernuansa  Islam di Gresik maju pesat. Dia merinci, saat ini hampir 2.000 lebih sekolah islam. Sedangkan  sekolah umum hanya 800. “Meskipun Gresik daerah industri dan  pelabuhan, tetapi perkembangan Islam terus bertkembang. Ini terlihat  seperti eksisnya kegiatan  yasinan, dzikir dan lain-lain,”katanya.

Dengan adanya Bosda dari Pemprop ini, Sambari merasa sangat terbatu. Ini karena, meski 23,5   persen APBD Gresik untuk pendidikan. Tetapi tidak  banyak yang dialokasikan untuk pendikan Islam. (R-12/R-9)