Harga Karet Dunia Anjlok

Tidak ada komentar 142 views

Jakarta, (DOC) – Hampir 70 persen karet alam dunia dihasilkan di Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Namun dalam beberapa bulan ini harga karet turun drastis. Hal ini membuat para petani, khususnya di Kepulauan Bangka Belitung, menjerit. Betapa tidak, dibanding pada akhir tahun 2013, harga karet mampu mencapai Rp.8.000 per Kg, tetapi saat ini hanya mampu menembus Rp 6500/Kg.
Anggota Komisi IV DPR-RI, Anton Sukartono Suratto mengatakan, petani sebaiknya harus siap menghadapi harga yang berfluktuasi. “Ini bisa terjadi dalam waktu yang laama. Karena menurut saya, turunnya harga karet sekarang ini baru akibat tidak langsung. Sementara akibat langsungnya aadalah ketika nanti krisis Eropa semakin merambah ke negara-negara lainnya,” jelas Anton.
Dikatakan Anton, solusi terbaik yang harus dilakukan adalah dengan mengatur supply dari demand melalui kementerian perdagangan. Untuk mengatasi fluktuatifnya harga komoditas, kata Anton, pemerintah harus mampu mendorong pengembangan industri hilir dan industri hulu domestik. Karena pengembangan hilir domestik, menurut Anton dapat mengurangi ketergantungan sektor perkebunan terhadap situasi pasar komoditas primer internasional.
Lebih jauh Anton yang kini menjadi Caleg Partai Demokrat Daerah Pemilihan Jabar V ini menjelaskan, saat ini Indonesia baru memanfaatkan tidak lebih 13 persen produksi karet alam nasional untuk industri hilir. Sementara, katanya, mengingat 85 persen dari luas perkebunan karet Indonesia merupakan perkebunan rakyat, maka mereka mampu menghasilkan produk karet alam sebanyak 2,210 juta ton.
Sementara, katanya, perusahaan perkebunan (BUMN) menghasilkan 252,000 ton, dan perkebunan besar swasta diperkirakan mampu memproduksi 274 000 ton karet alam pada tahun 2010 dan menjadi 276 000 ton pada tahun 2011. “Masalahnya, tinggal bagaimana pemerintah memberikan berbagai skema insentif kepada para investor untuk mengembangkan industri karet ini dengan menyediakan teknologi,” papar pria yang kerap disapa Kang Anton ini.
Sementara, dari sektor hulu, jelasnya, pemerintah diharapkan juga membantu petani dalam mengintensifikasi tanaman karet, sehingga para petani tidak perlu memiliki lahan yang luas. Akan tetapi, bagaimana petani dapat meningkatkan produktivitasnya dari 1000 kg menjadii 1500-1800 kg/hektar.
Tokoh wanita Bangka Beliitung, Ir. Kartini Tilawati M.Hum berkomentar, harga karet selama ini memang ditentukan oleh harga karet dunia. “Jadi, ketika pasaran harga di dunia turun maka pasaran harga di tingkat petani juga akan turun. Nah, mestinya petani tidak hanya mengandalkan produksi karet, tetapi bagaimana agar mereka diiversifikasi tanaman-tanaman yang menguntungkan atau komoditas pertanian lain yang bisa menopang penghidupan mereka,” jelas Kartini.
Lebih jauh Caleg Partai Demokrat Daerah Pemilihan Bangka Belitung ini menjelaskan, selama ini tidak ada skema harga berjangka pada komoditas karet seperti pada komoditas kopi. “Hal inilah mungkin yang bisa dilakukan terhadap komoditas karet alam di Indonesia. Solusi lain mungkin, pemerintah ada baiknya menyediakan dana untuk membeli karet kepada petani hingga mencapai titik harga break event point yang mebuat petani tidak terlalu merugi,” pungkas Kartini. (r4)