Hari Anak Nasional, Apa Kabar Pendidikan Anak Bangsa?

Foto : ilustrasi

Tulungagung,(DOC) – Kurang beberapa hari lagi, bangsa Indonesia akan memperingati HUT Kemerdekaan RI ke-73, tepatnya pada tanggal 17 Agustus 2018 mendatang.

Usia yang semakin tua ini, tentunya telah membawa berbagai perubahan yang cukup signifikan bagi kemajuan negeri. Dulu sebelum dikumandangkan Proklamasi Kemerdekaan RI oleh Presiden Pertama Ir. Soekarno di tahun 1945 lalu, para pejuang banyak yang berguguran di medan perang mengusir penjajah.

Untuk melanjutkan cita-cita para pejuang atas kebaikan Negri ini, perlu generasi penerus bangsa yang bermental baja dan handal dalam segala bidang.

Anak – anak penerus bangsa ini, merupakan asset negri yang wajib di rawat terutama level pendidikannya.

Bertepatan dengan peringatan Hari Anak Nasional, yang jatuh pada hari Senin 23 Juli 2018, Negri ini perlu mengevaluasi dan memperbaiki sistem pendidikan anak-anak bangsa yang merupakan asset berharga.

Pendidikan merupakan amanat UUD 1945 yang tertuang di pasal 31 ayat 1 dan 2. Disebutkan di aturan itu, bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan, setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya.

Jika dicermat di daerah perkotaan, pendidikan anak bangsa memang terbilang telah memadahi. Tapi tidak bagi anak bangsa yang berada di daerah terpencil. Banyak anak bangsa yang putus sekolah atau bersekolah dengan fasilitas kurang.

Maka fenomena inilah yang perlu di evaluasi dan diperbaiki kembali untuk mempertegas tujuan pendidikan.

Dalam undang-undang (UU) nomer 20 tahun 2003, telah tertuang tujuan pendidikan yang berbunyi “Pendidikan bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

Sudahkan bangsa ini memiliki tujuan pendidikan yang demikian?.

Beberapa hari terakhir ini, merupakan hari anak bangsa mulai masuk bangku sekolah dari satu jenjang ke jenjang selanjutnya.

Mulai dari pendidikan usia dini (PAUD), anak usia 4 tahun mulai bersekolah di Taman Kanak – Kanak(TK), anak usia 7 tahun masuk kejenjang sekolah dasar(SD), begitu seterusnya ke sekolah menengah pertama (SMP), sekolah menengah atas (SMA), hingga menjadi berkuliah menjadi mahasiswa. Namun sayangnya, masih banyak anak bangsa yang salah mengartikan pendidikan yang sebenarnya.

Mereka berlomba untuk bisa masuk ke sekolah dan kampus favorit dengan bebagai cara. Di sisi lain, masih banyak di daerah terpencil yang tidak terlalu memperhatikan pendidikan. Kecilnya minat untuk bersekolah mempengaruhi daya pikir anak untuk masa depan.

Pendidikan anak bangsa saya rasa sudah tidak lagi efisien sebagaimaa tujuan yang tercantum. Tujuan pendidikan kini hanyalah menjadi bunga angan bagi bangsa.

Maka perlu adanya perubahan mindset anak bangsa untuk menyeimbangkan hak-hak pendidikan bagi setiap orang. Komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas) HAM, beberapa bulan lalu menyatakan bahwa pendidikan kini masih jauh dari kata berhasil.

Karena dunia pendidikan Indonesia saat ini sedang dalam kondisi darurat. Darurat dalam pelanggaran HAM, darurat karena ranking pendidikan Indonesia buruk. Dan kondisi darurat yang terjadi lantaran banyak kasus korupsi yang berkaitan dengan anggaran pendidikan.

Sesuai dengan catatan Indonesia Corruption Watch (ICW) 2005-2016 terdapat 425 kasus korupsi terkait anggaran pendidikan. Parahnya korupsi tersebut dilakukan oleh pelaku dengan berbagai tingkatan.

Maka yang perlu diperbaiki untuk mencapai pendidikan bangsa Indonesia lebih baik adalah sikap dan prilaku saling bahu-membahu antara masyarakat dan pemerintah. Untuk terus menggalakkan pendidikan Indonesia semakin baik dengan berbagai gerakan.

Gerakan bersama dalam memberantas korupsi, gerakan bersama pemuda peduli pendidikan, gerakan relawan mengajar dan motivasi pendidikan di desa terpencil. Hingga peran anak bangsa dalam meningkatkan minat belajar, minat membaca dan minat meraih prestasi meningkat.

Merubah mindset anak bangsa bahwa pendidikan yang baik bukanlah dilihat dari seberapa bagus sekolah. Namun pendidikan yang baik adalah bagaimana proses dan minat anak bangsa untuk terus berusaha mengembangkan potensi dalam belajar.

Meraih prestasi dengan berbagai karya. Maka disitulah Indonesia akan bangkit dengan anak-anak bangsa yang membanggakan. Untuk melanjutkan estafet pembangunan bangsa menjadi lebih baik. Dan tujuan pendidikan akan terwujud tidak hanya tertuang dalam tulisan, namun dengan wujud nyata. Selamat Hari Anak Nasional.

Penulis : Dhea Alfina Damatussolah (Kader HMI Cabang Tulungagung)

foto : Dhea Alfina Damatussolah