Indonesia Gandeng 2 Negara Lepas Ketergantungan pada Dolar Amerika

Ilustrasi mata uang dolar amerika dan rupiah.

Jakarta, (DOC) – Pemerintah Indonesia menggandeng Malaysia dan Thailand menyepakati gerakan bersama untuk bisa lepas dari ketergantungan pada mata uang dolar Amerika Serikat. Kesepakatan itu dituangkan dalam bentuk Local Currency Settlement (LCS) Framework.

LCS bertujuan untuk mengurangi penggunaan dolar Amerika sebagai mata uang utama dalam transaksi perdagangan bilateral ketiga negara. LCS diterapkan karena perdagangan bilateral antar ketiga negara terus meningkat setiap tahunnya.

Kepala Departemen Pendalaman Pasar Keuangan Bank Indonesia (BI), Nanang Hendarsah menjelaskan, peluncuran LCS untuk memfasilitasi negara yang menjadi mitra dagang.

“LCS ini karena didorong oleh kebutuhan ketiga negara sangat tinggi, sehingga dibutuhkan cara untuk mengurangi dolar AS sebagai mata uang utama dalam perdagangan internasional,” kata Nanang, kemarin.

Nanang menjelaskan, skala perdagangan ekspor dan impor ketiga negara terus meningkat, dengan mengurangi ketergantungan ketiga negara terhadap dolar AS akan mengurangi kerentanan ketiga negara terhadap shock eksternal, diversifikasi eksposur mata uang.

“Kemudian juga bisa mengurangi biaya transaksi karena keharusan mengonversi ke dolar AS dan pengembangan pasar mata uang regional,” ujarnya.

Nanang menjelaskan dengan kerja sama ini diharapkan biaya yang dikeluarkan bisa lebih murah. “Biasanya kalau mau transaksi menggunakan Thailand Baht kan harus beli dolar AS dulu, kalau sekarang langsung beli kan spread-nya lebih kecil,” ujar Nanang.

Selain itu, kerja sama ini akan mendorong pengembangan pendalaman pasar keuangan. Yakni mengurangi ketergantungan valuta asing (valas) dolar AS.

Gubernur Bank of Thailand, Veerathai Santiprabhop menjelaskan kerja sama ini bisa mengurangi ketergantungan penggunaan dolar AS yang volatil. Kemudian ini juga akan mempercepat transaksi antar negara dengan mengurangi step yang biasanya lebih banyak dilakukan di pasar keuangan.

“Kerja sama ini akan membuat transaksi perdagangan dan hubungan antar negara bisa lebih baik,” jelas Veerathai.

Gubernur Bank Negara Malaysia (BNM) Muhammad bin Ibrahim mengungkapkan peluncuran local currency settlement framework ini bisa mendorong menggunakan mata uang lokal pada transaksi perdagangan antar negara.

“Ini akan memberikan dampak signifikan kepada negara karena bisa mempercepat transaksi pembayaran tanpa harus membeli USD terlebih dahulu,” imbuh dia.(dtc/ziz)