Ini Motif Warga Cimahi Simpan Jenazah Ayah-Anak

Cimahi (DOC) – Kasus penyimpanan dua jenazah di Cimahi yang menghebohkan warga ternyata didasari atas kepercayaan akan adanya kehidupan kedua. Neneng Hatidjah (76) dan salah satu anaknya, Denny Rohmat (42) mengaku dengan sadar menyimpan jasad suaminya (ayah Denny) dan anaknya (kakak perempuan Denny) untuk bangkit kembali menjalani kehidupan kedua.

“Bahwa penjelasannya tidak menguburkan karena dapat hidayah dari Allah SWT melalui malaikat. Katanya (Hanung dan Hera) akan dihidupkan kembali untuk menjalani kehidupan kedua,” kata Kapolsek Cimahi Selatan, AKP Sutarman menirukan pengakuan kedua pelaku.

Neneng Hatidjah dan Denny Rohmat menyimpan jenazah Hanung Sobana (84) dan Hera Sri Herawati (50) di dalam kamar di rumah mereka yang terletak di Komplek Cijerah II, Gang Nusaindah 6 Blok 13 No 117, RT 7 RW 17, Kota Cimahi, Jawa Barat. Kedua jenazah itu telah meninggal masing-masing pada 2016 dan 2017. Saat ditemukan petugas Puskesmas dan polisi, kedua jenazah telah menjadi tumpukan tulang belulang.

Sutarman menambahkan, Neneng Hatidjah dan dua anaknya yang masih hidup, Denny dan Erna Hendrasari percaya jika Hanung dan Hera akan kembali bernyawa setelah meninggal karena sakit.

“Oleh sebab itu selama bertahun-tahun jenazah dirawat oleh mereka,” katanya.

Sutarman menyebut, pihak keluarga setiap tiga hari sekali mengganti kain penutup jasad dan memperlakukan layaknya orang masih hidup.

“Dilap, dibersihkan tulang belulangnya. Kain selimut tiga hari sekali ganti. Sebagaimana memperlakukan orang tidur,” tutur Sutarman.

Bahkan, dia melanjutkan, saat ditemukan di kamar itu kerangka Hanung ditidurkan di atas dipan dengan alas kasur yang telah diberi penghangat listrik.

“Jadi sudah selayaknya orang tidur,” ucap Sutarman.

Sementara itu, Psikolog Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, Teddy Hidayat menilai, tindakan yang dilakukan Neneng dan Denny bukan merupakan gangguan kejiwaan (gila). Namun lebih mengarah kepada keyakinan yang menyimpang.

Teddy mengakui, dalam tradisi di daerah tertentu tidak menguburkan mayat anggota keluarganya. Namun, mayat tersebut disimpan di suatu tempat sehingga anggota keluarga masih bisa melihat tulang belulangnya pada kemudian hari.

“Itu kan enggak masalah karena memang sudah tradisi di situ. Tapi kalau ini dilakukan di rumah, nah itu sudah suatu penyimpangan atau tidak lazim,” kata Teddy.

Menurutnya, keyakinan menyimpang tersebut kemungkinan besar dipengaruhi oleh gangguan penilaian (kognitif eror). Gangguan tersebut membuat seseorang tidak bisa menilai perbuatan yang baik atau buruk.

Dalam kasus ini, kata dia, keluarga itu menganggap tinggal bersama anggota keluarga yang sudah meninggal merupakan hal wajar. Pasalnya, sambung dia, hal itu bukan merupakan sesuatu yang salah menurut keyakinan mereka.

“Dia tidak bisa membedakan bahwa itu baik atau buruk, dilarang atau tidak. Jadi dia pikir itu yang paling baik dijalani. Jadi gangguannya bukan berarti gangguan gila, tapi dari penilaiannya yang terganggu (kognitif eror), tidak bisa berpikir logis,” tutur dia.(dtc/ziz)