Ini Sejumlah Fakta Unik di Film Yo Wis Ben

Tidak ada komentar 320 views

Surabaya, (DOC) — Film Yo Wis Ben besutan rumah produksi ibukota Starvision benar-benar membuat gebrakan berani dengan bahasa percakapan full bahasa jawa gaul anak muda Jawatimuran. Animo anak muda Surabaya sekitarnya bahkan Malang pun membuncah menyaksikan premiere film ini, Sabtu (17/2/2018) lalu.

Produser Chand Parwez Servia mengungkapkan, ada setiap potensi besar pada suatu film yang mengangkat bahasa lokal. Tak terkecuali di Jawa Timur. Terlebih lewat sentuhan segar untuk anak muda film berbahasa Jawa pun diyakini tetap berpotensi mendulang banyak penonton.

“Ada banyak potensi. Saya pernah juga bikin bahasa sunda beberapa tahun silam. Lalu saya mikir, Kenapa nggak production house dari jakarta seperti kami memfasilitasinya?” ujar Chand.

Chand menceritakan, dirinya awalnya dikenalkan kepada Bayu Skak oleh Raditya Dika beberapa waktu silam. Produser ini pun dengan tangan terbuka menerima segala ide yang masuk.

Ibarat gayung bersambut, Bayu Skak selaku co-director, rupanya sudah memiliki skrip skenario yang pernah dibuatnya beberapa waktu terakhir. Chand merasa ada ide unik yang bisa diwujudkan dalam kerjasama mereka.

“Saya lihat ada pemain lokal yang luar biasa. Ide cerita yang segar dan Bayu Skak sudah punya potensi besar di Jawa timur,” ujarnya.

Impian Bayu Skak untuk membuat film dengan bahasa jawa dan mengangkat ide ceritanya pun akhirnya terwujud. Sutradara Fajar Nugros dipilih agar bisa menekankan semangat anak muda jawa yang berapi-api. Terlebih sutradara ini juga asli berasal dari Yogyakarta.

“Ini adalah impian terpendam saya. Kenapa tidak saya angkat budaya asli sesuai tempat kelahiran saya. Bahasa jawa yang kental dan kita pakai sehari-hari,” ujarnya kepada awak media.

Film Yo Wis Ben akan tayang serentak pada 22 Februari besok di bioskop tanah air. Sesuai informasi yang kami himpun dari premiere perdana di Surabaya (Sabtu 17/2/2018), berikut inilah beberapa fakta unik di balik Film Yo Wes Ben karya Bayu Skak dan Fajar Nugros.

1. Judul Yo Wis Band diganti Yo Wis Ben

Bayu Skak mengungkapkan, judul film yang diusulkannya awalnya adalah Yo Wis Band. Pasalnya sesuai jalan cerita, Bayu, tokoh utama film ini membuat grup band agar jadi beken. Namun belakangan, judul itu tidak disetujui sang produser Chand Parwez lantaran dinilai terlalu dangkal karena cenderung ke arah musikal.

Sedangkan, Yo Wis Ben diyakini lebih mewakili keseluruhan cerita yang menampilkan dialog anak muda jawa timur. “Yo Wis Ben dianggap lebih luas dan diartikan masyarakat lebih bermakna jawa dan umum untuk para penonton,” ujar Bayu Skak.

2. Tokoh Utama awalnya Bagas bukan Bayu

Bila sesuai susunan skenario awal bikinan Bayu Skak yang diajukan kepada produser, tokoh utama, si anak tukang penjual pecel ini bernama Bagas. Namun lagi-lagi, sang produser menolak penamaan tersebut. Justru Chand meminta Bayu memakai nama panggilan aslinya agar lebih hidup.

“Bayu sendiri kan sudah dikenal namanya. Lalu kenapa pakai Bagas? Dengan nama Bayu tentu penonton lebih akrab dan mengenal eksistensinya,” ujar Chand.

3. Cerita Fiksi, Bukan Pengalaman Pribadi

Kisah kehidupan tokoh utama Bayu, siswa SMA sederhana, anak pemilik warung pecel dan seluruh cerita di Yo Wis Ben ternyata murni sebagai cerita fiktif hasil tulisan Bayu Skak. Penulisan cerita terinspirasi dari sebuah lagu yang sebelumnya diciptakan Bayu Skak bersama bandnya.

Cerita yang dibuat sama sekali bukan sebuah pengalaman nyata dari penulis atau pemeran utama dari tokoh Bayu. “Semua tokoh dan jalan cerita adalah fiktif belaka. Bukan pengalaman hidup saya. Ibu saya nggak pernah jualan pecel kok,” kelakar Bayu Skak.

4. Bahasa Jawa yang Dipakai adalah Jowoan Jogja, hingga Jawa Timuran

Hampir seluruh adegan percakapan film ini berbahasa jawa. Namun, bahasa jawa yang digunakan tenyata tidak hanya melulu pada boso jowo Suroboyoan atau boso walikan Malang saja. Beberapa pemeran juga ada yang berdialog jowoan Solo atau Jogja.

“Hal ini biar semua masyarakat jawa bisa turut menerima dan bangga. Bahwa bahasa jawa kita sendiri sudah cukup kaya dengan dialek berbeda meskipun masih dalam satu daratan pulau,” tandas Bayu Skak.

5. Subtitel Film Dibikin 4 Hari, 4 Malam

Bagi penonton film Yo Wis Ben, akan tetap disajikan dengan bahasa terjemahan Indonesia. Namun, subtitel diyakini tidak mengurangi nyawa humor atau unsur komedi dari adegan yang dimainkan. Beberapa istilah masih mempertahankan makna aslinya.

Chand Parwez mengatakan, subtitel dipersiapkan secara matang selama empat hari, empat malam demi menjaga presisi dari makna percakapan.
“Kami siapkan subtitel agar presisi sehingga penonton tetap terhibur dari setiap ucapan kalimat atau kata-kata,” ujar Chand.

6. Syuting digelar di Kota Malang

Fajar Nugros mengungkapkan, seluruh scene atau pengambilan gambar dilakukan di Kota Malang. Adapun objek yang digunakan adalah, Kampung 3D Jodipan Malang (Rumah Bayu), SMA Dempo Malang, dan Alun-Alun Kota Malang.

Meski sempat terkendala hujan, namun sutradara menggunakan sejumlah trik agar scene dapat terselesaikan sesuai deadline. “Alhamdulillah jadwal syuting tidak terlalu terganggu oleh hujan,” tandasnya.

(Nps)