Investasi di Era Disrupsi ala Banker Internasional Julia Gouw

Surabaya, (DOC) — Inovasi yang disruptif dalam bisnis dan teknologi bisa menjadi sebuah terobosan bagus dalam memperkenalkan bisnis baru. Tapi di sisi lain, penelitian menunjukkan bahwa tidak semua pemimpin bisnis serta investor ini siap menghadapi era disruptif  tersebut.

Dekan Fakultas Bisnis Unika Widya Mandala Surabaya (UKWMS) Dr. Lodovicus Lasdi, MM.,Ak., CA menjelaskan dunia hari ini sedang menghadapi fenomena disruption (disrupsi), situasi di mana pergerakan dunia industri atau persaingan kerja tidak lagi linear. Perubahannya sangat cepat, fundamental dengan mengacak-acak pola tatanan lama untuk menciptakan tatanan baru.

Disrupsi menginisiasi lahirnya model bisnis baru dengan strategi lebih inovatif dan disruptif. “Cakupan perubahannya luas mulai dari dunia bisnis, perbankan, transportasi, sosial masyarakat, hingga pendidikan. Era ini akan menuntut kita untuk berubah atau punah,” ujarnya.

Inovasi disruptif dalam bisnis dan teknologi menjadi sebuah katalis dalam memperkenalkan model bisnis baru yang menuntun ke arah kesempatan yang lebih banyak. Tercipta serta efisiensi yang lebih hebat. Contohnya saja; e-commerce, pemasaran media sosial, transportasi online, teknologi keuangan, mobil listrik dan lain sebagainya.

Begitu beragam keuntungan menarik yang ditampilkan sebagai hasil dari disrupsi. Namun, beberapa pemimpin bisnis serta investor masih memiliki kecenderungan berpegang pada cara-cara lama.

Konsekuensi yang harus ditanggung menjadi sebuah pertanyaan besar dalam hal keuletan bisnis di antara korporasi- korporasi. Keuletan bisnis pada dasarnya adalah kemampuan yang diperlukan suatu organisasi bisnis agar mampu bertahan, beradaptasi dan berkembang di lingkungan baru maupun era yang disruptif. “Keuletan bisnis adalah suatu kapasitas adaptasi dari sebuah organisasi bisnis untuk tetap beroperasi dan mencapai hasil yang diinginkan meski dalam kondisi sulit, rumit, berubah-ubah, tak terduga dan tidak pasti. Ini adalah suatu topik aktual dalam dunia bisnis, secara global maupun khusus di Indonesia,” ujar Dr. Lodovicus Lasdi.

Fakultas Bisnis UKWMS sekaligus menggandeng Julia Suryapranata Gouw, yang pernah menjabat sebagai President and Chief Operating Officer of East West Bank in California, USA. Pasalnya, banyak hal yang perlu dipelajari masyarakat ataupun mahasiswa bisnis dalam berinvestasi di tengah era disrupsi ini.

“Generasi saat ini perlu belajar langsung mengenai pentingnya memiliki kompetensi Keuletan Bisnis terutama di era yang serba tidak pasti ini,” ujar Lodovicus Lardi.

Sesuai yang dilansir dari American Banker Magazine, Julia yang lahir di Surabaya ini pernah masuk dalam jajaran 25 Perempuan Bankir Paling Berkuasa selama lima kali.

Bulan Oktober lalu, dia menjadi pembicara dalam ajang internasional Woman CEO Summit di Washington DC bersama Menteri Keuangan Indonesia Sri Mulyani. Julia juga digelari sebagai Philanthropist of the Year oleh the National Association of Women Business Owners in Los Angeles berkat kontribusinya dalam The Nature Conservancy, sebuah organisasi non profit yang membantu memulihkan alam dan lingkungan di Indonesia serta beberapa tempat lainnya di dunia. “Hal yang ingin kami pelajari dari Julia adalah sudut pandangnya terhadap keuletan bisnis di masa depan dan investasi di tengah era disruptif,” imbuh Lardi

Bisa Bersaing dengan Tiongkok

Menurut sudut pandang Julia Gouw, Indonesia sebagai negara berpopulasi terbanyak ke-4 di dunia, memiliki potensi untuk sama suksesnya dengan Republik Rakyat Tiongkok.

“Sebenarnya kondisi tersebut adalah sebuah keuntungan, namun jika perekonomian Indonesia tidak dibangun dan sumber daya alamnya hanya dibiarkan tereksploitasi, maka Indonesia tidak akan ikut menikmati keuntungan yang dihasilkan,” ujar Julia.

Kondisi negara yang demokratis memungkinkan Indonesia untuk membangun perekonomiannya dengan mendukung berbagai jenis bisnis serta usaha baru. Bermula dari berbagai start up, nantinya dalam beberapa tahun usaha-usaha baru itu bisa jadi akan berkembang menjadi berbagai jenis bisnis yang memegang andil banyak dalam perekonomian global.

“Jika Indonesia ingin berkembang, maka jangan hanya berfokus pada angka keuntungannya saja. Kita juga perlu memperhatikan kondisi alam yang kita miliki, bangun dan jalankanlah usaha dengan tetap mempedulikan lingkungan sekitar,”imbuhnya.

Pasalnya, sebesar apapun mendapatkan keuntungan, jika lingkungan kita rusak hal itu tetap menjadi masalah besar di masa depan. Hal ini pula yang membuat Julia menyarankan agar masyarakat Indonesia, sebagaimana juga pemerintahnya benar-benar memperhatikan perkembangan perusahaan digital.

Teknologi digitalisasi harus diakui telah menjadi suatu terobosan yang berhasil mengubah pergerakan bisnis dari banyak menggunakan barang secara fisik beserta segala limbahnya menjadi suatu usaha yang menguntungkan meskipun berwujud virtual.

“Indonesia harus benar-benar beradaptasi dengan perubahan perekonomian dari gaya fisik ke virtual,” demikian pesan wanita kelahiran tahun 1959 silam tersebut.

Kondisi demografik Indonesia yang luar biasa beberapa tahun ke depan menurut Julia mendukung dalam hal investasi terkait pengembangan human capital.

“Kita perlu benar-benar memperhatikan edukasi masyarakat Indonesia, dengan jumlah manusia sebanyak itu sangatlah penting bagi Indonesia untuk mampu mengenali talenta yang dimiliki warganya serta tahu di mana harus menempatkan mereka,” imbuh wanita berambut panjang itu.

Lebih dari itu, menilik prediksi perekonomian Indonesia tahun 2018 mendatang yang dinilai potensial terpengaruh oleh pergerakan politik; Julia beranggapan bahwa
masyarakat Indonesia tidak perlu khawatir akan kehilangan investor dari luar negeri.

“Selama tidak ada perubahan dramatis dalam kondisi perpolitikan Indonesia, investor-investor besar dari luar tidak akan lari,” ujarnya.

Para investor lokal juga tidak perlu khawatir akan serbuan investor asing, tambahnya. Salah satu cara memperkuat perekonomian Indonesia adalah dengan meningkatkan jumlah uang asing, dan cara terbaik untuk menyuntikkan valuta asing ke Indonesia adalah melalui investasi langsung dari investor luar. 

“Era disruptif janganlah selalu dilihat sebagai sesuatu yang buruk. Kita dapat belajar banyak dari disrupsi ataupun perubahan yang terjadi. Lihatlah perkembangan zaman, pada akhirnya tidak ada yang dapat melawan teknologi, jadi lebih baik kita beradaptasi dan memanfaatkan kondisi yang ada untuk sesuatu yang lebih positif bagi diri sendiri dan lingkungan,” demikian pungkasnya. (nps)