Investor Pasar Turi Hapus Aset Pedagang

Tidak ada komentar 339 views

Surabaya,(DOC) – Imbas dari aksi para pedagang Pasar Turi ke Walikota Surabaya, Rabu(24/09/2014) kemarin, diBalaikota Surabaya. Pihak Investor pembangunan Pasar Turi, PT Gala Bumi Perkasa kini berupaya melawan balik dengan menghapus aset milik pedagang.
Kebijakan kontroversi ini, disampaikan melalui surat resmi ke 500 pedagang Pasar Turi, Kamis(25/9/2014). Sebelumnya para pedagang ini baru saja ditekan oleh pihak investor untuk segera melunasi biaya service charger untuk bulan Oktober sampai Desember 2014.
Nawawi, salah satu pedagang Pasar Turi membeberkan, investor memberi surat penghapusan aset lantaran pengundian susulan stand pasar yang diikuti pedagang pada tanggal 2 Agustus 2013 lalu, dianggap tidak memenuhi syarat. Sehingga pengundian stand tersebut, dinyatakan gugur. “Yang mendapatkan surat penghapusan aset tidak hanya saya. Selain saya banyak yang menerima,”ungkap Nawawi, sambil menunjukkan surat investor, Kamis (25/9/2014).
Menurut Nawawi, kebijakan investor mengirim surat penghapusan aset cukup janggal. Mengingat para pedagang selama ini sudah memenuhi segala peraturan yang diberlakukan investor. Termasuk membayar denda bagi pedagang yang terlambat membayar uang muka sebesar 20 persen. “Hak hak pedagang sudah diambil oleh investor. Saya tidak tahu mau setelah stand pedagang diambil investor mau di jual kepada siapa,”keluhnya.
Terkait pemberlakukan denda bagi pedagang, Nawawi juga merasa heran terhadap sikap pihak investor yang terkesan mencari celah untuk menarik dana dari pedagang Pasar Turi. Karena seingat-Nya, hampir semua pedagang telah membayar lunas uang muka stand tepat waktu. Tapi tetap saja para pedagang harus menanggung denda keterlambatan sebesar Rp 18 juta. Hal ini seperti sudah direncanakan oleh pihak investor.
Skenario investor Pasar Turi ini, juga terlihat saat para pedagang hendak melunasi kekurangan pembayaran stand sekitar 80 persen. Namun pihak investor malah menolaknya dengan berbagai alasan.
“Yang lebih lucu saya ini kan jualan makanan, tapi oleh investor tidak diperbolehkan menjual minuman. Katanya yang akan menjual minuman adalah pengembang,”tambahnya.
Pernyataan lebih tegas disampaikan oleh pedagang lainnya, Luhtfi. Ia mensinyalir keputusan investor mengirim surat penghapusan aset karena pengembang ingin menjual dengan harga yang lebih tinggi kepada para pedagang baru.
“Motifnya pasti pengembang ingin meraup keuntungan sebesar besarnya,” tegasnya.
Luthfi mengungkapkan, untuk satu stand di lantai tiga pedagang lama hanya dikenakan membayar Rp 175 juta. Tapi jika stand tersebut dijual kepada pedagang baru harganya bisa mencapai Rp 1,5 miliar. “Dari situ sudah bisa dihitung berapa keuntungan yang didapat investor. Padahal pedagang yang menerima surat penghapusan jumlahnya ada ratusan,” pungkasnya.(k1/r7)