Ipuk dan Awi Kans Kuat Pengganti WS

Tidak ada komentar 144 views

Surabaya,(DOC) – Posisi Wakil Ketua DPRD Surabaya, Pasca ditinggalnya Wisnu Sakti Buana yang terpilih menjadi Wakil Walikota Surabaya, kini menjadi rebutan 2 anggota fraksi PDIP, yaitu Saifudin Zuhri (Ipuk), Ketua Fraksi PDIP dan Adi Sutarwiyono (Awi) Anggota.

Ke-dua kader PDIP yang baru berkiprah di DPRD Surabaya periode 2009 – 2014 ini, mempunyai dukungan kuat dari PAC PAC untuk menduduki jabatan Wakil Ketua, mengalahkan 3 seniornya yaitu Armudji, Agustin Poliana dan Baktiono, anggiita DPRD Surabaya 3 periode sekaligus.
“Menurut saya hanya dua orang yang layak yakni Awi dan Ipuk, disamping sosoknya tegas, penampilannya juga luwes, tetapi punya kemampuan diplomasi yang mumpuni, dan saya melihat bahwa keduanya juga terlihat semangat dan serius dalam mengabdikan diri kepada partai dibanding yang lain,” ucap salah satu pengurus PAC PDIP Tambak Sari Surabaya yang enggan namanya disebut.

Menanggapi hal itu, Awi anggota komisi C DPRD Surabaya ini menyatakan, jabatan di partainya adalah penugasan, bukan hadiah karena balas jasa.

“PDIP itu penempatan seseorang dalam suatu peran/posisi/jabatan merupakan tugas partai, kata kuncinya adalah penugasan partai, bukan kemauan pribadi, setelah ketua DPC mendapat tugas menjadi Wawali, sepatutnya sekretaris DPC patut ditugasi mengemban posisi wakil ketua DPRD, karena ini sudah menjadi kesepahaman di jajaran pimpinan PDIP kota Surabaya,”tegas Awi(10/11/2013)

Begitu pula dengan Saifudin Zuhri ketua Fraksi PDIP. Menurut Awi, siapapun bisa menggantikan posisi WS asal mendapat tugas partai. Dalam penugasan tersebut, jenjang karir di struktur kepengurusan pasti menjadi pertimbangan utama.

“Dalam asas kepatutan tata organisasi di PDI Perjuahgan. Ketua Fraksi adalah pejabat senior partai, Wakil Ketua 1 di DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya. Bisa juga Ketua Fraksi ditugasi menjadi Wakil Ketua Dewan. Tapi lagi-lagi harus didasari pertimbangan yang masak, dengan menghitung berbagai aspek, Karena di PDIP, tour of duty itu berusaha dimaknai sebagai hal yang normal. Wajar, dengan dilandasi pertimbangan yang tepat atas berbagai aspek. Tidak abnormal. Juga bukan untuk “bagi-bagi hadiah”, atau balas jasa.,” tegasnya (he/r7)