Irvan Widyanto, Penjaga Perda yang Harus (Tetap) Terjaga

 IT & Gadget

Surabaya (DOC) –  Di setiap pemerintahan daerah, provinsi, kabupaten atau kota pasti memiliki Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Menegakkan peraturan daerah adalah salah satu fungsi yang melekat erat pada Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang satu ini.

Pemkot Surabaya juga memiliki Satpol PP. Tugas satuan yang identik dengan seragam coklat muda ini cukup berat. Salah satunya, menghadapi pedagang kaki lima (PKL) yang menurut data Komisi B DPRD Surabaya jumlahnya mencapai 60 ribu orang.

Bagaimana Satpol PP menyikapi. Berikut wawancara dengan Kepala Satpol PP Surabaya Irvan Widyanto ;

Sejak kapan menjabat Kepala Satpol PP, dan bagaimana reaksi saat itu ?

Per 1 Maret 2012. Awalnya sempat kaget. Bukan hanya saya, keluarga juga sempat kaget. Tapi ini amanah, saya berusaha menjalankan itu (tugas) sebaik mungkin.

Apa yang membuat kaget?

Kaget karena tugas Kepala Satpol PP harus berhadapan dengan orang banyak yang menjadi obyek dan subyek penertiban. Yang mana orang-orang itu tentunya ada perasaan resah, kesal atau marah.

Menyikapi stigma tukang gusur yang melekat erat?

(Kali ini Irvan mengeryitkan dahi seraya bertopang dagu)

Stigma itu sudah melekat, bukan saja pada Satpol PP Surabaya, tapi semua pemerintahan daerah di Indonesia.  Stigma itu muncul karena fungsi pengaturan yang melekat. Pengaturan dekat dengan penggusuran, perintah, menyuruh dan menertibkan terkait pelaksanaan aturan.

Apa cara menyikapi tudingan itu?

Selalu saya sampaikan ke anggota (anak buah),termasuk di 31 kecamatan agar selalu mengedepankan sosialisasi dan persuasif dalam menjalankan tugas. Represif  humanis juga saya tekankan. Ini diterapkan setelah upaya persuasif  berhasil. Represif  humanis adalah aktif mendatangi pihak yang ditertibkan. Komunikasi kembali dikedepankan. Ini tak membuat orang kesal.

Bagaimana mengubah penggusuran bernilai positif, utamanya bagi PKL?

Bahasan kami adalah penertiban. Kalau pengusuran, kesannya kurang enak. Kami menjadikan penertiban menjadi penggerak roda ekonomi kerakyatan. PKL harus memperhatikan prinsip investasi. Pertama, legalitas. Kedua, kenyamanan dan keamanan.

Tanpa disadari PKL sudah berinvestasi terkait kulakan dagangan untuk dimasak atau dijual langsung. Harusnya mereka memahami legalitas tempat jualan. Misalnya mereka  jualan di sentra PKL, tentu tidak diobrak. Ini yang jarang dipahami mereka.

Selain itu?

Dalam sosialisasi juga kami tekankan bahwa di antara kepentingan PKL untuk jualan ternyata ada kepentingan orang yang lebih banyak lagi. Contoh, semula di Jalan Pasar Kembang banyak PKL yang menutupi toko atau rumah orang. Belum lagi dampak kemacetan yang ditimbulkan. Setelah kami dekati,mereka nurut.

Adakah program untuk mendukung upaya-upaya sebelumnya itu?

Tentu ada. Setelah rangkaian Hari raya Idul Fitri tahun ini, akan diterapkan kanalisasi PKL. Ini merupakan ide wali kota. Kanalisasi PKL pertamakali akan diberlakukan bagi PKL cinderamata Persebaya di sekitaran Stadion Gelora 10 November.

Para penjual t-shirt, kain syal dan lainnya ini akan dipindah ke puat grosir Kapas Krampung. Ikon yang diharapkan terbangun, mencari segala pernak-pernik Persebaya ya di Kapas Krampung. Ini pengejawantahan konsep penggerak roda ekonomi.

Apa nilai plus yang didapat PKL yang direlokasi?

Dengan menempati stan di pusat grosir Kapas Krampung, mereka bisa mendapatkan buku stan yang dikeluarkan PD Pasar Surya. Buku stan ini bisa menjadi agunan pengajuan kredit buat penguatan modal, setelah sebelumnya stan menjadi obyek survei.

Apa ini menjamin PKL tak lagi kembali ke jalanan?

Sulit jika ingin kembali. Konsep kanalisasi ini sudah dikaji dan layak. Jadi tak ada alasan kembali ke jalan.

Soal rencana pemberlakuan jam jualan?

Kami juga sedang mematangkan pengaturan jam jualan berdasar item barang yang dijual. Prinsipnya, tidak boleh ada alat peraga, seperti tenda dan lainnya yang ditinggal. Semua harus bersih. Satu tenda bisa dimanfaatkan beberapa PKL. Misalkan pagi hingga siang menjual nasi pecel, malamnya bisa bakso dan atau lainnya.

Sudahkan jam jualan ini diujicobakan?

Sudah, pada pedagang stiker di Jalan Gentengkali. Mereka ada yang jualan siang hingga malam dan arealnya tidak boleh melebihi batas  yang sudah ditentukan. Dan yang terpenting, mereka harus menyediakan tempat sampah. Karena sehabis memasang stiker selalu banyak sampah.

Selain di Jalan Gentengkali?

Ada, PKL jalan Pahlawan yang jumlahnya ada sekitar 2000-3000, utamanya saat Minggu. Aturan yang diberlakukan mengharuskan PKL Tugu Pahlawan hanya bisa menempati satu sisi jalan saja.

Soal personil Satpol PP Perempuan, seberapa efektifkah mereka?

Jumlahnya 1 pleton atau 31 orang. Keberadaan mereka cukup efektif. Satpol PP perempuan kami jadikan ujung tombak. Bisa sebagai negosiator atau sosialisasi terkait penertiban yang akan dijalankan.

Satpol PP perempuan juga bisa berperan saat menjalani razia PSK, anak jalanan atau gelandangan dan pengemis. Bagi anjal, Satpol PP perempuan ini bisa dianggap kakak. Bagi PSK bisa dinilai sebagai teman.Paling tidak lebih luwes dalam bertugas.

Apakah satu pleton personil perempuan sudah ideal?

Belum, belum ideal. Idealnya harus ada 2 pleton untuk bertugas siang dan malam. Keberadaan Satpol PP ini tidak harus PNS, bisa dengan kontrak. (K-7/R9)

BIODATA:

NAMA                                     : IRVAN WIDYANTO

TTL                                          : SURABAYA, 15 JULI 1969

HOBI                                        : TENIS LAPANGAN

NAMA ISTRI                          : RIZA SILVANIA, S.Psi

ANAK                                      : CAVITA EZRA MARTINA, 16 th

                      SAVIERA MUTIARA PUTRI, 11 th

                      VALDIANO WIDYANTORO PUTRA, 1,5 th

RIWAYAT PENDIDIKAN :

SD Petra V Surabaya                       Lulus   1982

SMP Petra III    Surabaya                Lulus  1985

SMP Pirngadi Surabaya                  Lulus  1989

STPDN                                             Lulus   1992

SEPAMILWA TNI AD                    Lulus 1992

KARIR :

1994               : Staf  Bagian Pemerintahan Pemkot Surabaya

1995-2000     : Kepala Kelurahan Ampel

2001-2002     : Kepala Kelurahan Gading

2002-2004     : Kepala Kelurahan Gebang Putih

2004-2006     : Kepala Kelurahan Pradah Kalikendal

2006-2007     : Sekretaris Kecamatan Dukuh Pakis

2007-2010     : Camat Rungkut

2010-2012     : Kepala Bagian Pemerintahan dan Otoda

1 Maret 2012-sekarang: Kepala Satpol PP Kota Surabaya