‘Jadi Dewan, Tak Cukup Diam’

Tidak ada komentar 125 views

VOKAL dan garang. Demikian kesan yang timbul manakala kita membaca statemen-statemen yang terlontar dari Agus Santoso. Sosok Ketua Badan Kehormatan (BK) DPRD Surabaya ini hampir saban hari menghiasi media-media di Surabaya.

Tak heran, namanya cukup dikenal khalayak lantaran keberaniannya mengkritisi berbagai persoalan. Kader Partai Demokrat kelahiran Banyuwangi ini tak jarang mengeluarkan pernyataan kontroversi yang memantik reaksi beragam kalangan.

”Itulah fungsi kontrol legislatif, kalau cuma diam kan ndak etis,” kata pria berwajah lembut ini.

Berangkat dari kesuksesannya di dunia usaha, Agus yang pernah menggeluti bisnis batubara ini kerap merasa miris apabila mendapati masyarakat yang menuding anggota dewan kerap mengeruk uang rakyat.

Baginya, duduk di kursi DPRD Surabaya merupakan pengabdian. Sebab, dibanding dengan hasil usahanya, penghasilan yang didapat dari aktivitasnya di DPRD Surabaya tidak seberapa.

”Ini murni pengabdian, jadi kalau ada masyarakat yang menilai dewan suka mengeruk uang rakyat itu tidak benar. kalau pun ada itu oknum namanya, tolong ini dipahami,” ujarnya.

Saat ini, Agus tengah serius menangani bisnis serabut kelapa untuk bahan baku pembuatan springbad dan jok mobil. Perusahaan yang didirikan dan bermarkas di Banyuwangi jauh sebelum dirinya menjadi anggota dewan, mampu mengekspor 36 lebih kontainer serabut dalam satu bulan.

”Negara tujuanya ke China, Malaysia, dan German,” tegasnya.

Dia mengatakan, bisnis yang digelutinya mempekerjakan 700 lebih karyawan. ”Jadi sudah biasa nangani orang banyak,” katanya.

Baginya, meski sudah duduk menjadi anggota dewan namun dunia usaha yang lama digeluti tetap harus dijalankan. Tujuannya, kata dia, agar amanah yang diberikan masyarakat kepadanya selama menjadi anggota dewan tidak tercemar oleh kepentingan ekonomi.(*)