Jaga Sungai dan Sampah Untuk Raih Adipura Lagi

Tidak ada komentar 129 views

Surabaya,(DOC) – Sungai bukan tempat sampah. Sungai juga bukan sarana untuk MCK (mandi, cuci, kakus). Hal tersebut nampaknya perlu ditekankan kepada segenap masyarakat. Kendati sungai-sungai di Surabaya sudah cukup bersih, namun masih ada saja orang-orang tak bertanggung jawab yang seenaknya mengotori sungai.
Pernyataan itu diutarakan Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini saat menghadiri ekspose dan pembinaan Adipura di Graha Sawunggaling, Kamis (10/10). Menurut dia, kesadaran masyarakat untuk sama-sama menjaga kebersihan sungai perlu ditingkatkan. Mengingat, di sejumlah titik masih sering dijumpai sampah/limbah rumah tangga yang mencemari sungai maupun saluran.
Pemerintah Kota Surabaya sudah berupaya membersihkan sungai secara berkala. Tapi, kalau langkah tersebut tidak dibarengi dengan komitmen kuat masyarakat, maka hal itu akan sia-sia. Risma -sapaan wali kota- menuturkan, suatu saat dia bersama para petugas kebersihan pernah membersihkan sungai. Hasilnya, sampah yang mencemari sungai didominasi limbah rumah tangga seperti plastik, popok bayi, botol minuman, hingga (maaf) pembalut wanita.
Tentu saja melihat banyaknya sampah itu membuat wali kota merasa miris. Ini menandakan perilaku masyarakat yang belum sepenuhnya peduli terhadap kelestarian lingkungan. Padahal, Risma menyatakan, kebersihan sangat erat kaitannya dengan kesehatan. “Kalau lingkungannya kotor itu bisa menyebabkan banyak penyakit,” terangnya.
Pernyataan wali kota bukannya tak berdasar. Sebab, berdasar data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Surabaya, angka penyakit demam berdarah, diare dan muntaber cenderung meningkat utamanya saat memasuki musim penghujan. Nah, ketika hujan datang dan airnya tidak bisa mengalir dengan sempurna, menyebabkan luberan air di sungai maupun saluran. Air bercampur sampah dalam waktu yang lama dapat memicu timbulnya penyakit.
“Saya tidak mau nanti waktu musim hujan banyak yang kena demam berdarah atau diare,” ujar Risma dihadapan para camat, lurah, pegawai BUMN, LSM serta tokoh masyarakat.
Selain itu, Risma juga menyoroti kebersihan di lingkungan sekolah. Problemnya, banyak sampah plastik bekas minuman yang mengotori lingkungan sekitar sekolah. Wali kota menyebut, umumnya pemandangan tersebut tersaji saat jam-jam pulang sekolah. Untuk itu, dia menghimbau para siswa menggunakan gelas/botol masing-masing agar tidak menambah volume sampah berupa plastik. Budaya menggunakan tempat minum sendiri yang lebih higienis kini mulai disosialisasikan di tiap-tiap sekolah.
Sementara terkait acara ekspose dan pembinaan Adipura, lebih banyak dimanfaatkan untuk memaparkan hasil evaluasi penilaian Adipura sebelumnya. Sekaligus persiapan menyongsong Adipura berikutnya.
Asisten Deputi Pengelolaan Sampah, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), R. Sudirman mengakui, untuk urusan kebersihan, Surabaya sudah berada pada level yang berbeda dibanding daerah-daerah lain. Untuk itu, lingkungan di Kota Pahlawan sudah tidak bicara masalah bersih, hijau, dan sehat saja, tapi yang lebih penting harus berkelanjutan dalam jangka waktu yang panjang.
Dari hasil evaluasi pun, kata Sudirman, Surabaya sudah sangat bagus. Hanya menyisakan beberapa catatan untuk pengelolaan tempat pembuangan akhir (TPA) sampah dan kebersihan air. Itu pun sifatnya hanya perlu pembenahan kecil.
“Kalau melihat progres dan perkembangan Surabaya yang sudah sangat pesat di bidang lingkungan, maka kota ini nantinya sudah bukan sebagai peserta lagi. Melainkan, sesuai rencana KLH akan diproyeksikan untuk membantu kementerian,” paparnya.
Namun, untuk ‘lulus Adipura’, suatu kota harus memenuhi tiga persyaratan. Pertama, nilai dalam Adipura tidak boleh turun sedikitnya dalam tiga tahun berturut-turut. Kedua, harus ada inovasi, baik pada skala kampung maupun kota. Dan yang terakhir, kota tersebut harus secara intens membagi pengalamannya dengan kota/kabupaten lain.(Humas/r7)