Jatim Buka Posko Bencana 24 Jam di Gedung Negara Grahadi

Surabaya (DOC) – Banyaknya kejadian bencana di Jawa Timur musim penghujan seperti saat ini, mendapat perhatian serius dari Gubernur Jawa Timur Dr Soekarwo. Keseriusan tersebut dengan dibuktikan dengan dibangunnya posko pengendalian tanggap bencana di Gedung Negara Grahadi Jl Gubernur Soeryo Surabaya.Posko bencana yang akan dibuka selama 24 jam ini merupakan inisiatif dari gubernur sebagai pusat informasi publik dan pusat kebijakan publik terkait kebencanaan. “Meski di lapangan, SKPD sudah banyak membangun posko, seperti BPBD, Dinsos, maupun Dinkes, sifat posko baru ini sebagai koordinator tanggap bencana di Surabaya yang koordinasinya langsung dibawah Gubernur,”Kata Kepala Biro Administrasi Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Setdaprov Jatim, Bawon Adhiyitoni saat memimpin rapat pembentukan posko bencana, Kamis (10/1).

Ditargetkan, posko ini akan efektif beroperasi mulai minggu ini dan akan berakhir sampai kondisi di Jawa Timur kondusif dari bencana. “Keseriusan gubernur dengan penanganan bencana ini untuk meminimkan kerugian akibat bencana. Karena itu posko akan ditutup sampai batas waktu tertentu jika benar-benar kondisi di Jatim aman dari bencana terutama banjir dan tanah longsor yang akhir-akhir ini banyak terjadi di beberapa daerah,” paparnya.

Lebih lanjut Bawon menjelaskan, posko ini akan dilengkapi berbagai peralatan kebencanaan seperti halnya peta rawan bencana, radio mobile untuk koordinasi di seluruh wilayah serta berbagai peralatan taktis untuk deteksi dini bencana. Perlengkapan tersebut berasal dari berbagai SKPD seperti BPBD Jatim, Dinas ESDM, PU cipta Karya, Pengairan, Dinas kesehatan serta Dinas Sosial.

Langkah Gubernur membangun posko di gedung grahadi ini bukan tanpa alasan, saat ini bencana banjir mulai melanda Jawa Timur. Sedikitnya empat wilayah yakni Mojokerto, Bojonegoro, Sidoarjo, dan Bangkalan, terpantau mengalami banjir dalam waktu hampir bersamaan, Ribuan orang terpaksa mengungsi ke tempat lebih tinggi akibat bencana tahunan ini. Di antara daerah tersebut, Bojonegoro mengalami dua ancaman banjir sekaligus ancaman pertama datang dari Bengawan Solo.

Ketinggian air Sungai Bengawan Solo terus naik. Perkembangan terbaru, Kabupaten Bojonegoro dinyatakan siaga satu banjir luapan Sungai Bengawan Solo. Debit air sungai terbesar di Pulau Jawa tersebut terus merambat naik. Berdasarkan pantauan di papan duga ketinggian air Sungai Bengawan Solo, hingga pukul 15.00 WIB, ketinggian air Sungai Bengawan Solo berada di kisaran 13.23 peilschaal. Status siaga satu diberlakukan bila ketinggian air Sungai Bengawan Solo di wilayah Kota Bojonegoro berada di atas 13.00 peilschaal.

Sementara itu, luapan Kali Sadar di Mojokerto merendam sejumlah desa di empat kecamatan yakni Mojoanyar, Bangsal, Mojosari (Kabupaten Mojokerto) dan Kecamatan Magersari (Kota Mojokerto). Banjir yang disebabkan hujan deras malam hari sebelumnya itu sempat melumpuhkan beberapa desa di sepanjang Kali Sadar.

Di Kecamatan Mojoanyar, banjir menerjang lima desa. Kelima desa itu di antaranya Desa Jabon,Gayaman,Gebangmalang, Kepuhanyar dan Sumber Jati. Di wilayah ini, banjir terparah setinggi pinggang terjadi di Desa Gebangmalang. Genangan air masuk ke rumah warga hingga ketinggian setengah meter lebih. Hingga siang kemarin, jalan raya desa masih lumpuh.

BPBD Jawa Timur menyatakan siaga menghadapi bencana banjir. Kepala BPBD Jatim Sudarmawan mengatakan, banjir telah melanda beberapa daerah di antaranya, Sidoarjo, Mojokerto, Jombang, Ngawi, Bojonegoro dan Ponorogo.

Akan tetapi,status banjir di beberapa daerah tersebut masih bersifat genangan dan berlangsung cepat, tidak sampai berhari- hari. ”Penyebabnya adalah curah hujan yang tinggi, sehingga air melampaui kapasitas tampungan air dan beberapa sungai kecil,”katanya. (R-6)