Jatim Tingkatkan Target Cukai Rokok

Tidak ada komentar 246 views

Surabaya, (DOC) – Tahun 2013 penerimaan cukai rokok ditargetkan Rp 104,7 triliun dan realisasinya mampu mencapai Rp 108,2 triliun atau 103,34% dari target. Tahun ini, target penerimaan cukai rokok kembali ditingkatkan sebesar Rp 116,3 triliun atau meningkat hampir 11,08% dari target 2013.
“Kami yakin penerimaan cukai tahun ini dapat mengulang sukses tahun lalu. Hitungan kami kira-kira mencapai Rp 117,2 triliun, atau hampir 101% dari target Rp 116,3 triliun,” kata Direktur Penerimaan dan Peraturan Kepabeanan dan Cukai, Susiwijono Moegiarso, Rabu (16/4/2014).
Naiknya target cukai 2014, kata dia, dipengaruhi oleh pemilihan umum calon legislatif dan pemilihan presiden. Tren konsumsi rokok di tahun politik, kata dia, selalu meningkat.
Direktorat Jenderal Bea dan Cukai memperkirakan di 2014 produksi rokok akan meningkat menjadi 360-362 miliar batang, naik 20 miliar dari produksi 2013 sebesar 341 miliar batang.
Meningkatnya produksi rokok tersebut berbanding lurus dengan penjualan cukai pita rokok. Di kuartal pertama 2014, penerimaan cukai mencapai Rp 27,52 triliun atau sekitar 23,67% dari target cukai.
Dari jumlah tersebut, Rp 26,4 triliun berasal dari cukai rokok dan sisanya Rp 1,1 triliun adalah cukai dari minuman mengandung etil alkohol. Dari data DInas Perkebunan Jawa Timur, produksi rokok secara nasional terus mengalami peningkatan.
Tahun 2012 produksi masih di kisaran 280 miliar batang. Tahun 2013 lalu, produksi rokok sudah naik menjadi 341 miliar batang per tahun. Dengan asumsi kebutuhan bahan baku perbatang satu gram tembakau, maka kebutuhan tembakau mencapai 330.000 ton per tahun.
Ia mengatakan, untuk kontribusi cukai rokok Jatim saja mampu sumbang sebesar 75 persen dari total cukai nasional atau sebesar Rp 45 triliun.
Samsul mengatakan, pendapatan dari cukai rokok Jatim itu tertinggi nasional. Jumlah itu diperoleh pembelian pita cukai oleh 1.367 pabrik rokok besar dan kecil. Dari segi produksi jumlah rokok, ribuan pabrik rokok di Jatim itu memiliki kapasitas 169,9 miliar batang lebih dari total produksi nasional.
“Dalam pertembakauan nasional, Jatim mampu berikan kontribusi sebesar 83.404 ton atau sekitar 50-55 persen dari kebutuhan nasional. Artinya, dengan banyaknya jumlah produski tembakau, maka wajar jika kontribusi untuk cukai rokok juga tinggi,” ujarnya.
Ia juga yakin jika pasar rokok domestik masih akan tetap bertumbuh walaupun sudah dikerdilkan melalui berbagai kebijakan. Hanya saja, tambah dia, karena kebijakannya lebih berpihak kepada rokok putihan, maka akan ada pergeseran pasar, sebab penikmat rokok akan dipaksa beralih dari kretek ke putihan. (r4)