Jelang Hari Pahlawan Nasib Monumen Kota Dipertanyakan

Surabaya (DOC) — Jelang Hari Pahlawan 10 November mendatang memantik perhatian kalangan DPRD Surabaya akan nasib monumen atau patung pahlawan di Kota Pahlawan. Wakil Ketua Komisi C DPRD Surabaya Simon Lekatompessy menyoroti keberadaan sejumlah monumen yang tersebar di beberapa titik wilayah kota. Keberadaan monumen itu tidak pas lagi dengan kondisi sekarang.

“Saya prihatin melihat monumen sekarang yang keberadaannya tak terlihat karena tingginya kalah dengan bangunan sekitar,” kata Simon. Oleh karena itu politisi PDS ini setuju jika keberadaan bangunan monumen dievaluasi. Keberadaannya bisa dipugar, diganti dengan bangunan yang mudah dilihat setiap warga yang melintas di sekitar tempat keberadaannya.

Taufik Monyong, salah seorang pegiat seni di Surabaya setuju jika ada evaluasi atas keberadaan monumen. Alumni Unesa ini mencontohkan keberadaan monument karapan sapi yang nyaris tak terlihat lantaran bangunan sekitar lebih tinggi.

“Contoh lain, patung Mayor Djarot dan Kuda Putih Mayangkara di sekitar Wonokromo juga tak terlihat. Keberadaahnya kalah tinggi dengan jembatan laying,” tandasnya. Pria asli Lumajang ini ingin monumen atau patung di Surabaya bisa tinggi seperti halnya di Jakarta.

Minimal bisa dengan mudah dilihat. “Seperti di Jakarta, Tugu Tani atau Selamat Datang itu mudah dilihat. Bukan itu saja, pembuatan patung-patung di Jakarta mampu menyampaikan pesan. Misalnya tugu Selamat Datang, tangan patungnya dibuat lebih besar. Hal penting dalam seni patung seperti ini yang taka da di Surabaya.

Seperti patung Bapak Polisi Jenderal (Purn) Soekanto di depan Mapolres Surabaya disebut Taufik tak simetris. Dia menilai pondasinya lebih besar serta tinggi jika dibanding patungnya sendiri. (K-7)