Jika Terpilih, Khofifah Akan Menjadi Gubernur Perempuan Pertama di Jatim

Foto : Khofifah – Emil bersama pendukung wanita

Surabaya,(DOC) – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jatim menetapkan Khofifah Indar Parawansa-Emil Dardak Elestianto sebagai pasangan Cagub-Cawagub Jatim periode 2019-2024.  Jika terpilih, Khofifah akan mengukir sejarah baru sebagai gubernur perempuan pertama di Jatim.

Dalam catatan sejarah, sejak era Gubernur RMT Ario Soerjo (1945-1947) hingga dua periode kepemimpinan Soekarwo (2009-2014 dan 2014-2019) belum ada satupun perempuan yang duduk di kursi gubernur Jatim.

Tak hanya di Jatim, Khofifah juga berpeluang besar mengulang sekaligus meneruskan sejarah sebagai gubernur perempuan kedua di Indonesia. Sejak Ratu Atut Chosiyah memimpin Provinsi Banten, hingga kini belum ada lagi perempuan yang menjadi gubernur.

Hari ini, tonggak sejarah pun dimulai. Beberapa jam usai penetapan Cagub-Cawagub Jatim, seribu perempuan dari enam sayap Parpol pengusung Khofifah-Emil menggelar deklarasi dan konsolidasi Koalisi Perempuan Pemenangan (KPP) Khofifah-Emil di Hotel Garden Palace, Surabaya.

Mereka terdiri dari Wanita Persatuan Pembangunan (sayap PPP), Srikandi Hanura (Partai Hanura), Srikandi Demokrat (Partai Demokrat), Garda Wanita Nasional Demokrat (Partai Nasdem), Perempuan Amanat Nasional (PAN), Kesatuan Perempuan Partai Golkar (Partai Golkar).

Di hadapan seribu perempuan KPP, Khofifah menegaskan, hari ini di negeri ini belum terpilih kembali seorang gubernur perempuan. Bahkan, hingga hari ini pula, Jatim belum pernah dipimpin gubernur perempuan.

“Hari ini kita sedang membangun sejarah. Kita akan melahirkan seorang gubernur perempuan di Jatim,” kata Khofifah yang disambut aplaus panjang ribuan perempuan yang hadir.

Khofifah tak bisa menutupi rasa bangganya, karena Parpol pengusung menghadirkan tokoh-tokoh perempuan luar biasa yang akan menggerakkan mesin pemenangan tidak hanya di internal partainya, tapi di setiap lini masyarakat.

“Saya mohon jaringan ibu-ibu digerakkan. Semua elemen disatukan, dibulatkan tekadnya, dikawal suaranya agar pada 27 Juni nanti semuanya ekan menjadi bagian dari suara untuk kemenagan Khofifah-Emil,” kata perempuan yang juga ketua umum PP Muslimat NU itu.

Bagi Khofifah, sudah saatnya perempuan menjadi gubernur Jatim, karena dari bumi Jatim sejak dahulu telah mengalir pemimpin-pemimpin perempuan mulai Kerajaan Majapahit hingga Blambangan.

“Ini menunjukkan kalau konsep nusantara berangkat dari Jatim, konsep Merah Putih berangkat dari Jatim. Maka kita tegakkan Merah Putih dari seluruh elemen perempuan yang ada di Jatim. Kita kawal nusantara melalui tangan-tangan teguh, tangguh dan pendirian yang kuat dari perempuan-perempuan Jatim,” paparnya berapi-api.

Apalagi, lanjutnya, masih banyak perempuan-perempuan di perdesaan di Jatim yang mengalami kemiskinan. Makanya ketika Khofifah diajak merumuskan Program Keluarga Harapan (PKH) pada 2007, dia menekankan bahwa ibu-ibu dari keluarga miskin yang memiliki balita dan tak bisa memberikan asupan gizi yang baik, harus disapa lewat PKH.

“Kenapa saya usul intervensinya lewat ibu-ibu kurang mampu yang hamil maupun yang punya bayi balita? Karena inilah sebetulnya embrio ketika kita ingin menyiapkan generasi emas di negeri ini,” tambah perempuan yang pernah menjadi kepala BKKBN, serta mengikuti studi banding di banyak negara terkait pengentasan kemiskinan tersebut.

Karena itu, tandas Khofifah, kemiskinan di Jatim, terutama di perdesaan menjadi PR bersama. “Bahagiakan ibu-ibu yang ada di desa-desa. Lepaskan mereka dari jeratan rentenir, bikin mereka bisa hidup mandiri,” ajaknya.

Khofifah dan Emil juga sudah menghitung Posyandu di Jatim agar tidak sekadar diberikan tambahan makanan untuk anak balita yang sedang ditimbang. “Tapi Posyandu harus menjadi pintu masuk pemberdayaan ekonomi kader-kader Posyandu,” katanya.

Di ujung pidato politiknya, Khofifah mengajak seluruh elemen partai pengusung untuk terjun dan menyapa secara langsung masyarakat terutama di perdesaan.

“Sapa saudara kita yang ada di desa supaya mereka bisa senyum. Bahagianya ibu-ibu Parpol pengusung juga harus menjadi bahagianya ibu-ibu di desa,” katanya.(r7)