Jokowi Pidato 10 Menit, Anggap Prabowo-Hatta Sahabat

Jakarta,(DOC) – Usai dilantik, Presiden Joko Widodo menyampaikan pidato singkat dihadapan peserta. Isi pidato cukup jelas, meski durasinya hanya sekitar 10 menit. Bahkan dalam setiap kalimat, Jokowi menyampaikannya penuh dengan semangat.
Acara pelantikan Presiden dan Wakil Presiden RI ke 7, digelar di Gedung MPR, Senayan, Jakarta, Senin (20/10/2014). Jokowi memulai pidatonya pukul 11.40 WIB dan berakhir pada pukul 11.50 WIB.
Di sela moment tersebut, Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa sempat disebut Jokowi sebagai sahabat.
Berikut pidato lengkap Jokowi saat pelantikan presiden:
PIDATO
“DI BAWAH KEHENDAK RAKYAT DAN KONSTITUSI”

JAKARTA, 20 OKTOBER 2014

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Salam Damai Sejahtera untuk kita semua,
Om Swastiastu,
Namo Buddhaya

Yang saya hormati, para Pimpinan dan seluruh anggota
MPR,
Yang saya hormati, Wakil Presiden Republik Indonesia,
Yang saya hormati, Bapak Prof Dr. BJ Habibie,
Presiden Republik Indonesia ke 3, Ibu Megawati
Soekarnoputri, Presiden Republik Indonesia ke-5,
Bapak Try Sutrisno, Wakil Presiden Republik Indonesia
ke-6, Bapak Hamzah Haz, Wakil Presiden Republik
Indonesia ke-9, Yang saya hormati, Bapak Prof. Dr.
Susilo Bambang Yudhoyono Presiden Republik Indonesia
ke-6, Bapak Prof Dr Boediono, Wakil Presiden Republik
Indonesia ke-11,
Yang saya hormati, ibu Shinta Nuriyah Abdurrahman
Wahid,
Yang saya hormati, rekan dan sahabat baik saya, Bapak
Prabowo Subianto. Yang saya hormati Bapak Hatta
Rajasa
Yang saya hormati, para pimpinan lembaga-lembaga
tinggi negara,
Yang saya hormati dan saya muliakan, kepala negara
dan pemerintahan serta utusan khusus dari negara-
negara sahabat,
Para tamu, undangan yang saya hormati,
Saudara-saudara sebangsa, setanah air,
Hadirin yang saya muliakan,
Baru saja kami mengucapkan sumpah, sumpah itu
memiliki makna spritual yang dalam, yang menegaskan
komitmen untuk bekerja keras mencapai kehendak kita
bersama sebagai bangsa yang besar.
Kini saatnya, kita menyatukan hati dan tangan. Kini
saatnya, bersama-sama melanjutkan ujian sejarah
berikutnya yang maha berat, yakni mencapai dan
mewujudkan Indonesia yang berdaulat di bidang
politik, berdikari di bidang ekonomi dan
berkepribadian dalam kebudayaan.
Saya yakin tugas sejarah yang berat itu akan bisa
kita pikul bersama dengan persatuan, gotong royong
dan kerja keras. Persatuan dan gotong royong adalah
syarat bagi kita untuk menjadi bangsa besar. Kita
tidak akan pernah besar jika terjebak dalam
keterbelahan dan keterpecahan. Dan, kita tidak pernah
betul-betul merdeka tanpa kerja keras.
Pemerintahan yang saya pimpin akan bekerja untuk
memastikan setiap rakyat di seluruh pelosok tanah
air, merasakan kehadiran pelayanan pemerintahan. Saya
juga mengajak seluruh lembaga Negara untuk bekerja
dengan semangat yang sama dalam menjalankan tugas dan
fungsinya masing-masing. Saya yakin, Negara ini akan
semakin kuat dan berwibawa jika semua lembaga negara
bekerja memanggul mandat yang telah diberikan oleh
Konstitusi.
Kepada para nelayan, buruh, petani, pedagang bakso,
pedagang asongan, sopir, akademisi, guru, TNI, POLRI,
pengusaha dan kalangan profesional, saya menyerukan
untuk bekerja keras, bahu membahu, bergotong rotong.
Inilah, momen sejarah bagi kita semua untuk bergerak
bersama untuk bekerja…bekerja… dan bekerja
Hadirin yang Mulia,Kita juga ingin hadir di antara bangsa-bangsa dengan
kehormatan, dengan martabat, dengan harga diri. Kita
ingin menjadi bangsa yang bisa menyusun peradabannya
sendiri. Bangsa besar yang kreatif yang bisa ikut
menyumbangkan keluhuran bagi peradaban global.
Kita harus bekerja dengan sekeras-kerasnya untuk
mengembalikan Indonesia sebagai negara maritim.
Samudra, laut, selat dan teluk adalah masa depan
peradaban kita. Kita telah terlalu lama memunggungi
laut, memunggungi samudra, memunggungi selat dan
teluk.
Kini saatnya kita mengembalikan semuanya sehingga
Jalesveva Jayamahe, di Laut justru kita jaya, sebagai
semboyan nenek moyang kita di masa lalu, bisa kembali
membahana.
Saudara-saudara sebangsa dan setanah air,
Kerja besar membangun bangsa tidak mungkin dilakukan
sendiri oleh Presiden, Wakil Presiden ataupun jajaran
Pemerintahan yang saya pimpin, tetapi membutuhkan
topangan kekuatan kolektif yang merupakan kesatuan
seluruh bangsa.
Lima tahun ke depan menjadi momentum pertaruhan kita
sebagai bangsa merdeka. Oleh sebab itu, kerja, kerja,
dan kerja adalah yang utama. Saya yakin, dengan kerja
keras dan gotong royong, kita akan akan mampu
melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh
tumpah darah Indonesia, meningkatkan kesejahteraan
umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut
melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan
kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
Saudara-saudara sebangsa dan setanah air, Atas nama
rakyat dan pemerintah Indonesia, saya mengucapkan
terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya
kepada Yang Mulia kepala negara dan pemerintahan
serta utusan khusus dari negara-negara sahabat.
Saya ingin menegaskan, di bawah pemerintahan saya,
Indonesia sebagai negara demokrasi terbesar ketiga
dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, sebagai
negara kepulauan, dan sebagai negara terbesar di Asia
Tenggara, akan terus menjalankan politik luar negeri
bebas-aktif, yang diabdikan untuk kepentingan
nasional, dan ikut serta dalam menciptakan ketertiban
dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan
keadilan sosial.
Pada kesempatan yang bersejarah ini, perkenankan
saya, atas nama pribadi, atas nama Wakil Presiden
Muhammad Jusuf Kalla dan atas nama bangsa Indonesia
menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada
Bapak Prof. Dr. Susilo Bambang Yudhoyono dan Bapak
Prof. Dr. Boediono yang telah memimpin
penyelenggaraan pemerintahan selama lima tahun
terakhir.

Hadirian yang saya muliakan,
Mengakhiri pidato ini, saya mengajak saudara-saudara
sebangsa dan setanah air untuk mengingat satu hal
yang pernah disampaikan oleh Presiden Pertama
Republik Indonesia, Bung Karno, bahwa untuk membangun
Indonesia menjadi negara besar, negara kuat, negara
makmur, negara damai, kita harus memiliki jiwa
cakrawarti samudera; jiwa pelaut yang berani
mengarungi gelombang dan hempasan ombak yang
menggulung.
Sebagai nahkoda yang dipercaya oleh rakyat, saya
mengajak semua warga bangsa untuk naik ke atas kapal
Republik Indonesia dan berlayar bersama menuju
Indonesia Raya. Kita akan kembangkan layar yang kuat.
Kita akan hadapi semua badai dan gelombang samudera
dengan kekuatan kita sendiri. Saya akan berdiri di
bawah kehendak rakyat dan Konstitusi. Semoga Tuhan
Yang Maha Esa senantiasa merestui upaya kita bersama.

Merdeka !!!
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Semoga Tuhan memberkati,
Om Shanti Shanti Shanti Om,
Namo Buddhaya.
(dc/r7)