Jokowi Ungguli Prabowo

Tidak ada komentar 179 views

Jakarta, (DOC) – Kontestasi riuh-rendah pemilihan presiden mulai terasa. Beberapa lembaga survei pun kini mulai memberi paparan peta kekuatan pada pilpres nanti. Indikator Politik Indonesia pada Selasa (13/5) siang di bilangan Cikini, membeberkan hasil survei dimana Indikator memberi tajuk survei yakni Split-Ticket Voting, Karakteristik Personal dan Elektabilitas Bakal Calon Presiden.
Burhanuddin Muhtadi, Direktur Eksekutif Indikator, mengutarakan bahwa survei yang dilakukan oleh lembaganya ini adalah untuk melihat hubungan antara persepsi pemilih terhadap karakteristik personal calon presiden dengan pilihan terhadap calon presiden. “Terdapat fenomena menarik di masyarakat atau kader partai dimana maraknya split-ticket voting, yakni dukungan konstituen yang tidak linear antara keputusan elit partai dengan basis pemilihnya. Dalam pemilu presiden, akan banyak konstituen partai yang memilih calon yang tidak didukung elit partainya sendiri,” ucap Burhanuddin.
Dengan jumlah sampel 1.220, margin of error ±2,9% pada tingkat kepercayaan 95%, Indikator membagi menjadi lima cara survei yakni Top of Mind, Semi Terbuka 31 Nama, Pilihan 14 Nama, Simulasi 3 Calon dan Foto Calon. Jokowi secara meyakinkan mengungguli Prabowo Subianto dari semua lima cara tersebut, adapun Aburizal Bakrie tertinggal jauh di posisi ketiga.
Jokowi unggul dengan kisaran angka 46,3 %, diikuti Prabowo 29,7 % dan Aburizal 11,6%. “Dari hasil ini bisa diramalkan hanya Jokowi dan Prabowo yang akan bersaing ketat di pemilihan nanti,” tegas Burhanuddin singkat.
Tak hanya itu, dalam survei post-election yang juga bekerjasama dengan Yayasan Pengembangan Demokrasi Indonesia (YPDI) dan Australian National University (ANU) ini, Jokowi juga unggul sebanyak 95% dibanding Prabowo (92%) dan Aburizal (85%) dalam hal lebih banyak dikenal pemilih. Persaingan ketat juga terjadi dari sisi kualitas dimana Jokowi dengan 85%, disusul Prabowo (82%) dan Aburizal yang jauh dibawah keduanya (59%). “Salah satu kesimpulannya adalah, hingga April 2014, sementara elektabilitas Jokowi masih teratas, disusul Prabowo di peringkat kedua dengan selisih sekitar 15%,” ungkap Burhanuddin.
Sementara itu, Ketua DPP PDIP bidang Kepemudaan, Maruarar Sirait, melihat hasil survei Indikator menambah rasa optimismenya bahwa Jokowi akan menang satu putaran. “Pemilu satu putaran akan lebih efektif dan ada kepastian hukum bagi masyarakat,” ucap Ara, sapaan akrabnya.
Menurut Ara juga, terdapat beberapa poin penting dalam diri Jokowi, yang tidak dimiliki oleh partai atau capres lain. “Salah satu poin tersebut yakni kita bersyukur memiliki capres yang memiliki nilai elektabilitasnya yang paling tinggi, konsisten dan stabil selama hampir 1,5 tahun terakhir, walaupun banyak mendapatkan serangan kampanye hitam, elektabilitas Jokowi tak goyah. Selain itu, dengan belum maksimalnya Jokowi dalam beriklan namun memiliki kepopuleran yang lebih tinggi dibanding capres lain, itu adalah sebuah kelebihan yang sangat bagus,” ucapnya.
Wakil Sekretaris Jenderal NasDem, Willy Aditya, mengungkapkan bahwa masyarakat kini sudah mengetahui dan melihat kinerja Jokowi, sehingga Willy tak heran jika Jokowi unggul di survei Indikator. “Besarnya pemilih pemula atau muda pada pemilu tahun ini adalah salah satu indikator mengapa Jokowi unggul dari segi elektabilitas. Pemilih saat ini cerdas dan mereka ingin perubahan,” ucap Willy. (r4)