Jusuf Kalla Terima Special Benevolent Leadership Award dari China

Jakarta (DOC) – Wakil Presiden (Wapres), Jusuf Kalla menerima penghargaan Special Benevolent Leadership Award dari World China Economic Summit tahun 2017.

Penghargaan diberikan oleh panitia World China Economic Summit tahun 2017, Tan Sri Lee Kim Yew di kantor Wapres, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Senin (12/2/2018).

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita dan anggota Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKPPIP) Din Syamsuddin turut hadir.

“Penghargaan ini sangat penting untuk harmonisasi karena seperti yang dikatakan Tan Sri, konon katanya pemimpin di China sangat mengedepankan harmoni, antara pengusaha China dan yang lain (non China),” kata Jusuf Kalla.

Menurut Jusuf Kalla, entrepreneurship di Asia penting untuk negara yang memiliki banyak pengusaha dan pertumbuhan ekonomi yang penting untuk negara tersebut. Untuk itu, kolaborasi dan harmonisasi antara sektor lain sangat penting.

“Karena kebijakan seperti di Indonesia, kami tidak ada diskriminasi antar pengusaha. Itulah kenapa KADIN, Wakil Ketuanya Shinta memiliki hubungan harmonis dengan Menteri Perdagangan, itulah sistem kami di Indonesia juga di dunia,” kata JK.

“Kita tahu bagaimana perang terjadi di Timur tengah di Asia masalahnya adalah disharmonisasi. Bagaimana harmonisnya masyarakat, bagaimana harmonisnya kehidupan tapi, di waktu yang sama bagaimana pertumbuhan itu penting. Kita tak dapat harmonis tanpa pertumbuhan,” imbuhnya.

Indonesia harus memperkuat kebersamaan entrepreneurship dengan negara lain. JK menekankan kebersamaan entrepreneurhsip itu agar ada pembelajaran yang didapat dari negara lain.

“Pengusaha China sangat dinamis, oleh karena itu kita harus hidup di dunia ini secara harmonis. Tapi penting juga bagaimana melihat peluang setelah ini, kita tahu bahwa ekonomi akan lebih digital tapi juga ada dampak negatifnya yaitu monopoli,” jelas JK.

JK kemudian beberapa perusahaan digital yang sudah memonopoli ekonomi di era digital saat ini. Negara ASEAN tidak dapat bergerak bersama tanpa berjalan bersama di ASEAN.

“Facebook memonopoli, Microsoft memonopoli, tapi bagaimana kita dapat bergerak bersama di ASEAN tanpa berjalan bersama di ASEAN. Kita tidak ingin seperti Timur Tengah, seperti Afrika, kita tidak ingin seperti negara yang gagal karena disharmonisasi di negara itu,” ucapnya.(dtc/ziz)