Kader PDIP Tagih WS Bayar Sisa Hutang Pengurusan Ponten

Surabaya,(DOC) – Upaya Kader PDIP Surabaya, Wisnu Sakti Buana(WS) Wakil Ketua DPRD Surabaya dalam mendapatkan haknya untuk menduduki kursi Wakil Walikota(Wawali) Surabaya, menggantikan Bambang DH, memang terbilang cukup gigih.

Bayangkan saja, meski dihadang oleh 15 anggota DPRD Surabaya yang menolaknya menjabat sebagai Wawali, namun WS masih saja bisa lolos mendapatkan SK pengangkatan Wawali dari Mendagri. Bahkan tak tanggung-tanggung, Pelantikan WS sebagai Wawali kota Surabaya, akan dilangsung dilakukan Gubernur Jawa Timur, tanpa melalui sidang Paripurna DPRD Surabaya.

Kegigihan putra Mantan Sekjen DPP PDIP, (Alm) Ir. Sutjipto, ternyata menginspirasi Ny Kojin, pengusaha ponten terminal Purabaya yang akan terus menagih sisa hutangnya sebesar Rp. 110 juta, kepada Calon Wawali tersebut.

Melalui telepon genggamnya kepada d-onenews.com, Ia mengaku senang dengan kabar bahwa WS akan dilantik sebagai Wawali kota Surabaya, dengan harapan sisa hutangnya bisa segera dilunasi.

“Berita WS dilantik ini apa benar pak?, kalo benar saya akan segera menghadap ke Pak Wisnu,” ungkapnya, Jumat(17/1/2014) petang.

Seperti pemberitaan sebelumnya, Kojin adalah salah satu kader PDIP Surabaya, yang membuka usaha ponten di terminal Purabaya pada tahun 2011 lalu, pernah meminta tolong ke WS untuk menjadi perantara pengurusan perpanjangan izin sewa kelola ponten di terminal tersebut. Saat itu, Ny Kojin bersama Almarhum suaminya menyerahkan 2 unit mobil APV dan sejumlah uang, jika ditotal senilai Rp210 juta lebih.

“Harapan untuk mengelola ponten di Purabaya kembali ternyata gagal, karena izin sewa kelola ponten jatuh ke orang lain” jelas Ny. Kojin.

Kegagalan mendapatkan izin perpanjangan sewa ponten di terminal Purabaya itu, nampaknya tidak serta merta diikuti dengan pengembalian 2 unit mobil APV dan sejumlah uang yang diserahkan ke WS untuk biaya pengurusan izin. Sehingga saat itu Kojin yang sudah jatuh miskin terpaksa menagihnya.

“Saat gagal, semuanya belum dikembalikan. Bahkan salah satu mobil milik saya sempat dijual ke orang lain seharga Rp. 50 juta. Kemudian saya menagih ke pak Wisnu dan baru sebagian dibayar,”ungkap Ny. Kojin.

Apabila di total sisa hutang biaya pengurusan izin ponten Purabaya yang gagal, menurut Ny. Kojin yaitu sekitar Rp.110 juta. Dengan dilantiknya Wisnu Sakti Buana menjadi orang nomer 2 di Surabaya, Ia berharap, semua hutangnya bisa terlunasi.

“Memang saya berharap bisa lunas. Kalo tidak bisa dibayar dengan uang, saya minta pekerjaan saja yaitu mengelola ponten atau mengelola usaha yang lain, pokoknya menghasilkan,” pungkasnya.

Sementara itu saat dikonfirmasi terpisah beberapa waktu lalu, Wisnu Sakti Buana mengaku belum pernah berurusan dengan Kojin, apalagi soal pengurusan izin perpanjangan ponten di terminal Purabaya.

“Ya biasa kalo ada orang yang mengaku dan memanfaatkan nama saya. Tapi yang jelas saya baru mendengar sekarang ini,” kata Wisnu singkat.(r7)