Kalisosok Dilirik, Tambah Stok Cagar Budaya

Tidak ada komentar 176 views

Surabaya, (DOC) – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya berencana membeli bangunan bekas penjara Kalisosok. Upaya mengambil alih kepemilikan ini sebagai usaha pemerintah untuk melestarikan cagar budaya yang dibangun pada tahun 1913 oleh kontraktor Hollandsche Beton Maatschapiji.
Walikota Surabaya Tri Rismharini mengatakan pembelian itu masih sebatas wacana. Meski begitu, Pemkot bertekad akan merealisasikan pembelian itu. Sebab, bangunan peninggalan Gubernur Jenderal Herman Williams Daendels memiliki nilai sejarah. Pada masa penjajahan, Kalisosok menjadi tempat yang angker bagi para tahanan.
“Saya tertarik membeli Kalisosok karena nilai sejarahnya,” ujarnya.
Risma, sapaannya, menerangkan sebelum jadi penjara pada zaman kolonial, Kalisosok sebenarnya markas tentara penjajah. Banyak senjata dan peralatan tempur yang disimpan di Kalisosok. “Bapak saya pernah nyuri senjata disitu, dulu itu kan jadi markas para penjajah,” akunya.
Walikota perempuan pertama di Surabaya ini akan menjadikan eks penjara Kalisosok sebagai sentra makanan, penjualan produk usaha kecil menengah (UKM) dan Depo angkutan massal cepat (AMC) berupa monorail dan trem. Tidak cukup hanya itu, Kalisosok rencananya akan disulap menjadi museum sejarah penjajahan di Kota Pahlawan.
“Karena itu juga bisa wisata, museum, dan sentra UKM,” tegasnya.
Disinggung perihal investasi untuk membeli Kalisosok, Risma mengaku Pemkot Surabaya harus merogoh kocek dalam-dalam. Diperkirakan pemerintah harus mengeluarkan uang ratusan juta. Saat ini pemkot sedang menghitung pendapatan dan mengumpulkan uang untuk akuisi Kalisosok.
“Insyaallah tahun ini sudah kita beli, kita masih hitung pendapatan, karena dari beberapa properti yang disewakan ada pemasukan bagi kita (pemkot),” terang Risma.
Sementara itu, Ketua DPRD Surabaya Muchammad Machmud mendukung rencana Pemkot membeli eks penjara Kalisosok. Sebab, tempat itu termasuk cagar budaya yang harus dilestarikan oleh Pemkot Surabaya. Kalau dibiarkan tidak dikelola pemerintah, bukan tidak mungkin akan rusak.
“Saya lebih senang itu dibeli pemkot, karena itu ada nilai sejarahnya,” katanya.
Machmud tidak mempermasalahkan tempat itu akan dikemas sebagai sentra bisnis seperti pemasaran produk usaha mikro kecil menengah (UMKM). Meski begitu, dia menghimbau agar nilai historisnya lebih ditonjolkan ketimbang nilai bisinis. Ia menghimbau, bangunan itu tidak dirombak karena termasuk cagar budaya tipe A. (ist/r4)