Kampung Rungkut Mejoyo Berharap Jadi Kampung Rajut

Surabaya (DOC) – Berawal dari iseng mengisi waktu luang selepas kerja, Tri Ariono dan Anik Sudarwati pasangan suami istri warga Rungkut Mejoyo II Surabaya ini telah menghasilkan kerajinan tangan rajutan aneka tas dari tali kur.

“Sepuluh bulan lalu awalnya iseng-iseng main ke rumah ponakan, saat itu kebetulan ia mendapat tugas sekolah membuat rajutan. Karena unik, saya tertarik untuk mencoba membuatnya sendiri. Lalu iseng saya membeli dompet rajutan seharga Rp 80.000 sebagai contoh awal bagaimana cara membuatnya. Alhasil, meski awalnya rumit ternyata saya berhasil membuatnya. Dari situ saya mulai tertarik, karena selain bahan baku mudah didapat, ternyata jika dijual banyak peminatnya,”ujar Tri Ariono di temui di rumahnya, Kamis (16/11).

Tri mengatakan setalah berjalan 10 bulan ini, sebagai mengisi waktu luang saat libur dan sepulang kerja Tri mengatakan telah berhasil membuat beragam bentuk corak dan model tas. “Alhamdullilah, kini banyak pesanan. Bahkan ada pembeli dari luar Surabaya,” tuturnya.

Soal harga pemasaran dan harga Tri mengaku menggunakan motede getok tular dan memanfaatkan medsos. ” Harga yang kami tawarkanpun cukup bervariasi, tergantung tingkat kesulitan pembuatan serta besar kecilnya kerajinan. Harga termurah ada yang Rp 100 ribu hingga Rp 160 ribu per satuannya,” papar pria 34 tahun yang juga kerja di bidang transportasi ini.

Sayangnya menurut Tri karena keterbatasan waktu dikarenakan dirinya juga kerja, kerajinan yang berhasil dibuat tidak terlalu banyak. Dalam dua hari Tri dibantu Istri hanya bisa menghasilkan satu pruduk tas dengan tingkat kerumitan sedang.

Karena Tri merasa sebuah ilmu harus dibagi Tri tidak hanya berfokus hanya mencari keuntungan saja.Tri juga senantiasa membagikan tip kepada warga setempat dan saudaranya cara sederhana membuat anyaman rajutan.

“Beberapa waktu lalu saya bersama istri difasilitasi pihak BKM, Kecamatan, Kelurahan, RT dan RW telah sukses melakukan pelatihan rajut di balai RW VII Kampung Rungkut Mejoyo II, kepada 12 warga dari perawakilan setiap RT ,” katanya.

Pada pelaksanaan pelatihan yang dilakukan dari jam sembilan hingga jam dua siang Tri menambahkan peserta sangat antusias mengikuti jalannya pelatihan. Dari situsasi tersebut membuktikan bahwa kerajinan rajut dari tali kur ini ternyata cukup diminati warga kampungya.

“Semenjak pelatihan tersebut banyak warga datang kesini. Ada yang meminta cara dasar merajut hingga membeli produk yang sudah jadi. Sayangnya, pelatihan dilakukan hanya sekali saja. Padahal untuk bisa merajut dengan baik, dibutuhkan tiga sampai empat kali lagi pertemuan, ” ujar Tri

Oleh karena itu Tri memandang seni rajut ini harus ditularkan dan diajarkan dengan serius. Karena jika dikembangkan, akan bisa menjadi lahan bisnis kreatif bagi warga Kampung Rungkut Mejoyo. Kerana jika melihat potesinya kerajinan rajut ini, bisa menjadi salah satu destinasi wisata dan pengembangan ekonomi kampung. “Jika di sana ada kampung lontong disini juga bisa menjadi kampung rajut,” tutup Tri.(D02)