KBRS Segel Eks Rumah Radio Bung Tomo

Tidak ada komentar 113 views

foto : Rumah Radio Bung Tomo Disegel

Surabaya,(DOC) – Menjelang detik-detik peringatan Hari Pahlawan 10 November, puluhan massa yang tergabung dalam Komunitas Bambu Runcing Surabaya(KBRS) menyegel proyek pembangunan gedung milik Jayanata di jalan Mawar 10, atau eks Rumah Radio Pemberontakan Radio Bung Tomo, Kamis(9/11/2017).

Selain itu, massa juga meminta para pekerja proyek menghentikan aktivitasnya, karena dianggap melawan hukum dan bisa dipidanakan.

“Area ini akan digunakan sebagai sita jaminan sengketa di pengadilan dengan nomer register 735/Pdt.G/20017/PN. Sby,  Tertanggal 19/9/2017. Kami akan lapor polisi, bila kami temukan ada aktifitas pembangunan,” kata Okky Suryatama, Pengacara Rumah Kemaslahatan Indonesia yang juga kuasa hukum KBRS, saat bernegosiasi dengan pekerja proyek.

Sebelum melakukan penyegelan, aktifis KBRS yang berasal dari buruh, organisasi pemuda,  mahasiswa dan organisasi professional ini, mengawal jalan sidang gugatan penghancuran Rumah Radio Bung Tomo.

Sidang yang digelar di ruang Cakra, Pengadilan Negeri (PN) Surabaya berlangsung cukup hikmad, karena sebelumnya para aktivis KBRS ini mengumandangkan lagu Indonesia raya diawal sidang dan diakhir sidang lagu Padamu Negeri dinyanyikan. Sesekali mereka juga meneriakkan kata ‘Merdeka!’ disaat jalannya persidangan.

“Merdeka. Arek Suroboyo melawan penindasan,” teriak Yanto salah satu aktivis KBRS.

Sidang ke empat yang berlangsung pukul 10.30 WIB, Kamis(9/11/2017), pihak tergugat yaitu PT Jayanata tidak hadir dan Wali kota hanya diwakili oleh pegawai dari biro hukum Pemkot Surabaya.

Okky Suryatama kembali menyatakan, perdebatan antara penggugat dengan tergugat sempat terjadi didalam persidangan, terutama berkaitan dengan kesiapan mediasi dan mediator.

“Pihak tergugat mengajukan nama – nama mediator. Kesiapan yang penggugat tentang pembiayaan tapi pihak tergugat memahami kesiapan sebagai kesiapan membangun. Pemahaman kesiapan membangun itulah yang kemudian ditegur oleh majelis hakim,” katanya.

Disidang itu, majelis hakim mengingatkan perwakilan Pemkot bahwa sidang belum sampai pada pembahasan pembangunan. Akhirnya sidang ditutup dengan kesepakatan dan akan dilanjutkan pada Kamis(16/11/2017) mendatang.

“Proses sidang masih mediasi. Lalu pihak penggugat mengajukan Prof.  Soeparto Wijoyo dan Prof Agus dari fakultas hukum Unair sebagai mediasi yang akhirnya disetujui oleh pihak tergugat,” pungkas Okky.(rob/r7)