Kebijakan Walikota Bikin Pelajar Surabaya Meradang

 Featured, Peristiwa

Bersih Kali Surabaya Makan Korban Jiwa

 

Surabaya (DOC) – Program ‘Bersih-bersih Kali’ Surabaya yang dilakukan Pemkot Surabaya memakan korban jiwa. Adalah Ririn Nur Wulandari (17 tahun), siswi SMA Negeri 8 Surabaya yang tewas akibat tertabrak truk pengangkut sampah di perempatan Jl Dupak – Jl Demak Akses Surabaya pada Rabu pagi (28/11).

Ririn yang berangkat untuk mengikuti Bersih-bersih Kali sebagaiman yang diinstruksikan Walikota Surabaya kepada Dinas Pendidikan, tak menyangka nyawanya akan melayang oleh truk yang juga akan berangkat ke lokasi Bersih-berih Kali Surabaya. Ribut sopir truk sampah tersebut mengaku terburu-buru ke lokasi lantaran takut terkena marah.

Insiden tersebut tak pelak memantik reaksi sejumlah kalangan. Sejumlah siswa SMA di Surabaya mengaku kecewa kejadian tersebut. Terlebih, Ririn tak segera ditangani saat terkapar di perempatan jalan. Selama dua jam, Ririn meregang nyawa dan akhirnya tewas tanpa pertolongan. Tak hanya siswa, para guru pun mengaku kecewa dengan kejadian tersebut.

”Gara-gara kegiatan itu teman kami mati, panitia harus bertanggungjawab. Kalau tidak kami akan galang pelajar se-Surabaya untuk demo,” ujar salah satu siswa SMA.

Ketua Komisi D DPRD Surabaya, Baktiono menyatakan wajar kalangan pendidik dan peserta didik marah dengan kondisi tersebut. Pasalnya, ujar Baktiono, instruksi Walikota Surabaya terkesan semena-mena hingga akhirnya menyebabkan nyawa melayang. Baktiono menilai, kebijakan untuk melibatkan siswa-siswi sekolah merupakan kebijakan yang ceroboh, tanpa diperkirakan dampak yang akan terjadi.

”Pertama, mereka harus membolos sekolah. Ini mbolos sekolah massal dan dilegalkan. Kedua, kalau ada insiden kecelakaan seperti yang menimpa siswi SMA 8, belum jelas siapa yang bertanggungjawab.

“Kematian memang masalah takdir. Tapi tidak seharusnya acara bersih-bersih kali ini melibatkan pelajar. Hari ini kan bukan hari libur. Kegiatan ini sungguh mengganggu proses belajar mengajar,” kecam politisi PDI Perjuangan tersebut seperti dikutip Surya Online.

Menurutnya, kegiatan show of force yang selama ini dilakukan Walikota sebaiknya dihentikan dan diganti dengan kerja nyata. Walikota, kata dia, kerap memanfaatkan masyarakat untuk kepentingan pencitraannya tanpa memaksimalkan SKPD-SKPD yang ada.

“Pemkot kan punya anak buah banyak. Kerahkan saja mereka, dan tidak perlu sampai menyuruh pelajar ikutan ke kali. Saya menyesal pada akhirnya, ada pelajar yang kehilangan nyawa,” sesalnya.

Baktiono menuntut agar wali kota dan pihak even organiser (EO) bertanggung jawab atas kematian Ririn. Terlebih, katanya, acara tersebut bukan agenda pemerintah kota. ”Jadi wajar kalau para pelajar marah, para guru marah, masyarakat juga ikut marah, dan memang harus marah, bukan cuma walikota saja yang bisa marah,” tandasnya. (sur/r3)