Kebodohan Vicky Menjadi Hiburan

Tidak ada komentar 137 views

Surabaya,(DOC) – Demam Vicky Prasetyo, demikian orang menyebutnya. Ini sudah melanda di seluruh lapisan masyarakat, tak peduli status sosial masyarakatnya. Baik yang terdidik atau terpelajar ataupun yang tidak sama sekali.

Biasanya yang ditirukan adalah gaya bahasa Vicky –mantan tunangan artis dangdut Zaskia Gotik- yang sok akademis. Seperti statusisasi hati, legal ekonomi ataupun kudeta cinta.

Namun hal itu sebenarnya bukanlah sebagai pembenar dari kalimat yang dikeluarkan Vicky, melainkan justru memperolok sok pintarnya si Vicky yang belakangan dicap publik sebagai penipu karena berbagai dugaan kasus tindak kriminalnya (penipuan).

Orang menertawakan Vicky yang mengklaim dirinya lulusan S3 dari perguruan tinggi di Amerika Serikat.

Menurut psikolog Ika Rachmawati yang kini lebih banyak mengurusi masalah ketenagakerjaan di kawasan timur Indonesia, apa yang dilakukan Vicky itu sebagai rasionalisasi dan self justification.

“Hal itu merupakan cara menolong diri sendiri secara tidak wajar atau teknik pembenaran dengan tidak rasional. Vicky melakukan itu agar dianggap sebagai orang yang berpendidikan tinggi karena dia sendiri mengaku sebagai seorang sarjana dari negeri Paman Sam. Untuk menutupi hal itu, dia pun berbicara layaknya seperti seorang yang berpendidikan, tapi sejatinya dia sendiri tak sadar akan hal itu,” kata Ika.

Tindakan narsism atau dengan kata lain, mencintai diri dengan sangat ekstrim atau paham yang menganggap diri sendiri sangat superior dan amat penting. Dengan secara tidak sengaja, ternyata apa yang dilakukannya justru membuat orang lain tertawa.

“Sebenarnya, Vicky itu berusaha memberikan atribut yang bagus, unggul atau baik yang berlebih-lebihan pada suatu kegagalan dan kelemahannya sendiri. Vicky tak menyadari jika di Indonesia ini juga banyak orang pintar yang sadar akan keluguan si pembuat heboh tersebut,” tukas Ika.

Sementara terkait dengan apa yang saat ini menjadi demam di masyarakat, tak hanya orang awam tapi juga kalangan politikus, itu hanyalah sebuah hiburan.

Orang sadar jika apa yang ditirunya itu salah. Jadi semua itu tak lebih sebagai pelepas beban berat yang selama ini dialami seseorang demi menghibur dirinya.

Demam seperti ini, tambah Ika, tak akan berlangsung lama. Masyarakat yang sudah sarat dengan beban pikirannya, akan mudah fresh setelah mendapat hiburan.

Sebelumnya sudah ada kalimat penyemangat seperti ‘Keep Smile’-nya Caesar. Orang yang pada suatu waktu mengalami emosi, saat mendengar kalimat Keep Smile dari lawan bicaranya, tentu bisa meredakan emosinya bahkan sampai tertawa. Kini sudah muncul lagi kalimat-kalimat penghibur Vicky Prasetya.

Bahkan tak semua orang menyukai atau menirukan kalimat si Vicky. Banyak juga orang yang menegaskan jika kalimat itu adalah suatu kebodohan dan tak pantas untuk ditirukan.

“Cap orang seperti itu, menirukan kalimat Vicky, sama saja meniru kebodohannya. Karena itu lebih baik tidak menirukan dan hanya tertawa saat mendengarnya. Orang seperti ini lebih cenderung pada sikap perfeksionis, tak mau main-main untuk membodohkan diri sendiri,” tandas Ika.(co/r4/r7)