Kedekatan Ketua Dewan dan Walikota Mulai Menuai Kritik

Surabaya,(DOC) – Mendekati pemilihan legeslatif 9 April 2014 mendatang, kecemburuan antar anggota DPRD kota Surabaya yang akan mencalonkan kembali mulai bermunculan.
Kedekatan Ketua DPRD Surabaya M. Mahmud dengan Walikota Surabaya Tri Rismaharini, nampaknya mulai menuai kritikan.

Anggota Komisi D (pendidikan dan kesra), Masduki Toha, menilai kredibilitas lembaga legeslatif sebagai fungsi control kinerja eksekutif kini mulai luntur, karena prilaku Ketua DPRD Surabaya yang kerap terlihat mendampingi walikota dalam berbagai kegiatan.
“Ingat, Machmud itu membawahi 49 anggota dewan. Saya tidak tahu, dia(Mahmud,red) faham atau tidak jika salah satu fungsi kita adalah kontrol kepada pemerintah kota,” kritik politisi asal FKB ini, Selasa (3/12/2013).

Meski tindakan itu sah, tapi dari segi etika, tindakan itu tidak bisa dibenarkan. Bahkan Ia menyebut, bahwa kebiasan itu membuktikan, kalo mantan Ketua Komisi B ini tidak memahami tugasnya sebagai Ketua Dewan.

“Sebenarnya lumrah, tapi kan tidak etis dilihat orang. Terlepas apapun tujuanya yang pasti dia (Machmud, red) tidak sadar tugasnya sebagai Ketua Dewan. Kalau sekali dua kali gak papa, ini kan sering dilakukan di Dapil 5 Surabaya,” katanya.

Sebaiknya Ketua DPRD Surabaya, lebih fokus mengerjakan tanggung jawab yang diemban. Menurut Masduqii, Sejumlah posisi strategis di dewan yang selama ini masih kosong, seharusnya di prioritaskan.

“Harus ditetapkan jabatan yang masih lowong ini. Karena tidak optimalnya kinerja dewan salah satu penyebabnya adalah masalah itu. Ini harusnya lebih penting daripada kegiatan yang ada di luar,” tegasnya.

Saat diklarifikasi, Ketua DPRD Surabaya Mochammad Machmud asal Partai Demokrat Surabaya ini, membantah bila beberapa kegiatan yang ia lakukan bersama walikota Tri Rismaharini, merupakan bentuk pencitraan secara pribadi. Menurutnya, selama ini kehadiran dirinya berdasarkan undangan yang diterimanya.

“Kalau saya disebut selalu mendampingi bu Wali itu tidak benar. Karena yang mengawal bu wali kemanapun itu adalah ajudan-nya,” katanya.

Ia menegaskan, kedatangan dirinya bersama Walikota Surabaya hanya sebatas menjaga hubungan agar kinerja eksekutif dan legislatif bisa sejalan dengan baik.

“Hal wajar jika eksekutif dengan legislatif memiliki hubungan yang harmonis. Tapi kalau ini diartikan lain ya monggo (silahkan, red) saja. Saya malah heran, kenapa sesama anggota dewan saling mengkritisi, seharusnya ya mengkritisi kinerja eksekutif,”pungkasnya.(k1/r7)