Kekerasan Terhadap Remaja Meningkat

Tidak ada komentar 157 views

Surabaya,(DOC) – Lembaga Swadaya Masyarakat(LSM) Telepon Sahabat Anak(TESA ) Jawa Timur mencatat, kekerasan remaja saat masa pacaran terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.
Jika ditahun 2012 lalu, terdapat 97 kasus, namun ditahun 2013 ini, terhitung sejak Januari hingga Juli, kekerasan remaja saat masa pacaran sudah mencapai 109 kasus.
Berdasarkan pengaduan, penyebab terjadinya kasus kekerasan pada masa pacaran ini, cukup bervariasi yaitu akibat ketidak percayaan diri remaja sebanyak 14 kasus, kemudian sebanyak 64 kasus karena ketidak tahuan dan ketidak percayaan terhadap potensi yang dimiliki, dan sisanya sebanyak 25 kasus, disebabkan disharmoni keluarga, persoalan ekonomi, perbedaan pandangan antara anak dan orang tua dalam memilih teman atau pacar.
Kasus kekerasan pada masa pacaran, biasanya diawali dengan permintaan bukti kasih sayang dari pihak laki-laki. Bukti kasih sayang tersebut biasanya diartikan dengan bentuk hubungan pasangang suami istri(Pasutri), dengan menyerahkan kesucian remaja perempuan. Pembuktian kasih sayang ini berbanding lurus dengan momen-momen tertentu, seperti hari valentine, lebaran, pergantian tahun hingga saat kelulusan.
Menurut Isa Anshori Ketua TESA Jatim, kebanyakan sang pria remaja ini, secara sepihak pergi meninggalkan kekasihnya, ketika bukti kasih sayang itu sudah tercapai.
“Inilah yang membuat anak merasa berdosa, dan merasa tidak berarti lagi. kemudian tidak percaya diri, minder, akhirnya cenderung menyimpang,kekerasan pada masa pacaran meliputi diputuskan sepihak setelah pihak laki-laki bisa merenggut kegadisan di perempuan atau tentang perbedaan pendapat diantara mereka”, Ungkap Isa.
Isa menambahkan, saat suasana galau ini-lah, para remaja perempuan yang menjadi korban, baru menghubungi TESA 129 untuk curhat maupun berkonsultasi. “Ya curhatnya sekitar, bagaimana mereka tidak mengalami kehamilan yang tidak diinginkan selama masa pacaran”, Cetusnya.
Untuk meminimalisir kasus ini, Dirinya menyarakan ke pemerintah, agar sering melibatkan para remaja untuk berkreasi dalam kegiatan bersejarah atau event-event penting. Sehingga mereka bisa berfikir positive dan terus kreative untuk mendapatkan prestasi.
“Minimnya ruang berekspresi dan tempat beraktualitas remaja adalah salah satu penyebab penyimpangan yang terjadi pada usia remaja di Jawa Timur. Seperti event event hari bersejarah kota/kabupaten, tidak melibatkan kreasi kalangan muda daerah ,malah lebih bangga dengan menghadirkan artis dari Jakarta”, kritik pakar pemerhati pendidikan ini.(yen/r7)