Kekuatan DPR Maupun Parpol Kalah Dengan Peran Kekuatan IT

Surabaya (DOC) – Pengamat politik di Jatim menilai, berpolitik baik itu yang dilakukan oleh DPR maupun Parpol ternyata sering dikalahkan dengan peran kekuatan Teknologi Informasi (TI) seperti halnya jejaring sosial Facebook maupun Twitter.“Hal tersebut dapat dilihat dari Pilkada DKI Jakarta yang tidak melihat lagi parpol sebagai penentu, namun indikator lain seperti halnya jejaring sosial,” ujar Martono, salah satu Pembicara Sarasehan Empat Pilar Kebangsaan yang digelar Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jatim dan Forum Masyarakat Cinta Damai (Formacida) di Surabaya, Kamis (1/11).

Dia menuturkan, ada suka atau tidak suka tentunya peran DPR, parpol atau ulama sudah diambil alih dengan peran kekuatan media jejaring sosial. Ini terjadi dalam fenomena Pilkada DKI Jakarta dan kasus Prita. ”Kemenangan Jokowi dan Prita didukung penuh oleh kekuatan media jejaring sosial, Facebook, Twetter, Youtube, dan lainnya,” tandasnya.

Selain itu, Martono juga mengatakan kebebasan dalam berdemokrasi di Indonesia tentunya berimplikasi kepada banyaknya jumlah parpol, dan juga tidak diimbangi dengan kekuatan finansial (keuangan) yang kurang maksimal. Dengan melihat ini, ada kecenderungan parpol yang ada tersebut dimungkinkan melakukan korupsi demi mencukupi kehidupan parpolnya.
Karena itu, kata Martono, verifikasi pendirian partai politik perlu adanya standardisasi keuangan, sehingga apabila terdapat parpol yang mendaftarkan dirinya namun tidak memiliki kemampuan finansial yang mencukupi, maka harus dipertimbangkan lagi. Hal ini sebagai antisipasi pendirian parpol agar tidak terus menerus melakukan korupsi.

“Hampir tidak ada di Indonesia ini parpol yang tidak korupsi. Itu harus diantisipasi dengan standardisasi keuangan yang ketat. Jika ada partai mendaftar dengan kemampuan finansial rendah, maka sebaiknya partai tersebut bergabung saja dengan partai yang lain,” kata Martono yang menjabat Ketua DPD Jatim Partai berlambang pohon beringin.

Rektor UPN Prof Dr Ir Teguh Sudarto menambahkan, untuk menanamkan karakter kebangsaan melalui keyakinan empat pilar kebangsaan kepada para pemuda, dan mahasiswa UPN khususnya. Dibutuhkan banyak elemen masyarakat untuk terwujudnya penanaman karakter bangsa kepada masyarakat.

“Empat Pilar Kebangsaan di antaranya Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika. Eksistensi bangsa kita akan sangat dipengaruhi dengan karakternya. Sedangkan karakter itu tercermin dari pengamalan-pengamalan dari empat pilar ini,” pungkas Prof Teguh. (R-6)