Kelola Sampah, Surabaya Bisa Tiru Semarang

Tidak ada komentar 200 views

Surabaya, (DOC) – Pemerintah kota Surabaya bisa meniru metode kerja ama pengelolaan sampah yang dilakukan Pemkot Semarang. Metode ini sangat bertolak belakang dengan metode kerja sama yang dilakukan Pemkot Surabaya dengan investor TPA Benowo yang mewajibkan Pemkot membayar tipping fee puluhan milyar per tahun.
Dari hasil kunjungan kerja Pansus Raperda Pengelolaan Sampah diperoleh data Pemkot Semarang tidak sepeserpun mengeluarkan dana APBD kepada pihak pengelola.Bahkan Pemkot Semarang mendapatkan semacam fee dari hasil pengelolaan sampah.
“Soal pengelolaan sampah, kami mendapatkan metode kerja sama yang menarik dilakukan oleh Pemkot Semarang. Mereka bahkan mendapatkan semacam fee dari pengelola,” ungkap ketua Pansus Raperda Pengelolaan Sampah , Tri Setijo Puruhito, Selasa(29/10).
Menurut Tri, meskipun kapasitas pengelolaan sampah di kota Semarang masih lebih rendah dari Surabaya, hanya 400 ton per hari, namun pihak pengelola sama sekali tidak menggunakan anggaran APBD.
MoU antara Pemkot Semarang dan pengelola, lanjut Tri, disebutkan pihak pengelola wajib mengelola sekitar 400 ton sampah per hari. Salah satu metode pengelolaan sampah yang dilakukan, kata Plt Ketua Komisi B ini, adalah dengan mengubah sampah menjadi kompos atau pupuk organik.
Dan ternyata, ujarnya, lebih hebat lagi pihak pengelola sampah di kota Semarang bekerja sama dengan PT.Petrokimia Gresik untuk memasarkan kompos atau pupuk organik tersebut.
“Jadi mereka ternyata produsen pupuk kompos dengan label Petrokimia Gresik. Pihak Petro sendiri yang membeli dan menjualnya. Ini membuat kami terkejut, Petro kan di Jatim, kerja samanya malah dengan Semarang,” kata Tri.
Dari hasil penjualan pupuk kompos itulah, kata Tri, pihak pengelola mempunyai laba dan memberikan kontribusi sebesar Rp580 juta per tahun pada Pemkot Semarang. “Jadi pengelola sampah di Semarang tidak makan APBD, malah memberi kontribusi,” tegas Tri.
Sementara itu salah satu pemerhati lingkungan kota Surabaya, Teguh Adi Sriyanto dikonfirmasi mengakui sudah lama tahu pihak Petrokimia Gresik mempunyai program reselling pupuk organik dari kompos bekerja sama dengan pihak ketiga termasuk pengelola sampah di beberapa daerah.
Menurutnya terlepas dari startegi pemasaran BUMN tersebut, ia memberikan apresiasi besar pada proyek ini. Teguh yakin Surabaya dengan kapasitas sampah 1000 ton lebih per hari bisa memanfaatkan kerja sama dengan pihak Petrokimia Gresik.
“Melihat kapsitas sampah di Surabaya yang sangat besar, proyek Petrokimia Gresik ini bisa dimanfaatkan untuk menambah PAD. Saya heran mengapa kita yang dekat dengan Gresik justru tidak melakukan kerja sama ini,” terangnya. (g/r4)