Kembangkan Riset SDA Untuk Industri Komersial

Tidak ada komentar 159 views

Surabaya,(DOC) – Maraknya penelitian hasil sumber daya alam(SDA) Indonesia oleh negeri asing, memicu produsen farmasi PT Kalbe Farma Tbk untuk menggali dan memanfaatkan hasil penelitian dalam negeri guna di implementasikan ke industri komersial.

Rencananya, PT Kalbe Farma Tbk bersama Kementerian Riset dan Teknologi(Kemenristek) menghidupkan kembali program Ristek-Kalbe Science Awards (RKSA) 2014 bagi para peneliti terbaik dari kalangan akademisi.

Head of Corporate Business Kalbe Farma, Widiyanto mengatakan program tersebut ditujukan untuk memberikan penghargaan kepada peneliti dan hasil penelitian terbaik di bidang farmasi, kedokteran, pangan fungsional, lifesciences dan teknologi kesehatan.

“Kami sekarang memang ingin menggalakan penelitian dalam negeri karena seperti diketahui sumber daya alam di Indonesia cukup tinggi tetapi kenyataanya justru dieksplor oleh negara lain,” ujarnya usai mengisi Seminar Optimasi Sinergi Akademisi, Industri dan Pemerintah dalam Menghasilkan Riset Unggulan Nasional, di Universitas Airlangga, Surabaya, Kamis (20/3/2014), kemarin.

Widiyanto mencontohkan selama ini sumber daya alam berupa melinjo, kayu manis dan kopi ternyata sudah diteliti oleh Amerika Serikat dan manfaatnya sudah dikenal di sana, padahal bahan dasarnya diperoleh di Indonesia.

“Ini sangat menyedihkan, orang luar meneliti, dipasarkan di sana lalu booming, sementara di Indonesia baru memulai meneliti, kan telat,” ujarnya.

Dia mengungkapkan selama ini program RKSA yang dimulai sejak 2008 itu hanya berhenti sampai penelitian dan tidak ada kelanjutan untuk memasuki dunia industri komersial. Menurutnya, penelitian yang dihasilkan dalam RKSA selama ini sulit diaplikasikan ke dalam industri komersial.

Sebagai pelaku industri, pihaknya akan banyak berkolaborasi dengan universitas, institusi pemerintah dan pelaku industri lainnya.

“Kami ingin benar-benar menggalakan dari awal, konsep dengan diskusi lebih erat, apa yang diteliti sesuai kebutuhan industri dan masyarakat, itu yang kami kembangkan,” ujarnya.

Widiyanto menambahkan, ke depan tren industri farmasi akan mengarah pada pangan fungsional sesuai kebutuhan pasar, kemudahan regulasi, dan proses penelitian yang simple.

“Orang kalau minum obat yang kapsul kan kesannya serius, nah ke depan inovasi seperti obat yang bentuknya sirup, jus atau bentuk-bentuk lain yang sepertinya diminati. Hal simple seperti ini yang perlu digali,” imbuhnya.(pb/r7)