Kenaikan Tarif Parkir Jakarta, Dikeluhkan Pengemudi

Surabaya, (DOC) – Pengguna jasa parkir dalam gedung mulai mengeluhkan kebijakan Pemprov DKI Jakarta yang menaikkan tarif parkir off street atau parkir dalam gedung. Pengguna yang mengeluh kebanyakan pengemudi angkutan barang. Seperti yang dialami salah satu pengemudi yang memarkirkan kendaraannya di pusat perbelanjaan Glodok, Tamansari, Jakarta Barat.
Roosna, pengemudi asal Menteng mengaku kebijakan itu terlalu mahal. Awalnya, dari Rp3.500 per jam, kini menjadi Rp5.000 per jam. Tentu saja bagi pengemudi, tarif tersebut sangat berat, karena perusahaannya tak menaikan uang operasional.
Alasannya, dengan uang operasional yang minim, dirinya harus bolak-balik masuk pusat perbelanjaan Glodok dan saat bongkar muat butuh berjam-jam. “Bayangkan, dengan uang operasional Rp100 ribu, saya harus masuk tempat itu sampai 10 kali. Ini kan berat,” keluh Roosna.
Untuk itu, para pengemudi meminta agar mengevaluasi kenaikan tarif tersebut. Belum lagi para pengemudi harus mengeluarkan uang extra untuk membayar jasa-jasa lainnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, Berdasarkan Pergub 120/2012 tentang Perparkiran di DKI Jakarta, tarif parkir di pusat-pusat perbelanjaan dan hotel atau kegiatan parkir yang menyatu, serta perkantoran dan apartemen, untuk kendaraan jenis sedan, jeep, pick up, minibus, dan sejenisnya Rp3.000-5.000 pada satu jam pertama. Jam berikutnya menjadi Rp 2.000-4.000.
Kemudian jenis bus, truk, dan sejenisnya, pada jam pertama Rp 6.000-7.000 dan jam berikutnya Rp 3.000 per jam. Untuk sepeda motor, tarifnya Rp 1.000-2.000 pada jam pertama dan jam berikutnya Rp 1.000 per jam. Tarif itu jauh lebih mahal dibanding sebelumnya.
Dalam Keputusan Gubernur 48/2004, yang menjadi acuan tarif parkir sebelumnya, untuk kendaraan jenis sedan, jeep, minibus, pick up, dan sejenisnya, hanya Rp 1.000-2.000 pada jam pertama dan jam berikutnya Rp 1.000- 2.000 di jam berikutnya. (R8/BDC)