Kental Nuansa Historis, Balai Kota jadi Jujugan Turis

Surabaya, (DOC) – Jika kebanyakan gedung pemerintahan identik dengan nuansa kaku dan formal, tak demikian halnya dengan Balai Kota Surabaya. Bangunan yang jadi pusat pemerintahan di Kota Pahlawan itu malah terbuka, serta menawarkan keramahan bagi para turis.

Alih-alih wajib mengenakan kemeja dan bersepatu, pemandangan yang tersaji di balai kota pada Rabu (20/3) siang, justru berbalik 180 derajat dari aturan formal. Puluhan pengunjung terlihat santai dengan baju kasual. Beberapa diantaranya dengan setelan kaos, celana pendek, dan sandal nampak “menjelajahi” gedung yang berstatus cagar budaya itu. Ya, mereka adalah para turis asing penumpang kapal pesiar Seabourn Odyssey yang tengah sandar di dermaga Jamrud Utara, Pelabuhan Tanjung Perak.

Seabourn Odyssey masih satu manajemen dengan Seabourn Legend. Sebagai informasi, Seabourn Legend merupakan kapal pesiar asing yang sepanjang 2012 lalu tercatat beberapa kali singgah di Surabaya. Untuk Seabourn Odyssey, ini adalah kali pertama kapal yang mampu mengangkut 400 penumpang itu memasukkan Surabaya dalam rute yang dilalui. Penumpangnya kebanyakan berasal dari Amerika Serikat dan Kanada. Serta ada juga yang dari negara-negara Eropa seperti Spanyol, Perancis, Ukraina, dan Rusia. Baik Seabourn Legend maupun Odyssey sama-sama kapal wisata lintas negara.

Soal balai kota yang kerap kali dijadikan jujugan para wisatawan, Kepala Dinas Pariwisata (Disparta) Surabaya Wiwiek Widayati mengatakan, balai kota merupakan salah satu cagar budaya dengan nilai historis tinggi. Menurutnya, arsitektur dan interior balai kota yang dibangun sejak 1923 punya ciri khas yang menarik. Keunggulan inilah yang ditawarkan pemkot plus dipadukan dengan kesenian lokal seperti tarian Lenggang Surabaya dan Reog.

Selama di balai kota, mereka (para turis) disuguhi jajanan khas Surabaya. Aneka kue berjajar di atas piring di meja panjang yang ada di lobby lantai satu. Tak ketinggalan minuman kelapa muda serta es buah disiapkan di sisi ruangan yang berlawanan. Sembari menikmati sajian kue, para pelancong luar negeri langsung menyebar ke seluruh bagian balai kota.

Dari pantauan, setidaknya ada tiga bagian dalam balai kota yang banyak menyedot perhatian turis. Pertama, tentunya lobby lantai satu tempat hidangan kue disajikan. Pada bagian ini, banyak ornamen dan gambar yang menceritakan sejarah Kota Surabaya. Kedua, sudut dekranasda di samping lift lantai satu. Stan yang menjual beragam kerajinan tangan ini ramai diserbu pengunjung. Tak sedikit bahkan yang tergoda mencoba pernak-pernik khas Surabaya lalu tertarik membelinya.

Tempat berikutnya yakni bunker atau ruang bawah tanah. Beberapa wisatawan penasaran ingin masuk ke bunker yang sudah ada sejak zaman Belanda. Misalnya, sepasang turis asing yang terlihat antusias menanyai Cak dan Ning, duta wisata Surabaya perihal sejarah bunker tersebut. Sebenarnya, ada satu bagian lagi yang jadi favorit pengunjung selama ini, yaitu ruang kerja wali kota di lantai dua. Namun, di saat yang bersamaan wali kota tengah menerima kunjungan tamu.

Wiwiek menambahkan, intensitas kunjungan kapal pesiar asing sudah mulai meningkat sejak tiga tahun belakangan. Dia mengungkapkan, rata-rata dalam setahun bisa sampai 8 kapal yang singgah. Melihat tren terkini, Wiwiek yakin angka tersebut dapat terus berkembang. “Ini (Seabourn Odyssey) adalah kapal kedua dalam tahun ini, sebelumnya pada 27 Februari lalu, kapal pesiar MV Rotterdam juga mampir ke sini,” katanya sembari mengisyaratkan bahwa maraknya kunjungan tersebut.

Kadisparta menyikapi maraknya kunjungan kapal pesiar asing sebagai suatu peluang yang harus ditangkap. Wiwiek menyatakan, pihaknya akan terus menggenjot sektor pariwisata dengan mengoptimalkan destinasi di Surabaya. Dengan demikian, perkembangan industri pariwisata akan semakin signifikan.

Di tempat yang sama, Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia atau Asosiasi Guide Indonesia Jawa Timur, Narto, menuturkan, asal mula kunjungan Seabourn Odyssey ini berawal dari masukan Seabourn Legend yang pernah ke Surabaya tahun lalu. Berdasar evaluasi, mayoritas turis menilai bahwa Surabaya layak dikunjungi. Bahkan, menurut mereka, Surabaya lebih menarik ketimbang Jakarta.

“Rencananya, kapal yang sama akan kembali singgah pada Oktober mendatang. Yang pasti, rangkaian kunjungan akan terus terjadi hingga 2014. Ini bukti bahwa Surabaya semakin menggoda wisatawan luar negeri untuk datang,” terang Narto. (r4)