Kepala Dinas Pendidikan Incar Lahan SD Aisyiyah Wonorejo

Surabaya,(DOC) – Ahli waris pemberi wakaf tanah Wonorejo Indah Timur Kav 21 yang saat ini berdiri SD Aisyiyah Rungkut, Siti Barlian Farida, kecewa dengan Dinas Pendidikan dan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Surabaya. Pasalnya, keberadaan SD Aisyiyah itu sudah ‘disingkirkan’ dan tak dibela sama sekali oleh Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Surabaya. Bahkan Pimpinan Wilayah Aisyiyah (PWA) Jatim juga ikut-ikut dengan masalah itu.
Kini SD Aisyiyah yang hanya dinaungi dan dikelola Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Rungkut, berjalan sendiri. Sementara di Surabaya, masih banyak sekolah agama lainnya yang tak memiliki izin operasional, namun tetap mendapatkan dana bantuan operasional sekolah dan bantuan operasional pendidikan daerah. Ini juga yang dipertanyakan pengelola Aisyiyah atas ketidakadilan yang diberlakukan Dinas Pendidikan Surabaya. Padahal, SD Aisyiyah Rungkut selama ini untuk menghidupi sekolah dan gurunya, berjuang sendiri.
Menurut Ketua Badan Peningkatan Mutu Pendidikan SD Aisyiyah Wonorejo Indah Timur Mujairi, ahli waris yang memberikan wakaf itu ke PCA Rungkut, Siti Barlian Farida telah membuat surat pernyataan ahli waris. Dia menegaskan, jika tanah wakaf yang berada di Jl Wonorejo Indah Timur Kav 21 diperuntukan bagi pendidikan. Lembaga pendidikan tersebut adalah SD Aisyiyah Rungkut Surabaya, pengelolaan wakaf dan SD Aisyiyah diserahkan kepada Pimpinan Cabang Aisyiyah Rungkut Surabaya.
Surat pernyataan itu dibuat Siti Barlian Farida pada 16 April 2013 setelah surat Ikhsan dari Dinas Pendidikan keluar, terkait larangan SD Aisyiyah Rungkut beroperasi. Tindakan Ikhsan itu dianggap tak manusiawi dan seenaknya sendiri, terkesan surat penutupan itu, mengandung motiv lain.
“Kami prihatin, karena pada pertemuan antara PDA Surabaya dengan wali murid tidak memberikan solusi. PDA ngotot memutuskan untuk merger. Padahal pelaksanaan merger jadi tanggungjawab Dinas Pendidikan. Sejak Kepala Dinas Pendidikan Surabaya Ikhsan mengeluarkan surat larangan beroperasi untuk SD Aisyiyah dan meminta merger ke sekolah lain, PDA Surabaya juga mengabulkannya. Pimpinannya Musyfiroh malah mengatakan jika merger ke SD Muhammadiyah Pucang, SD Muhammadiyah 26 Sukolilo, jelas wali murid tak mampu membayarnya karena mahal. Karena itu pilihannya hanya ke SD Muhammadiyah 9 di Kenjeran, wali murid menolak karena ongkos sosial dan ekonominya tak diperhitungkan,” ujar Mujairi.
Selain itu, saat ditanya soal bentuk merger itu, apakah melibatkan para guru SD Aisyiyah Rungkut, Musyfiroh justru tak memberi solusi. Ini yang membuat persoalan SD Aisyiyah semakin ruwet.
Permasalahan SD Aisyiyah ini sebenarnya sudah pernah diajukan para guru untuk digelar hearing, namun gagal. Kabarnya memang ada pihak di dewan yang tak menginginkan masalah ini selesai. Artinya, pihak di dewan itu sangat ingin menghilangkan SD Aisyiyah demi kepentingan yang lebih besar.(CO/r4)