Ketan Punel Usaha Sampingan Wartawan Surabaya

Tidak ada komentar 524 views

Profesi tak menghalagi seseorang untuk menjalankan bisnis sampingan atau berwirausaha. Justru dengan jaringan yang terbangun saat menjalankan profesi, dapat mendukung usaha sampingan itu sendiri. Ya, itulah yang dirasakan Wahyu Darmawan.
Kesehariannya, Wahyu dikenal sebagai seorang jurnalis yang bekerja disalah satu media cetak lokal ternama di Surabaya. Namun dalam beberapa bulan terakhir, pria kelahiran Madiun tersebut mendapat julukan baru, yakni, “Wahyu Juragan Kenal Punel”. Ini tak lepas dari usaha sampingan yang dijalankan dengan menjual “Ketan Punel”.
“Ketan Punel” sendiri adalah makanan khas Indonesia, khususnya Jawa, namun sekarang sudah agak sulit untuk ditemui. Terutama di kota besar seperti Surabaya. Proses pembuatannya pun cukup sederhana, dimana beras ketan ditanak hingga matang.
Kemudian penyajiannya ditambahkan bubuk kedelai, selundeng pedas atau gula jawa untuk menambah rasa. Itulah menu makanan yang ditawarkan Wahyu kepada para pelanggan yang sekarang sudah menjangkau hampir semua kalangan.
Awalnya, usaha sampingan tersebut dijalankan karena desakan ekonomi. Gaji dari profesinya sebagai wartawan dirasa kurang untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Terlebih ketika itu, tepatnya pertengahan tahun 2013 yang lalu, istrinya Rini Kusuma yang juga seorang presenter TV harus berhenti total dari aktivitas kerja karena sedang mengandung anak kedua. Dari situlah kemudian terlintas dipikiran untuk menjalankan usaha sampingan. “Bermula saat istri hamil, perekonomian mulai goyah,” kata Wahyu.
Setelah berpikir, akhirnya diputuskan usaha sampingan yang dilakukan adalah berjualan “Ketan Punel”. Ide awalnya, membuat gerobak untuk berjualan. Namun ide tersebut tak sampai teralisasi, dengan pertimbangan waktu. “Ide awalnya buat gerobak terus jualan di sekitar Jatim Expo. Tapi setelah dipikir-pikir tidak jadi, waktunya tidak ada. Kerja wartawan juga waktunya tidak tentu,” cetusnya.
Gagal merealisasikan ide awal, Wahyu bersama istrinya sempat bingung bagaimana caranya berjualan ketan di tengah kesibukannya sebagai jurnalis. Akhirnya dengan modal kepercayaan diri, Rini membeli ketan 1 kg dan langsung memasaknya.
Setelah matang, ketan dikemas dengan daun pisang menjadi 25 bungkus. Dari 25 bungkus itu ada yang rasa bubuk kedelai, selundeng pedas dan gula jawa. “Istri beli ketan 1 kg dan menjadi 25 bungkus. Terus saya disuruh bawa ke kantor, ternyata laku semua. Satu bungkus itu keuntungannya antara Rp500-Rp1.000,” ungkapnya.
Mendapati barang dagangannya banyak diminati, keesokan harinya Rini kembali membuat dan Wahyu bertugas menjualnya. Kali ini tak lagi ke sesama teman kantor, tapi “Ketan Punel” coba dititipkan di warung. “Waktu itu dititipkan di Kantin Polda (Jatim) dan Kantin Graha Pena,” ujarnya.
Sama dengan hari sebelumnya, “Ketan Punel” yang dititipkan ke warung pun juga ludes terjual. Wahyu dan Rini semakin semangat untuk terus menjalankan usaha sampingannya berjualan “Ketan Punel”.
Disaat mereka sedang semangat, justru ujian mulai datang. “Ketan Punel” yang dititipkan ke warung-warung banyak yang kembali alias tidak terjual. Kondisi itu berlangsung hingga beberapa minggu. “Sempat down, semangat sempat menurun,” papar pria yang tinggal di kawasan Wage Sidoarjo ini.
Namun disaat kondisi sepi pembeli, Wahyu bersama istrinya tak menyerah begitu saja. Mereka terus berpikir bagaimana cara menjual barang dagangannya di tengah keterbasan waktu. Sampai akhirnya mereka iseng-iseng menawarkan kepada sejumlah orang yang dikenalnya saat menjadi jurnalis. Seperti polisi, politisi, pelaku olahraga, pejabat, pns, anggota dewan, pegawai kantoran, guru, pengusaha dan lainnya.
Itupun tak dilakukan secara langsung. Melainkan lewat broadcast BBM dan media sosial. Ternyata keisengan itu mendapat banyak respon. Satu per satu pesanan terus berdatangan. “Pekan pertama (usai broadcast BBM dan lewat media sosial) banyak yang pesan. Sempat bingung,” paparnya.
Seakan tak ingin menyia-nyiakan momen yang ada, Wahyu pun melayani semua pesanan dan langsung mengantarnya sampai tujuan. “Dulu pesan 5 bungkus saya layani dan diantar. Setelah ada kenaikan BBM, saya batasi pesanan minimal 20 bungkus, tapi harganya tetap,” cetusnya.
Kini, Wahyu tak bingung lagi menjual “Ketan Punel”. Bahkan order terus berdatangan setiap harinya. “Alhamdulillah, sekarang dalam satu minggu bisa habis 25 kg ketan kalau sedang ramai pesanan. Kadang dalam seminggu rata-rata bisa menerima pesanan hingga sekitar 300 bungkus,” tutur pria 39 tahun ini.
Sekalipun berjualan “Ketan Punel” tanpa menggunakan gerobak, membuka stan atau menyediakan tempat khusus, Wahyu sudah membuktikan diri bisa menjaring pelanggan yang jumlahnya cukup banyak.
Hampir setiap hari, bapak dua anak ini mengantarkan pesanan “Ketan Punel” kepada sejumlah pelanggannya, di sela kesibukannya mencari berita. “Pagi sebelum berangkat kerja (mencari berita), mengantarkan dulu pesanan. Kadang siang, sore, kadang juga malam,” kata Wahyu.
Siapa saja pelanggannya? pria kelahiran Madiun ini mengungkapkan, pelanggannya hampir menjangkau semua kalangan. Seperti ibu rumah tangga, Pegawai Negeri Sipil (PNS), polisi, politisi, eksekutif muda, anggota legeslatif, pengusaha, mantan pelatih timnas dan pejabat lainnya.
Bahkan, Wahyu pernah juga mendapat pesanan dari Firda Djoko Susilo, istri dari Duta Besar (Dubes) RI untuk Swiss Djoko Susilo. “Kalau tidak salah (Firda Djoko Susilo) sudah pesan dua kali. Banyak juga pelanggan pertama yang pesan lagi, ini artinya mereka tidak kecewa,” ungkapnya.
Biasanya, para pelanggan memesan “Ketan Punel” untuk makanan ringan atau camilan semacam snack diberbagai acara. Seperti arisan, ultah, pengajian, sarasehan dan acara-acara resmi lain yang digelar sebuah instansi. “Untuk acara-acara seperti itu. Bahkan ada institusi kepolisian yang berlangganan setiap minggunya untuk sarapan tahanannya,” ucapnya.
Seiring dengan bertambahnya waktu, Wahyu terus mengembangkan varian “Ketan Punel”. Jika sebelumnya hanya menawarkan rasa bubuk kedelai, selundeng pedas dan gula Jawa, kini kembali ditawarkan dengan rasa rainbow serta coklat.
“Kalau untuk mempekerjakan orang masih belum. Tapi ada wacana (mempekerjakan orang), karena pesanan terus berdatangan,” celetuk Wahyu. (#/ist)