Khofifah Ajak Masyarakat Peka Terhadap Lingkungan Demi Perangi Predator Anak


Surabaya, (DOC) – Kasus asusila yang memakan korban 65 anak di bawah umur meresahkan warga. Calon Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa mengajak masyarakat peduli dan peka terhadap lingkungan demi memerangi predator anak yang membahayakan.

“Saya mengajak seluruh pihak mengambil peran dalam upaya memerangi kekerasan seksual anak. Karena pada dasarnya setiap orang adalah orang tua bagi anak-anak kita maka semua pihak harus turun tangan dan berkewajiban dalam melindungi anak-anak dari kekerasan seksual,” kata Khofifah di Surabaya, Kamis (8/3/2018).

Berdasarkan data Kementerian Sosial RI kasus kekerasan maupun pelecehan seksual terhadap anak sebanyak 1.956 kasus kita tangani selama 2016 dan meningkat menjadi 2.117 kasus selama 2017.

Bahkan berdasarkan data Kepolisian Daerah Jawa Timur, kekerasan seksual terhadap anak di Jawa Timur (Jatim) sangat tinggi. Pada tahun 2016 tercatat 719 korban anak dengan 179 pelaku. Sedangkan tahun 2017 tercatat 393 korban anak dengan 6 pelaku. Mirisnya, bulan kedua di tahun 2018 sudah tercatat 52 anak korban dengan 21 pelaku. 

Menyoal kasus terbaru, dua oknum guru yang melibatkan 65 korban anak-anak disebut tamparan keras bagi dunia pendidikan.

“Kasus predator dimana pelakunya seorang guru terhadap 65 anak-anak ini merupakan tamparan keras bagi wajah pendidikan dan harus menjadi evaluasi guru dan orang tua mengapa hal ini bisa terjadi hingga kurun waktu yang panjang,” katanya.

Orang tua dna sekolah disebut harus saling bersinergi memerangi kekerasan anak demi memberi perlindungan terhadap anak-anak.

“Ini menurut saya karena kurangnya kepekaan terhadap lingkungan sekitar. Orang tua, guru, dan anak harus dilibatkan bersama-sama untuk memerangi kekerasan seksual terhadap anak,” tegasnya. 

Orang tua juga memiliki andil besar untuk membentuk karakter seorang anak. Sebab, orang tua lah tempat utama anak-anak belajar yang dimulai sejak dini.

“Sehingga ketika anak sudah mulai bergaul di luar termasuk di lingkungan sekolah, mereka sudah punya upaya preventif sendiri saat menghadapi “serangan” tindakan asusila. Mereka sudah paham apa yang harus dilakukan dan tidak sampai berlarut-larut apalagi hingga bertahun-tahun,” papar ibu empat anak ini serius. 

Lembaga pendidik juga haris memebri pengawasan terhadap guru baik perliku terhadap rekan seprofesi maupun terhadap anak didik. Para pendidik haru sepaka dan berkomitmen memprioritaskan faktor keamanan dan kenyamanan anak-anak selama di sekolah.

“Maka apabila kejahatan itu terjadi di dalam lingkungan sekolah, maka sekolah itu harus dievaluasi. Dari sisi seleksi guru, pengawasan terhadap guru, dan keamanan siswa. Apalagi sebagian lokasi kejadian adalah di ruang kelas. Ini sungguh kenyataan yang membuat orang tua manapun pasti sangat sedih,” terang Khofifah. 

Kedepannya, Khofifah berharap kejadian semacam ini jangan sampai terulang lagi. Harus dibangun sistem di mana orangtua, guru, dan anak-anak dan masyarakat sekitar agar kejadian semacam ini tidak terulang. 

“Oleh karena itu saya mengajak seluruh pihak mengambil peran dalam upaya memerangi kekerasan seksual anak. Karena pada dasarnya setiap orang adalah orang tua bagi anak-anak kita maka semua pihak harus turun tangan dan berkewajiban dalam melindungi anak-anak dari kekerasan seksual,” harapnya. 

Menteri Sosial 2014-2018 ini juga mendorong semua pihak berani bersuara bila terjadi hal-hal yang mencurigakan atau mengarah pada kekerasan terhadap anak. Menurut Khofifah, hal yang menjadi tantangan dalam memerangi kasus kekerasan seksual anak adalah masyarakat yang cenderung permisif, enggan dan takut melaporkan kasus kekerasan seksual ke aparat penegak hukum karena beberapa kasus pelakunya justru orang terdekat yang dikenal anak. 

“Mari kita kikis habis ancaman kekerasan seksual terhadap anak. Kita wujudkan lingkungan yang ramah anak, baik di rumah maupun di sekolah. Kita asah dan tingkatkan kepekaan sosial agar anak-anak kita terlindungi. Mereka adalah generasi penerus, mereka adalah wajah bangsa ini di masa yang akan datang. Generasi yang sehat, cerdas dan gembira adalah aset berharga kita,” pungkas Khofifah. (Nps)