Khofifah-Emil Tinggal Butuh Restu Presiden

Tidak ada komentar 26 views

Surabaya (DOC) – Teka-teka siapa yang akan mendampingi Mensos RI Khofifah Indar Parawansa (KIP) maju di Pilgub Jatim 2018 akhirnya terjawab. Hal ini seiring dengan beredarnya foto Bupati Trenggalek Emil Dardak dan Khofifah bersama tim 9 dari para kiai bertemu dengan Ketum DPP Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) didampingi Ketua DPD Partai Demokrat Jatim Soekarwo di Cikeas Bogor.

Sekretaris DPD PD Jatim, Renville Antonio membenarkan bahwa hari ini Majelis Tinggi DPP PD tengah menggelar rapat terkait Pilkada serentak 2018 mendatang. Kebetulan Tim 9 dari para kiai juga hadir untuk mengumumkan hasil seleksi Bacagub Khofifah Indar Parawansa telah mengerucut pada nama Emil Elistianto Dardak.

“Foto itu adalah laporan Tim 9 ke majelis tinggi terkait perjodohan dari para kiai dan tokoh Jatim. Majelis Tinggi hanya mengamini apa yang diminta para kiai dan tokoh Jatim. Tapi yang lebih tepat menjelaskan adalah Tim 9,” ujar Renville Antonio saat dikofirmasi terkait foto yang beredar di media sosial, Selasa (21/11/2017).

Sementara itu ketua Tim 9 KH Salahuddin Wahid menilai Bupati Trenggalek Emil Dardak memang layak dijadikan pendamping Mensos RI Khofifah Indar Parawansa di Pilgub Jatim mendatang. Apalagi pasangan ini juga didukung oleh kiai di Jatim. “(Pak Emil) pilihan banyak orang, termasuk Bu Khofifah,” kata Gus Solah, sapaan Salahuddin, di Jakarta Pusat.

Lebih jauh pengasuh Ponpes Tebuireng Jombang ini menjelaskan sebelum mengerucut ke Emil, ada nama lain yang berpotensi menjadi Cawagub KIP yaitu Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni. Namun setelah tiga pekan pembahasan, pilihan tim 9 akhirnya jatuh kepada Emil Dardak. “Pilihan dari Tim 9 sama dengan Khofifah. Dan Bu Khofifah sebetulnya dua-duanya oke saja,” beber Gus Solah sapaan akrabnya.

Di tambahkan Gus Solah, Emil Dardak adalah salah satu pemimpin muda di Jatim. Ia berharap, pasangan ini bisa menang dalam Pilgub Jatim 2018. “Kita harapkan begitu, tapi itu harus kerja keras,” dalih adik kandung almarhum KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini.

Terpisah, pengamat politik dari Unijoyo Madura,Surokim Abdussalam menilai dipilihnya Emil Dardak sebagai pasangan Cawagub Khofifah di Pilgub Jatim mendatang karena pertimbangan ingin mengimbangi Cawagub Gus Ipul yaitu Abdullah Azwar Anas. “Rujukan pertimbangan utama dipilihnya Emil oleh Partai Demokrat adalah demi head to head dengan Abdullah Azwar Anas,” terang Dekan FISIB Unijoyo ini.

Indikator pasangan yang tepat bagi Ketum PP Muslimat NU di Pilgub Jatim 2018, lanjut Surokim setidaknya ada empat hal. Pertama, restu Partai Demokrat sebagai koordinator koalisi parpol pengusung dan bisa disepakati anggota koalisi. Kedua, mendapat restu dukungan dari tim 9 dari para kiai. Ketiga, bisa head to head dengan Anas (Cawagub Gus Ipul) untuk melengkapi kelemahan Khofifah, dan terakhir mendapat dukungan suara publik melalui survei.

“Emil Dardak bisa memenuhi paling banyak mendekati semua indikator itu, sehingga pilihan yang masuk akal dan paling potensial bisa bersaing bahkan menjadikan kontestasi Pilgub Jatim mendatang semakin seru,” ungkap Surokim.

Kelebihan lain yang dimiliki Emil dibanding kandidat Cawagub Khofifah yang lain adalah pasangan ini bisa saling melengkapi, karena Emil tidak ada irisan langsung dengan suara Khofifah, dan bisa mematik pemilih milenial di area combat yang keras yaitu wilayah Arek. “Dalam situasi pilkada zaman now, pilihan untuk mengakomodir tokoh muda itu pilihan progresif,” tegasnya.

Usai mendapat dukungan resmi dari Partai Demokrat, kata Surokim pasangan KIP-Emil sudah tentu harus menyatukan suara dari partai-partai pengusung khususnya Partai NasDem yang sejak awal ingin mendapatkan jatah Cawagub.

“Posisi NasDem dalam koalisi akan sangat tergantung pada arah kehendak Partai Golkar, jika Golkar bisa menerima maka posisi NasDem akan terjepit dan pada akhirnya akan menerima. Apalagi secara fatsun politik, NasDem sebenarnya dalam posisi bukan penentu di koalisi,” beber Surokim.

Senada, pengamat politik dari Surabaya Survey Center (SSC) Mochtar W Oetomo mengatakan setelah mendapatkan restu dari DPP Partai Demokrat, pasangan KIP-Emil juga perlu mendapatkan restu dan dukungan dari Presiden RI Joko Widodo. Sebab KIP sebagai pembantu presiden (Mensos) tidak mungkin berani maju dan memiliki kekuatan konsolidasi sedemikian rupa hingga Pakde Karwo dan SBY berpihak kepadanya kalau tanpa campur tangan Jokowi

“Jokowi sudah pasti bisa meyakinkan Surya Paloh kalau masih keberatan dengan Emil Dardak. Sebab Surya Paloh saya rasa tidak mungkin akan mbalelo karena positioning yang diambil Nasdem selama ini adalah sebagai  pendukung utama Jokowi demi kepentingan elektoralnya,” jelas Mochtar.

“Walaupun mungkin Surya Paloh lebih menjagokan Ipong Muchlissoni tapi jika Jokowi sudah merestui Emil, saya rasa Surya Paloh dan NasDem akan mendukung juga,” tambahnya. (bah)