Kiai se-Jatim Protes NU Diseret ke Politik Praktis

Surabaya (DOC) – Jelang Pilgub 2013, suhu perpolitikan di Jatim mulai panas. Salah satunya adalah gelombang protes  kiai se-Jatim terhadap sikap Pimpinan Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jatim yang mulai dianggap sudah melangkahi khittoh, lantaran NU menjadi kendaraan politik untuk dukung mendukung cagub-cawagub Jatim.

Munculnya gelombang protes ini, sudah tentu menjadi batu ganjalan gerakan NU untuk mengusung kader sendiri sebagai calon gubernur (cagub) dalam pilgub Jatim 2013.
Tercatat, sebanyak 30 kiai sebagai perwakilan dari 35 daerah di Jatim menggelar ‘deklarasi’ untuk menolak PWNU Jatim cawe-cawe dalam pilgub Jatim 2013. Para kiai yang tergabung dalam Forum Peduli Khittoh NU (FPKNU) Jatim tersebut menentang keras upaya Ketua PWNU Jatim KH Mutawakil Alallah untuk terlibat dalam persoalan politik pilgub, apalagi sampai mengusung calon gubernur.
Sikap puluhan kiai FPKNU ini, akan dilayangkan ke PWNU Jatim pimpinan KH Mutawakil Alallah dan KH Miftakhul Akhyar selaku Rois Syuriah NU Jatim. “Kami ingatkan bahwa sesuai muktamar NU di Situbondo tahun 1984, NU telah kembali pada khittoh. Karena itu, kami minta agar NU tidak dibawa-bawa ke dalam politik praktis lagi untuk kepentingan pribadi,”  tegas Ketua FPKNU KH Saikhun Nidhom (Gus Nidhom), Rabu (28/11).
Lebih jauh Gus Nidhom yang juga pengasuh Pesantren Al-Mas’udii Sukorejo Pasuruan ini, menegaskan, jika NU dibawa ke ranah politik, maka akan membahayakan keutuhan Nahdlatul Ulama.
Sejumlah kiai  yang ikut menyatakan sikap, di antaranya  adalah pengasuh Pesantren Cangaan KH Fahrur Rozi, KH Buhori (Probolinggo), KH Abd Jalil (Jember), KH Abd Rachman (Situbondo), KH Marsus (Lumajang), dan KH Ifran Kamil (Bondowoso). Juga tampak hadir KH Nashih asal Bangkalan, KH Aminin (Lirboyo Kediri), KH M. Agus Abd Karim (Pesantren Miftakhul Huda Nganjuk), KH M. Zulfa Abdulloh (Pesantren Al-Islamiyah Trenggalek), KH Abd Rahman (pesantren Darul Huda Jombang), dan KH Ali Mudlor (Pesantren Benat Sidogiri).
Dengan ditariknya NU untuk kepentingan pilgub, lanjut KH Nidhom membuat resah dan prihatin para kiai di Jatim. Apalagi kiai yang dikenal dengan basis massa kuat ini, mulai mengetahui keinginan para elit PWNU Jatim untuk menyeret-nyeret Nahdlatul Ulama ke dalam kepentingan pilgub Jatim. “Padahal, keinginan elit itu sangat membahayakan bagi keutuhan NU ke depan.Para kiai, tidak rela bila NU dibawa-bawa lagi untuk kepentingan politik elit tertentu. Lihat, para kiai ini jauh-jauh datang dari daerah berkumpul di sini untuk ikut menolak, karena tidak rela NU diseret-seret lagi dalam dunia politik praktis,”  timpal Sekretaris FPKNU KH Fahrur Rozi.
Para kiai, lanjut Fahrur, awalnya hanya mengira sikap PWNU Jatim tersebut hanya wacana, tapi ternyata Ketua PWNU Jatim KH Mutawakil Alallah terus-terusan secara vulgar akan mendorong kader NU. Bahkan, secara terang-terangan juga telah menyebut dua kader telah mengerucut untuk dipilih, yakni Ketua Umum PP Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa dan Wakil Gubernur Saifullah Yusuf  (Gus ipul). “Lebih baik, PWNU itu mengurusi masalah sosial keagamaan untuk membentengi ummat ini. Atau bagaimana cara menangani narkoba, mengirim tukang masak ke jalur Gaza. Itu lebih bermakna dan bermanfaat, daripada ngurusi pilgub,” tegas dia.
Dalam kesempatan itu, Fahrur Rozi mengingatkan dalam sejarah NU sering pecah hanya karena para elitnya yang terjerumus dalam politik praktis selalu membawa-bawa organisasi Nahdlatul Ulama.Pihaknya tidak ingin pilgub Jatim 2013 ini jadi pemicu pecahnya warga NU di bawah.”Karena itu, kami minta agar NU tidak di bawa-bawa.Dan juga minta agar kader NU yang menjadi ketua untuk non-aktif atau mundur, bila memang mau maju jadi calon,” pinta dia.
Dikatakan, jabatan di NU itu melekat dengan orangnya. Ia lalu mencontohkan Ketua Umum PP Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa. Apa pun yang dilakukan Khofifah tidak mungkin bisa lepas dari NU karena jabatannya sebagai ketua umum Muslimat. “Jadi, kalau mau maju, ya non-aktif, atau mundur. Itu akan bisa menyelamatkan NU,” tegas dia.
Disampaikan Fahrur Rozi, para kiai menolak NU diseret-seret ke dunia politik praktis jelang pilgub Jatim 2013 ini tidak ada kaitannya dengan aksi dukung-mendukung calon. “Ini murni dari keprihatinan dan kegaulauan para kiai di bawah melihat sikap elitnya yang sepertinya bernafsu untuk pilgub. Kami lakukan semata-mata karena kecintaan kami pada NU, agar NU ini bisa tetap menjadi ormas yang menjaga dan membentengi moral bangsa. Sehingga NU ke depan terhindar dari perpecahan,” tegas dia. (r12/r4)