Kikis Individualisme Dengan Hidupkan Gotong Royong Sesuai Pancasila

Surabaya,(DOC)Lembaga Studi Pancasila(LSP) Jawa Timur mulai gencar tanamkan tatanan nilai – nilai bangsa Indonesia yang terkandung dalam Pancasila.
Mengawali program tersebut, LSM yang perduli atas perkembangan ideologi bangsa ini, mengambil sasaran pertama yaitu para mahasiswa di Institute Sepuluh November(ITS) Surabaya.
Bagus Taruno Legowo, S.T., Sekertaris Rumah Pancasila Jawa Timur menyatakan, LSP akan sering menggelar diskusi soal Pancasila ke para penerus bangsa, agar ketimpangan sosial berbangsa dan bernegara tidak terus marak berkembang.
“Paradigm yang diusung Pancasila sebenarnya memiliki ke-khasan sendiri dalam mewujudkan praktik berkehidupan dibanding dengan ideologi yang tengah berjaya sekarang dan mengusai pemikiran sebagian bangsa Indonesia. Konsep Pancasila intinya adalah gotong royong guna menciptakan etika berkehidupan,”jelas Bagus disela diskusi di Gedung SCC lantai 1 ITS Surabaya.Kamis(28/08/2014)

Bagus menjelaskan, Jika dilihat dari maknanya para Founding Father bangsa melahirkan Pancasila sebenarnya bertujuan untuk menciptakan tatanan kehidupan yang fleksibel, diterima oleh seluruh dunia dengan memadukan 2 ideologi yang berbeda yaitu Liberlisme dan Komunisme, tanpa meninggalkan adat bangsa terutama gotong royong.
Ia menambahkan, Pancasila mempunyai pemikiran berbeda yang berlandaskan socio-historis di era sebelumnya. Karena menurut Bagus, dulu hampir 2/3 populasi dunia, dikuasai oleh pemerintahan yang berbasis religi. Setelah 7 abad berlalu, Ideologi Liberalisme mulai muncul.
Bersamaan dengan itu, Ideologi Sosialis Komunisme mulai tumbuh berkembang sebagai anti thesis Ideologi Liberal yang mengedepankan kebebasan individu hingga menciptakan kelompok kapitalis dunia.
“Para founding fathers sangat faham soal semangat ideology liberal ataupun komunis yang berlandaskan pada material/keduniawian. Ini sangat tidak sesuai dengan kondisi social-kultural bangsa Indonesia yang memiliki keunikan dengan semangat kebersamaan dan jiwa religious. Lalu inisiatif yang diambil yaitu untuk menciptakan sebuah ideologi baru bernama Pancasila,”tambahnya.

Presiden RI Pertama Ir Soekarno, menurut Bagus, dulu pernah mengajukan sebuah ideologi bangsa yang selanjutnya dalam perumusan oleh panitia Sembilan dihasilkanlah piagam Jakarta (preambule UUD 1945). Namun ideologi tersebut mendapat tentangan dari bangsa Indonesia bagian timur yang kebanyakan non-muslim, karena dalam piagam Jakarta terdapat pengkhususan terhadap masyarakat muslim Indonesia. Sehingga pada poin pertama yang mengkhususkan masyarakat muslim dirubah menjadi” Ketuhanan Yang Maha Esa” yang kita ketahui sebagai sila ke-1 Pancasila.

“Jika kita pelajari, Pancasila telah mengatur semuanya, namun sekarang tak mendapat perhatian dan dukungan terutama dari kalangan sebagaian muslim. Malah sebaliknya Pancasila sebagai pengkhianatan terhadap Islam karena penggantian poin pertama di piagam Jakarta,” jelasnya.

Ia menegaskan, Pancasila sekarang adalah ruh dan jiwa bangsa Indonesia yang harus dipegang teguh dalam berbangsa. Jika di telantarkan, maka negeri ini akan kehilangan arahnya.
“Gotong – Royong sebuah nilai dasar dari Pancasila, yang seharusnya dijadikan etika sosial dalam kehidupan. Sayangnya nilai gotong royong sekarang mualai rapuh dengan gempuran nilai individualisme yang sangat kuat. Ini yang menjadi tugas berat LSP,”pungkasnya.(r7)