Komisaris Abal-Abal Didenda Miliaran Rupiah

Tidak ada komentar 244 views

Surabaya, (DOC) – Nasib Hadi Muljono terbilang apes. Setelah menduduki jabatan komisaris abal-abal, dirinya bukan beruntung, malah kini menjadi buntung. Bagaimana tidak, pria yang juga merangkap sebagai kuli bangunan, tukang pel, pembuat kopi di PT Sulasindo Niagatama tempat dia jadi komisaris, divonis hukuman dua tahun penjara dan diwajibkan membayar denda Rp336 miliar.

Vonis tersebut sebenarnya tak jauh beda dari tuntutan jaksa yang menuntutnya hukuman tiga tahun penjara dan denda serupa. Namun, putusan yang dibacakan kemarin di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya tersebut, cukup membuat terdakwa terduduk lemas.

Sidang yang diketuai Majelis hakim Belman Tambunan menyatakan terdakwa terbukti bersalah melanggar pasal 39 huruf a jo 43 UU 6/1983 tentang Pajak. ”Terdakwa terbukti menggunakan tanpa hak nomor pokok wajib pajak (NPWP),” kata hakim.

Menurut Belman, hukuman yang dijatuhkan untuk Jono merujuk pada fakta persidangan yang memberatkan terdakwa. Fakta menyebutkan terdakwa terbukti melakukan penyalahgunaan faktur pajak dan NPWP. Akibatnya, negara mengalami kerugian Rp118 miliar. Ironisnya, meski demikian, Ia tetap diwajibkan membayar denda Rp336 miliar.

Dalam amar putusannya, perbuatan terdakwa berawal dari terbitnya faktur pajak aspal melalui bendera PT Sulasindo Niagatama. Akibatnya, pajak yang seharusnya masuk ke kas Negara, hilang karena ulah terdakwa. Sebab, dalam faktur pajak dan NPWP, data wajib pajaknya dikecilkan sehingga besaran yang disetorkan tak sebesar yang seharusnya.

Meski fakta berkata demikian, vonis yang diterima terdakwa dapat dipertanyakan. Pasalnya, dalam pertimbangannya, majelis mengutip tuntutan jaksa yang memasukkan keterangan saksi yang dianggap meragukan. Yakni keterangan Kasi Pelayanan Pajak KPP Gresik Hanafi yang juga disebut-sebut sebagai penguat bahwa terdakwa bersalah.

Padahal dalam persidangan terungkap bahwa keterangan Hanafi hasil rekayasa penyidik. Hakim sempat dibuat emosi karena itu. Saat itu, Hanafi mengaku tak memberikan keterangan sama sekali kepada penyidik. Dia hanya menandatangani berita acara yang diberikan penyidik seolah-olah pernah diperiksa penyidik.

Seperti diberitakan, Jono menjadi terdakwa kasus penyimpangan pajak sebesar Rp 118 miliar. Dia diseret ke meja hijau karena menjabat sebagai komisaris di PT Sulasindo Niagatama, perusahaan yang membidangi ekspor-impor aneka barang.

Kasus itu sempat menjadi perhatian. Sebab, meski menjabat sebagai komisaris, Jono merangkap sebagai kuli bangunan di tempat lain. Saat tak ada job, pria kelahiran Sragen, Jateng itu juga mengepel dan membuat kopi di kantor perusahaan tempatnya bekerja sebagai komisaris. (k1/r4)