Komisi C Awasi IMB Untuk Cegah Banjir

Tidak ada komentar 252 views

Surabaya, (DOC) – Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor Izin Mendirikan Bangunan (IMB) cukup besar. Dari tahun ke tahun, jumlah nominalnya naik signifikan. Data Komisi C DPRD Surabaya menyebut, PAD dari IMB tahun 2010 Rp20 miliar, tahun 2011 Rp30 miliar, dan tahun 2012 Rp60 miliar.

“Meski PAD dari IMB besar, tapi itu tak ada apa-apanya dengan besaran anggaran penanganan banjir yang juga terus ikut naik. Tahun 2013 ini saja, total anggaran Rp388 miliar,” kata Ketua Komisi C DPRD Surabaya, Sachiroel Alim Anwar, kemarin.

Menurut dia, besarnya PAD tak berarti apa-apa lantaran Kota Pahlawan banyak kehilangan pori-pori serta mangkuk air. Lokasi yang dulunya sebagai areal terbuka, kini menjadi kawasam terbangun. Bisa karena adanya hotel, perkantoran, pertokoan, pergudangan, dan lainnya.

“Harus ada blue print baru. Harus ada solusi peremajaan kota, membuka kawasan kumuh dengan membangun vertical housing,” sambung Alim.

Politisi Partai Demokrat ini mengingatkan Surabaya bisa banjir seperti Jakarta jika kajian rencana tata ruang kota tak segera dilakukan. Akhir-akhir ini, kawasan yang terendam banjir terus bertambah. Paling baru, wilayah Kelurahan Medokan Ayu, Kecamatan Rungkut.

“Ketersediaan RTH (Ruang Terbuka Hijau) persentasenya juga harus ditingkatkan. Tidak lagi 30 persen dari total lahan yang diperlukan untuk kawasan terbangun,” usul anggota dewan dua periode ini.

Alim mengutip data komisinya berdasar hasil hearing dengan sejumlah pakar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya yang pernah digelar. Data menyebut tiap tahun terjadi penurunan permukaan tanah Kota Surabaya.

Banyaknya bangunan baru dan penyerapan air tanah secara besar-besaran menjadi pemicu turunnya tanah. Akibatnya terjadi intrusi atau masuknya air laut ke daratan. Intrusi menyebabkan rongga-rongga dalam bumi.

Anggota Komisi C, Agus Sudarsono menambahkan, dua peneliti ITS, yakni DR Ing Ir Teguh Hariyanto, MSc dan DR Saiful Bahri, MT saat hearing di ruang komisi menyampaikan bahwa tanah di Surabaya mengalami penurunan tanah antara 3-14 milimeter tiap tahunnya. Selain karena penggunaan air bawah tanah serta intrusi, penurunan tanah juga disebabkan aktifitas dan akumulasi dari beban yang diterima bumi karena keberadaan bangunan.

Semakin banyak pemkot “mengobral” IMB, akan semakin bertambah pula beban permukaan bumi Surabaya. Lebih lagi amblasnya permukaan tanah karena rongga dalam perut bumi yang semakin besar.

Terpisah, Kepala Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang, Agus Imam Sonhaji membenarkan peningkatan PAD dari sektor retribusi IMB. “Namun hal ini diimbangi aturan keharusan membuat lahan resapan air 30 persen dari bangunan yang akan didirikan,” kata Agus Imam.

Kendati demikian, pejabat asli Kediri ini tak menampik jika pihak pemohon IMB banyak melakukan pelanggaran di lapangan. “Sanksinya ada, tahap pembangunan dihentikan, bahkan dirobohkan,” pungkasnya. (r4/adv)