Komisi C DPRD kota Surabaya Mulai Pesimis ‘Proyek’ Trem Bisa Terealisasi

foto : ilustrasi ‘trem’

Surabaya,(DOC) – Upaya untuk merealisasikan sarana transportasi massal cepat (AMC) berupa ‘trem’ di Surabaya rupanya tidak semudah yang dibayangkan. Keterbatasan anggaran dan belum jelasnya skema pembiayaan, membuat proyek ini sulit diwujudkan. Sejumlah kalangan DPRD Surabaya pesimistis terhadap mega proyek pembangunan Trem bisa terealisasi.

Anggota Komisi C Bidang Pembangunan DPRD Surabaya, Vinsensius Awey menyebut, proyek Trem hanya tinggal wacana. Bolak balik Pemkot terus memberikan harapan kepada warga kota Surabaya dari sejak tahun 2015. Namun, sampai saat ini harapan tinggalah harapan. “Dari semula sudah saya sampaikan beberapa kali, Trem bukanlah moda transportasi perkotaan yang cocok bagi kota Surabaya. Akan lebih tepat apabila MRT / LRT / Monorail yang dijadikan sebagai moda transportasi perkotaan. Masalahnya tidak ada anggaranya,” ujarnya, Kamis (14/9/2017).

Menurut Awey, persoalannya anggaran untuk membiayai MRT / LRT / Monorail jauh lebih mahal dibandingkan Trem. Oleh karena itu apabila kita tidak miliki anggaran yang cukup untuk membiayai itu semua maka ada baiknya moda transportasi perkotaan yang digunakan adalah BRT (Bus Rapid Transit) terlebih dahulu “Jangan dipaksakan terus apabila skema pembiayaan Trem masih belum jelas,” terangnya.

Foto : Vinsensius Awey Anggota Komisi C DPRD kota Surabaya Fraksi Handap

Jika menggandeng pihak swasta, kata Awey hal ini juga akan membebani APBD misal dari sisi subsidi tiketnya. Tentu pihak swasta investasi yang diberikan ingin secepatnya BEP (Break Even Point), sehingga biaya akan dibebankan pada masyarakat pengguna Trem tersebut melalui harga tiket.

Peran swasta pun dengan nilai proyek Rp 2 triliun tidaklah mudah. Awey mencontohkan, di DKI Jakarta saja merupakan join venture sehingga ada separuh yang merupakan beban APBD DKI dan separuhnya lagi pihak swasta. “DKI dengan APBD puluhan triliun tentu sanggup membiayainya, sementara APBD kota Surabaya Rp 8 sekian triliun saja,” tambahnya.

Oleh karena itu, way out nya adalah menggantikan moda transportasi perkotaan dari Trem menjadi BRT (Bus Rapit Transit) seperti Busway Transjakarta pilihan yang paling tepat. Anggarannya pun  jauh dibawah anggaran Trem dan fungsinya sama. Hanya yang membedakan adalah Trem berbasis rel dengan kecepatan 50 – 70 km / jam untuk dalam kota. Sedangkan Busway kecepatannya juga seperti itu. Jalur khusus untuk trem juga bisa digunakan untuk BRT. “Hanya jenis BRT untuk Surabaya lebih baik yang low deck. Lebih ramah bagi orang tua / anak – anak dan orang berkebutuhan khusus,” pungkasnya.(adv/r7)