Komisi C Minta, PT Senopati Bebas Pajak Bangunan Stasiun Semut

Surabaya,(DOC) – Mangkraknya bangunan cagar budaya Stasiun Semut selama bertahun tahun ini, masih belum juga tergarap dengan baik.
Janji pengembang PT Senopati Perkasa yang akan menyulap stasiun bersejarah itu, sebagai kegiatan pameran dan museum, hanya menggarap 50 persen saja bagian bangunan.

Namun anehnya, komisi C DPRD Surabaya malah mengacungi jempol pihak pengembang atas mangkraknya pembangunan stasiun yang di dirikan pada tahun 1876.

Seperti diketahuui, bahwa PT KAI Daops VIII Surabaya, telah memberikan hak kelola situs cagar budaya itu ke PT Senopati Perkasa untuk direvitalisasi agar bangunannya conect dengan pasar Atom baru yang terletak di seberang jalan stasiun Semut.
Pasca pelimpahan tersebut, PT Senopati beberapa kali sempat mendapat teguran dari Dinas Pariwisata kota Surabaya, yang tidak segera menyelesaikan pembangunan.
Hampir, kurang lebih belasan tahun Stasiun Semut yang dulu sebagai tempat pemberhentian akhir ribuan jenazah para pejuang itu, dibiarkan mangkrak.

Saat sidak dilokasi, Rabu(4/11/2013), Simon Lekatumpessy Wakil Ketua Komisi C DPRD Surabaya mengucapkan bangga terhadap PT Senopati Perkasa.
“Pada intinya kami bangga karena satu aset cagar budaya milik Surabaya bisa terselamatkan, ini semua juga tak lepas dari kerjasama antara PT KAI dengan PT Senopati,” ungkap Simon.

Sikap aneh ini, juga diperlihatkan dengan pernyataan Simon Lekatumpessy, yang malah meminta pemkot untuk membebaskan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) yang harus dibayar oleh PT Senopati Perkasa. Padahal jika bangunan cagar budaya ini selesai di revitaslisasi, pihak pengembanglah yang akan mendapatkan untung, karena akan memanfaatkan bangunan untuk kepentingan bisnis.
“Minimal hanya bayar 50 persennya saja, atau syukur-syukur kalau bisa dibebaskan 100 persen,” saran Simon Ketua Fraksi Damasi Sejahtera DPRD Surabaya.

Bukan hanya itu, berbagai fasilitas lainnya, seperti air dan listrik, juga diminta untuk dibebaskan 50 persen. Alasan Simon, gedung stasiun Semut yang dulu dinamakan sebagai stasiun Surabaya Kota ini, masuk dalam golongan sosial yang bebas bea pajak.
Kepala KAI Daops VIII Surabaya, Heru Herawan, juga diminta oleh Simon untuk membantu merealisasikan semuanya.“Dewan akan siap memback-upnya,” cetusnya.

Sementara itu Direktur Utama PT Senopati Perkasa, Didik Woelyadi Simson menjelaskan bahwa pembangunan cagar budaya Stasiun Semut ini prosesnya tidak mudah, karena harus menggunakan material bangunan yang asli seperti yang tersisa saat ini. Menurut Didik,
pihak PT Senopati telah menyiapkan dana sedikitnya Rp 12 miliar untuk pemugaran Stasiun Semut. “Kalau melihat nilai tukar dolar yang terus naik, bisa saja anggaran Rp 12 miliar itu akan membengkak,” ungkapnya.
Untuk progress pembangunan, ia mengakui jika memakan waktu lama, karena bangunan ini termasuk heritage. “Sesuai schedule, bangunan ini akan selesai pada Juni,” tandasnya.(k1/r7)