Pengkondisian Lingkungan, Redakan Tekanan Psikologis

Jakarta, (DOC) – Tawuran antar-warga kembali terjadi di Jakarta. Tawuran tersebut diawali cekcok mulut antara kekasih Jemi dan kakaknya. Oleh Jemi merasa tersinggung untuk kemudian mendatangi Syamsul dan memukulnya. Setelah kejadian itu, kedua belah pihak membuat pernyataan sepakat untuk berdamai.
Namun ternyata konflilk tidak terhenti sampai di situ. Pada 15 Januari pukul 19.00, sebanyak 50 orang dari kelompok Jemi menyerang perumahan sekitar Pos 8 Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara dan kemudian terjadilah tawuran.
Menanggapi hal tersebut, pakar sosial dan demografi, Lalu Sudarmadi mengatakan, kehidupan perkotaan dengan skala modernitas yang tinggi, tidak menjamin adanya perubahan ke arah yang lebih baik terhadap pola pikir masyarakatnya. Karena di sudut-sudut terkecil kehidupan kota, masih terdapat ruang yang tidak tersentuh peradaban. Dalam ruang-ruang tersebut konflik horizontal yang radikal menjadi bagian tak terpisahkan dan sampai pada tahapan yang menghawatirkan.
“Modernitas tidak menjamin adanya perubahan pola pikir, malah akan menimbulkan kesenjangan dan sensitifitas tinggi di dalam masyarakat khususnya yang tinggal di daerah sempit dan dalam keadaan ekonomi yang rendah, dan gesekan-gesekan kecil dapat dengan cepat menyulut konflik,” ujar Lalu.
Dalam kasus ini, atau kasus tawuran lainnya, kata Lalu, eksternal stimulus menjadi bagian yang sangat penting keberadaanya. Karena dalam teorinya, konflik dapat terjadi karena persepsi dan cara pandang berbeda antara satu kelompok dan kelompok lain, kemudian berbedanya kepentingan. Maka dari itu, mediator sebagai bagian dari eksternal stimulus sangat diperlukan. “Mediator sangat diperlukan, tapi tidak sembarang mediator, itu saja di Tanjung Priuk padalah sudah berdamai, tapi masih saja tawuran,” ujar pria lulusan University of Pittsburgh, Pennsylvania, Amerika Serikat.
Lebih lanjut lagi Lalu mengatakan, “Mediator yang saya maksud adalah seseorang yang memiliki kemampuan untuk membuka rongga pikiran dan hati kedua belah pihak, sehingga persepsi dan cara pandang, nilai dan kepentingan yang berbeda bisa diterima masing-masing pihak, tidak hanya sekedar menuntun pada perdamaian simbolik, jabat tangan, bukan seperti itu,” tutur Lalu.
Maka dari itu, kata Lalu, untuk dapat meredakan sensitivitas dan temperatur masyarakat yang tinggi, lingkungan harus dikondisikan, agar tekanan psikologis dapat teratasi, salah satunya adalah dengan membuka ruang terbuka hijau di lingkungan padat tersebut. Sehingga ada tempat untuk masyarakat berelaksasi dan mengurangi stress. (r4)