KPK Tak Permasalahkan Perusahaan Kernel Oil

Tidak ada komentar 124 views

Jakarta,(DOC) – KPK tengah mengembangkan kasus dugaan suap petinggi Kernel Oil, Simon Gunawan Tanjaya terhadap Rudi Rubiandini. Di dalam pengembangannya, KPK tidak mempermasalahkan Kernel Oil yang berkantor pusat di Singapura.

“Tidak problem, kejahatannya kan dilakukan di Indonesia,” ujar wakil ketua KPK, Bambang Widjojanto saat dihubungi detikcom, Jumat (16/8/2013).

Menurut Bambang, pihaknya telah menjalin kerjasama dengan lembaga anti korupsi di Singapura. Kerjasama itu salah satu tujuannya adalah mempermudah KPK dalam menangani kasus yang ada di luar negeri.

“Ada jaringan antara Anti Corruption Agencies antara Singapura Indonesia,” jelas Bambang.

Sebelumnya, KPK melalui Bambang Widjojanto mengungkapkan membuka peluang menjerat Kernel Oil secara Korporasi. Walaupun hingga saat ini penyidik masih fokus pada penanganan hasil operasi tangkap tangan. Yakni Simon, Rudi, dan Deviardi.

“Kami belum bisa pastikan apakah korporasi jadi subjek hukum TPK (Tindak Pidana Korupsi-red) ini,” kata Bambang.

Seperti diketahui, Kernel Oil adalah perusahaan trader yang berkantor pusat di Singapura. Simon Gunawan Tanjaya adalah komisaris di Kernel Oil.

Rudi Rubiandini dituduh telah menerima suap dari Simon yang diberikan melalui Deviardi. Suap diduga untuk pengurusan tender di SKK Migas yang belum berlangsung.

KPK terus menyita uang-uang yang diduga berkaitan dengan dugaan penyuapan kepada kepala SKK Migas Rudi Rubiandini. Jumlah uang yang disita KPK lebih dari USD 1,2 juta.

Jubir KPK Johan Budi, Kamis (15/8/2013) malam kemarin mengatakan total uang yang didapat dari deposit box milik Rudi di Bank Mandiri jumlahnya USD 350 ribu. Jumlah ini meningkat setelah pada konferensi pers siang tadi diumumkan sejumlah USD 320,1 ribu.

Pada penggeledahan pada pagi hingga sore tadi, tim KPK juga menemukan uang USD 200 ribu di kantor Sekjen Kementerian ESDM Wayono Karno. Uang tersebut berada di dalam sebuah tas hitam.

Tim KPK juga menggeledah brankas milik Rudi di kantornya di gedung SKK Migas. Di penggeledahan ini tim KPK menemukan Sing$ 60 ribu, USD 2 ribu dan juga emas kepingan dengan nilai 180 gram.

Temuan-temuan ini melengkapi hasil geledah yang dilakukan saat operasi tangkap tangan pada Selasa kemarin. Saat itu penyidik menyita USD 400 ribu dari Rudi, yang baru saja diberikan oleh orang dekatnya yang bernama Deviardi.

Operasi tangkap tangan itu juga dibarengi dengan penggeledahan. Dari hasil penggeledahan di rumah Rudi di Jl Brawijaya, Jaksel, KPK menemukan Sing$ 127 dan USD 90 ribu. Tak hanya itu saja, penyidik juga menyita USD 200 ribu yang didapatkan dari rumah Deviardi yang ada di kawasan Pasar Minggu.

Jumlah uang dollar US dan Singapura di atas nilainya kurang lebih setara dengan Rp 14,3 miliar.

Saat KPK melakukan penggeledahan di ruang Sekjen ESDM Waryono Karno, Uang yang disimpan di tas hitam sebesar US$ 200 ribu dan hendak dibawa keluar itu, dipergoki penyidik KPK dan kemudian disita. Hingga kini uang itu masih diperiksa.”Bahwa KPK menemukan uang US$ 200 ribu di ruang Sekjen, sedang divalidasi dan belum ada kesimpulan,” kata Juru Bicara KPK Johan Budi di KPK, Jl Rasuna Said, Kuningan, Jakarta, Jumat (16/8/2013).

KPK juga belum akan memanggil Waryono walau ada temuan uang itu.”Belum ada jadwal pemeriksaan Sekjen ESDM, tapi untuk kemungkinan diperiksa sepanjang diperlukan,” urainya.

uang US$ 200.000 atau setara Rp 2 miliar itu, ditanggapi miring oleh Menteri ESDM Jero Wacik yang menyatakan Buat apa uang sebanyak itu di ruangan Sekjen.

“Saya tidak tahu itu uang apa dan untuk apa,” kata Jero Wacik ditemui usai menghadiri Sidang Bersama DPR-DPD RI, di Gedung DPR, Jumat (16/8/2013).

Menurutnya, penemuan uang disuatu ruangan kerja atau di rumah sekalipun belum tentu berkaitan dengan kasus tertentu. “Kalau terus di rumah kamu ada uang, terus apa berhubungan dengan itu? (kasus penyuapan) kan belum tentu,” tegas Jero.

lalu ia menyerahkan seluruhnya kepada proses hukum, dan akan tetap mempercayai KPK. “Kita serahkan saja semuanya ke proses hukum, biarkan KPK yang bekerja, saya juga tidak ingin berkomentar banyak, nanti salah dan mempengaruhi kasus ini,” tandasnya.(DC/r7)