Kritik Rakyat, Dewan Harus Berani Coret Anggaran Kunker ke LN

Surabaya,(DOC) – Kemiskinan yang melanda negeri ini, nampaknya belum bisa menggugah hati para wakil rakyat kita yang duduk di lembaga legeslatif untuk mengurungkan niatnya ngelencer berkedok kunjungan kerja(kunker) ke luar negeri(LN).
Bukan hanya di DPR RI, namun trend kunker ke LN ini, juga melanda anggota dewan di daerah daerah termasuk DPRD kota Surabaya.
Belum lama ini, sejumlah anggota DPRD Surabaya di perbincangkan oleh banyak kalangan masyarakat yang terlalu sering melakukan perjalanan dinas ke luar negeri tanpa memiliki alasan dan tujuan jelas.
Namun sayang, sorotan minor terhadap kinerja para legislator ini, tidak di gubris sama sekali. Bahkan kini menjelang purna tugasnya periode 2009 – 2014, plesiran tanpa manfaat untuk rakyat, menjadi hal yang wajib dilakukan oleh setiap anggota DPRD Surabaya, guna mengeruk dana APBD untuk modal kampanye pada pencalonan legeslatif periode berikutnya.
Obral kesempatan menghamburkan uang rakyat ini, juga didukung oleh para pejabat pemkot Surabaya yang turut serta membantu para anggota dewan berangkat ke LN. Tak jarang pula, para pejabat Pemkot Surabaya turut berangkat ke LN menghamburkan uang negara dengan alasan kerjasama sistercity.
Berdasarkan data yang telah beredar, di bulan September dan Oktober 2013, terdapat sejumlah anggota dewan yang telah berangkat dan antri menunggu giliran keberangkatan. Informasi yang dikumpulkan di gedung DPRD Surabaya, Minggu (22/9/2013) lalu, terdapat lima orang anggota dewan yang terbang ke Kota Busan, Korea Selatan, yaitu Ivy Juana (Komisi B/Fraksi Partai Demokrat), Sudarwati Rorong (Komisi D/Fraksi Partai Damai Sejahtera), Camelia Habiba (Komisi B/Fraksi Apkindo), Khusnul Khotimah (Komisi D/Fraksi PDIP), serta -Musrifah (Komisi C/Fraksi PKB). Mereka dijadwalkan balik ke Surabaya pada 28 September 2013 lalu.
Ke lima anggota dewan ini berangkat, bersama pejabat Pemkot, guna menghadiri sejumlah kegiatan terkait kerjasama sister city antara Busan Korsel dengan Surabaya.
Pada hari Senin (23/9/2013) lalu, lima anggota dewan yang lain, menyusul berangkat ke Xiamen, China. Mereka adalah Rio Dharma Imanri Pattiselano (Sekretaris Komisi B/FPDS), Rusli Yusuf (anggota Komisi B/FPD), Erick Reginal Tahalele (anggota Komisi A/FPG), Alfan Khusaeri (Wakil Ketua Komisi A/FPKS), dan KH Moch Naim Ridwan (anggota Komisi A/FPKB). Rombongan kedua yang telah kembali di Surabaya, pada 29 September 2013 lalu, juga diikuti oleh para pejabat Pemkot Surabaya dengan alasan sama yaitu untuk kepentingan sister city.
Di bulan Oktober 2013, empat orang anggota DPRD kota Surabaya, yaitu Masduki Toha (anggota Komisi D/FPKB), Junaedi (Sekretaris Komisi D/FPD), Eddie Budi Prabowo (Wakil Ketua Komisi D/FPG), dan Fatkur Rohman (anggota Komisi D/FPKS), sudah antre untuk terbang ke Kitakyusu Jepang. Jadwal kunker tersebut telah dimulai tanggal 6 sampai 12 Oktober 2013, dengan alasan sister city dan turut mendampingi sejumlah pejabat Pemkot Surabaya.
Padatnya jadwal Kunker ke luar negeri para anggota dewan Surabaya ini sangat mengecewakan para konstituens yang memilihnya dahulu. Hal ini sudah bisa dipastikan, karena mereka dipilih oleh rakyat untuk memperjuangkan kepentingan dan aspirasi rakyat. Namun faktanya para legislator ini malah keblinger, berebut kunker ke luar negeri yang sebenarnya hanya klenceran saja.
Sejumlah pengamat akademisi politik pemerintahan dari berbagai universitas ternama di Surabaya menyayangkan hal ini. Para pengamat ini mengingatkan, tugas para anggota dewan adalah mengawasi kinerja eksekutif, bukan malah kompromi untuk menghabiskan anggaran rakyat dengan memperbanyak kegiatan Kunker ke luar negeri.
Seharusnya para wakil rakyat ini berani dengan lantang menolak ajakan Kunker sistercity, yang tidak ada korelasinya dengan kepentingan rakyat. Bahkan bila perlu, para wakil rakyat ini, mencoret anggaran kunker ke Luar Negeri yang diajukan oleh pihak Eksekutif.(swanto/r7)