Kurang Menghargai Jerih Payah Pahlawan

 Featured, Kesra

Surabaya, (DOC) – Peringatan Hari Pahlawan 2012 diperingati segenap rakyat Indonesia. Setelah 67 tahun Indonesia merdeka, rentetan sejarah perjuangan para pahlawan kembali dikenang dalam bentuk kegiatan ceremonial termasuk upacara bendera. Ini untuk mengenang perjuangan Arek Suroboyo pada 10 Nopember 1945.

Perjuangan itu dalam rangka mempertahankan kedaulatan negara yang kala itu baru diraih dalam hitungan bulan. Dalam konteks nasional, peringatan Hari Pahlawan juga dibarengi dengan penganugerahan gelar Pahlawan Nasional terhadap bapak Proklamator RI Soekarno dan Moch Hatta yang baru ditetapkan oleh pemerintah.

Penganugerahan gelar sebagai wujud apresiasi dan penghargaan dari pemerintah atas jasa kedua bapak pendiri bangsa. Sayangnya oleh beberapa pihak, pemberian gelar itu dinilai terlambat. Sekaligus memunculkan pertanyaan apakah hal ini mengindikasikan masih lemahnya penghargaan bangsa ini terhadap para pahlawan dan tokoh pejuang yang telah berjasa banyak dalam meraih kemerdekaan bangsa ini?

Masih minimnya perhatian pemerintah ini satu sisi telihat dari masih banyaknya para veteran yang ironinya hingga kini tak dapat hidup secara layak.

Menurut Simon Lekatompesy, Ketua Fraksi PDS DPRD Surabaya, pemerintah memang perlu memberikan perhatian lebih kepada mereka para pejuang yang telah berjasa besar bagi bangsa ini. Perhatian atas nasib mereka yang hingga kini belum sepenuhnya tercukupi kesejahteraannya.

“Penghargaan itu wajib kita berikan kepada mereka yang telah berjasa dalam perjuangan kemerdekaan dan membangun bangsa. Sampai saat ini kita terus mendorong agar ada perhatian lebih dari Pemkot Surabaya terhadap para pahlawan, tokoh-tokoh pejuang bangsa, para veteran maupun tokoh-tokoh masyarakat yang telah memberikan kontribusi bagi kemajuan bangsa ini. Tapi sampai saat ini belum maksimal diberikan,” ujar Simon.

Salah satu hal yang menunjukkan perhatian pemerintah adalah penyediaan perumahan bagi mereka, para veteran, yang menurut Simon perlu dipikirkan pemerintah. “Kita berharap agar ada care dari Pemkot Surabaya, kita banyak punya lahan yang bisa dibangun perumahan bagi mereka,” harap Simon.

Di Surabaya, veteran perang itu jumlahnya masih ribuan. Menurut data Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Markas Cabang Kota Surabaya, jumlah veteran yang sampai saat ini masih hidup mencapai 2.400 lebih veteran.

Melalui LVRI itulah, mereka tetap bisa menjalin komunikasi antar-veteran atau antara veteran dengan warga atau antara veteran dengan pemerintah. Namun sudahkah semua memberikan perhatian ke veteran? Apakah pemerintah juga memiliki perhatian lebih terhadap veteran ini?

Menurut Ketua LVRI Markas Cabang Kota Surabaya H Hartoyik, perhatian pemerintah baik di tingkat pusat, provinsi sampai kota saat ini sudah relatif baik. Artinya, veteran ini tak lagi dikesampingkan atau dipandang sebelah mata.

“Sejak 5 tahun lalu, LVRI Surabaya sudah difasilitasi Pemkot Surabaya sebuah kantor yang bermarkas di Jl Mastrip 45. Keberadaan kantor ini sangat aspiratif bagi kaum veteran. Untuk perawatan kantor itu, tetap dilakukan Pemkot Surabaya,” ujar Hartoyik.

Dijelaskan, perhatian yang diberikan pemerintah itu lebih banyak pada organisasinya. Sementara untuk pribadi, menurut Hartoyik jelas tak mungkin. Perhatian secara pribadi yang diberikan pemerintah saat ini, biasanya diberikan saat peringatan Hari Kemerdekaan RI dan Hari Pahlawan saja. Namun itu, sudah dianggap cukup dan sangat menghargai para veteran.

“Jumlah kita sangat banyak, jadi penerima tali asih yang biasa diberikan pemerintah saat HUT RI dan Hari Pahlawan selalu digilir. Biasanya setiap acara kita mengurus 50 veteran secara bergantian untuk menerima tali asih baik dari kota maupun dari Jatim. Kalau untuk pemberian perumahan, biasanya hanya diberikan kepada cacat veteran. Penerima ini pun harus mendapat pengakuan dari pusat, sehingga penyalurannya tak salah orang. Cacat veteran itu harus mengantongi surat dari Departemen Pertahanan RI,” urai Hartoyik. (k5/r4)