Lambatnya Pelayanan Pasien Bayi di Benarkan Kepolisian

Surabaya,(DOC) – Perdebatan sengit mewarnai hearing soal dugaan penolakan pasien bayi di RSUD Dr Soewandhie. Dalam dengar pendapat yang digelar di Komisi D (pendidikan dan kesra), Selasa (3/12/2013) kemarin, pihak Polsek Simokerto bersikukuh bahwa salah satu rumah sakit milik pemerintah kota (pemkot) Surabaya itu, lamban dalam menangani pasien.
Kanit Reskrim AKP Moch Arobi menuturkan, sebelum di bawah ke rumah sakit Soewandhie, pasien sebelumnya sempat di bawah ke rumah sakit Al-Irsyad. Langkah itu ia tempuh untuk memberikan pertolongan pertama bagi bayi malang tersebut.
Namun dengan alasan untuk mempermudah koordinasi, pihaknya memutuskan membawah ke rumah sakit milik pemerintah atau tepatnya RSUD Dr Soewandhie. Sayangnya, selama menunggu di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) ia bersama empat anggotanya tidak mendapatkan perlakuan yang semestinya.
Sebab pihaknya merasa dipersulit dengan birokrasi yang ada di salah satu rumah sakit milik pemkot itu. “Kita sampai Soewandhie sekitar pukul 03.00 WIB. Tapi dengan alasan mencari ruangan, kita diminta menunggu sampai satu jam lebih. Padahal dalam pikiran kami, bayi yang baru lahir itu harus mendapatkan pertolongan secepatnya,” ungkap AKP Moch. Arobi.
Selama menunggu di ruangan IGD, Moch Arobi mengaku diterima oleh salah satu dokter yang belakangan diketahui bernama dokter Lukas. Tapi karena tidak kunjung ditangani, salah satu anggotanya Wahyu Rakasakti menyarankan agar dicarikan rumah sakit yang lain. Waktu itu pihaknya langsung mebawahnya ke RSUD Dr Soetomo.
“Waktu itu kan kita diterima di IGD. Salah satu anggota saya bilang, jika terlalu lama di sini takutnya bayi yang baru lahir ini akan terinveksi banyak penyakit. Makanya, kita langsung melarikan ke RSUD Dr Soetomo, tanpa pamit ke petugas di RSUD Dr Soewandhie,” terangnya.
Ironisnya, bukannya langsung ditangani pihak rumah sakit Dr Soetomo malah sibuk menanyakan siapa yang akan bertanggung jawab selama bayi tersebut dirawat. Bahkan ketika didesak agar pasien segera ditangani terlebih dahulu, pihak rumah sakit kembali bersikukuh agar proses administrasinya diselesaikan terlebih dahulu.
Selama di Dr Sotemo, lanjutnya, dokter hanya memegang mulut dan hidung bayiyang lahir dengan bobo 2,46 kg dengan panjang 40 cm itu. Dia bersama anggotanya bahkan tidak dipersilahkan duduk oleh dokter. Karena proses berbelit, akhirnya pihaknya memutuskan membawah bayi yang diperkirakan lahir pukul 01.00 itu kembali ke rumah sakit Al Irsyad.
“Di Al Irsyad, bayi langsung ditangani dan dimasukan ke inkubator. Sebab saat itu, kondsi bayi sudah mulai membiru. Makanya, kalau ada berita yang menyebutkan saya menolak tanda tangan itu tidak benar. Dan saya ingin melihat orangnya langsung,” tandasnya.
Mendapati pernyataan demikian, Plt Direktur RSUD Dr Soewandhie, Febria Rachmanita kembali menegaskan bahwa pihaknya tidak menolak pasien bayi tersebut. Menurutnya, dalam penanganan bayi itu, sudah sesuai dengan prosedur yang berlaku. Misalnya, dengan mencari ruangan atau tempat bagi bayi tersebut.
“Saya pastikan, pelayanan yang diberikan dokter Lukas sudah sesuai prosedur. Bayi nyampai ke Kita pukul 05.00 WIB. Rencananya setelh itu bayi akan ditimbang,” tandas Febria Racmanita.
Dokter Lukas menambahkan, ketika tiba di RSUD Dr Soewandhie, kondisi bayi dalam keadaan masih digedong. Wakut itu, dirinya langsug membuka gedong hingga sebatas dada dan memeriksanya untuk memastikan ada tidaknya gejala sesak nafas.
“Saat itu bayi dala kondisi sehat. Setelah itu saya menelepon untuk menanyakan ruangan. Tapi pas keluar, bayi sudah tidak ada di ruang IRD dan tinggal Pak Arobi saja,” tutur Lukas.
Mendengar keterangan dari dokter Lukas, AKP Moch Arobi secara tegs membantahnya. Menurutnya, Selama di RSUD Dr Soewandhie bayi tidak diperiksa sama sekali oleh dokter Lukas.
“Anda jangan bohong. Saya waktu itu ada di dekat anda. Saya melihat bayi tidak diapa-apakan,” kata Arobi dengan nada Tinggi.
Tidak terima dengan pernyataan AKP Moch Arobi, dokter Lukas langsung berdiri dan bersumpah bahwa diranya telah melakukan pemeriksaan awal terhadap bayi tersebut. meskipun dia hanya membuka gedongnya sebatas dada.
Melihat kondisi yang semakin memanas, salah satu anggota Komisi D Masduki Toha menegaskan dalam forum hearing kali ini bukan mencari siapa yang salah dan benar. Ia berharap, lewat kasus ini ke depan kejadian serupa tidak terulang.
“Ada banyak manfaat yang dapat kita ambil dalam kasus ini,” tegas Masduki Toha.
Anggota Komisi D lainya, Yayuk Puji Rahayu menilai kasus ini telah menampar semua pihak. Sebab selama ini RSUD Dr Soewandhie dikenal sebagai salah satu rumah sakit kebanggaan milik Kota Surabaya. “Makanya, sering saya ingatkan agar pelayanan di Soewandhi lebih ditingkatkan,” pungkas Yayuk.(k1/r7)