Lapor Ke FIFA Kasus Mendiang Diego Mendieta

 Olahraga

Hoofdorp , (DOC) – Meninggalnya striker klub Divisi Utama, Indonesia Super League (ISL) Persis Solo, Diego Mendieta, bukan saja heboh di negeri kita, tapi juga menyedot banyak perhatian media-media asing.

Fédération Internationale des Associations de Footballeurs Professionnels (FIFPro) atau Asosiasi Pesepakbola Profesional, yang turut membantu memulangkan jenazah Mendieta ke Paraguay, juga mengecam musibah ini.
Mendiang Mendieta menghembuskan nafas terakhirnya pada Senin (3/12/12) malam, usai dirawat beberapa hari di Rumah Sakit Dr Moewardi, Solo, Jawa Tengah.
Tragisnya, menjelang kepergiannya, Mendieta mengalami kesulitan ekonomi, menyusul gaji yang berjumlah Rp. 100 juta, belum dibayarkan oleh pihak klub.

“Apabila kabar soal Diego (Mendieta) benar ada hubungan dengan permasalahan penunggakan gajinya di klub, ini jelas sangat memalukan. Ini menjadi hal yang sangat memalukan bagi persepakbolaan profesional di Indonesia,” kata Sekjen FIFPro Divisi Asia, Frederique Winia dalam situs resmi FIFPro.

Menurut Winia, Pihaknya memang banyak mendengar kasus soal gaji pemain yang tak dibayarkan oleh pihak klub selama berbulan-bulan. Namun, untuk kasus mendieta, baru pertama kali. “Saya sama sekali belum pernah mendengar cerita tentang seorang pemain yang tengah sakit dan diabaikan oleh klubnya,” tambahnya.

Mendieta didiagnosa terserang virus Cytomegalovirus hingga ke otak. Kondisinya kian memburuk pada Senin malam, hingga ia harus pergi selamanya di ruang ICU. Jenazah berada di ruang jenazah Rumah Sakit Dr. Moewardi selama beberapa hari. Melalui proses panjang, akhirnya jenazah Mendieta bisa dipulangkan ke negara Asalnya, Kamis(6/12/12) pagi kemarin.
“Menurut saya, klub dan federasi sepakbola Indonesia menyadari mereka telah gagal, dan harus memberikan penjelasan terutama kepada keluarga Diego. Upaya terakhir klub adalah membayar tunggakan gaji kepada pihak keluarga: istri, dan ketiga anaknya (Enzo, Cielo Belin, dan Gaston),” lanjut Winia.

Setelah jenazah Mendieta kembali ke Paraguay dan dimakamkan disana, FIFPro akan menindaklanjuti kasus ini ke organisasi persepakbolaan dunia. Apalagi sebelumnya FIFPro juga mendapat laporan dari Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI) yang juga kesulitan memulangkan jasad Mendieta karena terbentur biaya yang mahal. Ini akan menjadi catatan penting yang harus diperhatikan. Bukan soal biaya pemulangan yang ditanggung FIFPro yang menjadi persoalan, namun lebih pada tuntutan tanggung jawab dari pihak pihak terkait.
“Usai prosesi ini, dan dokumen kami terima, maka kami akan membawa permasalahan menyedihkan ini agar menjadi perhatian bagi FIFA,” tandas Winia.(OZ/R7)