Lestarikan Mangrove, Negara se-ASEAN Gelar Seminar di Surabaya

Surabaya, (DOC) – Kota Surabaya kembali didaulat sebagai tuan rumah kegiatan berskala internasional. Setelah pada Juli lalu sukses menyelenggarakan pertemuan Citynet, kini Kota Pahlawan menjadi jujugan peserta seminar mangrove se-Asia Tenggara.

Acara tersebut dibuka oleh Dirjen Bina Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) dan Perhutanan Sosial, Kemenhut, Hilman Nugroho di Hotel Singgasana, pada Senin (5/11) dan akan berlangsung hingga 10 Nopember mendatang. Tema yang diangkat yakni 1st Regional Shared-Learning Workshop: Mangrove Conservation as a Part of Coastal Management in Southeast Asia (Seminar Pembelajaran Regional Pertama: Konservasi Mangrove Sebagai Bagian dari Pengelolaan Pesisir di Asia Tenggara).

Sebanyak 50 peserta dari negara-negara ASEAN, diantaranya Brunei, Filipina, Kamboja, Malaysia, Myanmar, Singapura, Vietnam, Thailand, Timor Leste, dan Indonesia siap mengikuti seminar yang diselenggarakan JICA (Japan Internasional Cooperation Agency) bekerja sama dengan Kemenhut RI dan Pemkot Surabaya ini. Masing-masing delegasi yang hadir mewakili unsur pemerintah, praktisi, LSM, dan akademisi.

Dikatakan Bedjo Santoso, Direktur MECS (Mangrove Ecosystems Conservation and Sustainable Use) setiap perwakilan masing-masing negara akan mempresentasikan kondisi mangrove yang ada di wilayahnya. Kemudian pada hari ke-2, Selasa (6/11), para peserta diajak studi lapangan ke kawasan mangrove seperti yang ada di Kecamatan Gununganyar, Sukolilo, dan Ekowisata Mangrove Wonorejo. “Setelah itu, dilakukan diskusi kelompok guna membicarakan permasalahan yang ada serta mencari solusi bersama,” papar Bedjo.

Dalam sambutannya, Walikota Tri Rismaharini menyampaikan seklumit sejarah tentang mangrove di Surabaya. Pada 1978, luas lahan tanaman bakau seluas 3.300 hektare. Namun sekitar tahun 1985 luasan tersebut mengalami penyempitan lantaran berubah menjadi pemukiman yang menyebabkan lahan mangrove tersisa 2.500 hektare.

Tak ingin tinggal diam, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya segera mengambil langkah dengan menjadikan kawasan Pamurbaya sebagai kawasan konservasi mangrove. Berbagai upaya telah dilakukan termasuk rehabilitasi, pendidikan lingkungan, dan juga pelatihan pengembangan hasil olahan produk mangrove.

“Pemkot Surabaya berkomitmen menjadikan kawasan mangrove sebagai kawasan konservasi. Langkah itu semakin diperkuat dengan adanya payung hukum Perda Nomor 3 Tahun 2007 Tentang RTRW Kota Surabaya. Komitmen tersebut tetap berkelanjutan dan akan dituangkan dalam Perda berikutnya,” ujar walikota.

Tak berhenti sampai di situ, Pemkot Surabaya juga sudah mengalokasikan anggaran tahun 2013 untuk pembebasan lahan yang kini dikuasai pengembang. Ke depan, Risma menjelaskan pihaknya berencana lebih mengembangkan kawasan mangrove yang ada di Gununganyar. Tetapi, ia tak ingin gegabah agar pengembangan yang dilakukan tidak merusak mangrove yang ada di sana.

“Kami ingin berhati-hati, termasuk dalam penggunaan perahu. Rencananya, nanti yang digunakan adalah perahu tenaga listrik agar lebih ramah lingkungan,” imbuh Risma usai acara.

Sementara Dirjen Bina DAS dan Perhutanan Sosial, Hilman Nugroho menilai, kegiatan seminar semacam ini serta upaya-upaya yang telah dilakukan Pemkot Surabaya telah sejalan dengan program-program Pemerintah Pusat, utamanya terkait pelestarian mangrove. Bahkan, Pemerintah RI telah mencantumkannya ke dalam RPJM Nasional yang ditandatangani oleh Presiden. “Tahun 2013, kami menargetkan 15.000 hektare lahan untuk perbaikan mangrove. Itu sudah tercantum dalam RPJM Nasional” ungkapnya.

JICA memiliki sejarah panjang terkait kerjasama dengan Pemerintah Indonesia dalam bidang konservasi mangrove. Selama 20 tahun, JICA bersama Kemenhut telah mengembangkan pengelolaan mangrove di beberapa daerah di Indonesia. Termasuk dengan berdirinya MECS yang merupakan proyek kerjasama JICA-Kemenhut yang membidangi mekanisme pembelajaran dan berbagi pengalaman terhadap konservasi mangrove, serta pemanfaatannya secara berkelanjutan di wilayah negara-negara ASEAN.

“Setiap negara mempunyai tantangan dalam konservasi mangrove. Namun, negara-negara ASEAN yang notabene kondisi ekologinya serupa, dapat saling bertukar pengalaman,” kata Takaaki Oiwa, Senior Representative of JICA Indonesia Office.

Oiwa berharap, dari diskusi-diskusi dalam seminar ini dapat diperoleh solusi pelestarian mangrove yang efektif, yang dapat diterapkan di masing-masing negara, khususnya di Asia Tenggara. (k4/r4)