Limbah 5 Industri Diduga Cemari Kali Surabaya

Tidak ada komentar 458 views

Surabaya(DOC)-Lima industri, yakni  PT Mitra Saruta, PT Merak Jaya Beton (MJB), PT SNAP/Global Interinti Industry, PT Tjiwi Kimia, dan PT Mount Dreams Indonesia (MDI) diduga mencemari Kali Surabaya. Ini hasil sidak tim Patroli Air yang mengambil sampel kelima industri tersebut

KIoordinator Tim Patroli Air Jatim, Imam Rochani mengatakan, dari kelima industri, tim lebih menekankan pada dua industri, yakni Mitra Saruta dan Global Interinti Industry. Menurut dia, Mitra Saruta merupakan industri yang telah melengkapi izin dan memiliki IPAL (instalasi Pengolahan Air Limbah). Namun masih berpotensi melanggar, karena banyak pipa siluman yang tidak diperlukan masih terpasang di sekitar IPAL.

Untuk Global yang merupakan pabrik minyak goreng juga diambil sampel limbahnya, karena industri di kawasan Kedurus itu tidak memiliki IPAL untuk mengolah limbahnhya. Alhasil, keduanya langsung diambil sampel limbahnya dan dibuatkan beriata acara pengambilan sampel limbah.
“Mitra Saruta dan Global akan masuk dalam pembinaan tim patroli melalui BLH Jatim,” ujarnya.

Adapun kadar limbah Mitra Saruta dari uji pH meter diketahui pH 6,35 dengan suhu 330C diambil pada pukul 13.00 WIB. Sedangkan Global pH 6,87 dengan suhu 340C diambil pada pukul 14.53 WIB.

Selain itu, untuk Tjiwi Kimia yang berada di wilayah Sidoarjo diambil sampel limbahnya sekitar pukul 11.50 WIB. Dari uji dilokasi, pH limbahnya 6,78 dengan suhu 290C. PT MDI diketahui membuang limbah dan dari sampel limbah cair yang diambil kadar pH nya 6,61 dengan suhu 340C pada pukul 11.00 WIB. Untuk sampel limbah MJB diambil pukul 10.05 WIBdan diketahui pH nya 9,57 dengan suhu 29,70C

Untuk kegiatan sidak kemarin, lanjut Imam, dilakukan seperti sidak pada 27 September lalu, yakni tim dibagi menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama menyusuri Kali Surabaya dari hulu, yakni wilayah Jetis Mojokerto, kelompok kedua dari hilir yakni wilayah Gunung Sari Surabaya, dan ketiga menggunakan jalur darat.“Dengan membagi tim patroli menjadi tiga kelompok, hasil perolehan lebih maksimal. Tim bisa memantau dalam waktu yang bersamaan, baik di sungai dari sisi hulu dan hilir, serta dari sisi darat,” katanya. (R-12/R9)